"Ada jalan yang kusebut namanya kenangan, sebab muaranya buntu, di mana cinta dan luka kerap bertemu dalam keadaan rancu" — David Tandri

Monday, February 11, 2013

Tiga Postulat Cinta

“Kesetiaan adalah jalan terpanjang menuju tabir kemustahilan cinta."


Mungkin ada benarnya ucapan temanku, bahwa cinta umpama jerat yang nikmat. Ragam warna dan rasanya dapat bersepadu menjadi satu, mencipta letup asmara, lantas memercikkan kembang cita bahagia. Paling tidak, itulah bunga kenikmatan yang terwujud pada tiap titik permulaan cinta, meski tak terpungkiri—saat jerat cinta mengarah sesat—kerap pula ia merontakan liuk luka. Ah cinta, memang sebenar rumus yang membingungkan.

Baiklah! Katakanlah saat di mana cinta mulai menyusup ke katup hatimu dan melabuhkan sececah arti, berharap dapat lekat mengabadi. Namun, ada pula kalanya ia hanya berupa sesiut angin yang lembut—mungkin sekadar bergetar lalu pudar. Apalagi saat kutub cinta bertolak badan, namun ubun waktu nekat membirukan rindu! Oh, maka cinta laksana pusar beliung yang mampu menumpah-hamburkan perasaan. Membiarkanmu hidup meraut derit, sedang hati berkaca-kaca sendiri dikulai sunyi.

Begitupun menyeramkan, temanku masih berkeras mencari jalan terbaik menuju perantauan cintanya. Tak putus ia melesatkan galah semangat, walau menurutnya, lebih sering ia terhempas ke cadas kegagalan. Lantas, apakah puing cinta yang retak musti lagi dirangkai ulang sebagai perca harapan? Ah, tak jelas!

“Sungguh, aku tak jelas harus bagaimana, Ellisa. Please, bantulah aku!”

Hmm, aku bergeming saja, mengunci kata. Bukannya apa-apa, tapi temanku ini terus ngotot percaya, bahwa hanya wanitalah yang bisa memahami wanita. Sebab sebadan-sepengertian, katanya. Oalah! Kujewer daun kupingnya hingga kepalanya layu dan oleng. Memang, belakangan wadah pikirannya sudah terlalu keruh hanya karena terjebak sengketa batin tentang persoalan wanita. Ya! Wanita!

“Kau tahu, Ellisa, aku tak bisa lagi berlama-lama menunggu. Please! Aku tak punya banyak waktu lagi!”

Aduh, Dave....

***
14 Februari tinggal seunduran hari. Hari di mana para lelaki sibuk menyulam akal dan merajut gaya demi menjala hati seorang wanita. Aku adalah salah satunya! Sudah lama aku mengasuh debur kekagumanku pada sosok wanita itu, meski sadar, kekaguman tanpa aksi tak ubahnya buih repih yang mudah dikandaskan tempias ombak. Imbasnya, kadang hatiku letih ditekuk gelisah, seakan mengayak-ayak serpih pertanyaan yang berjawab entah.

“Masalahnya, aku bukan satu-satunya lelaki yang mengejarnya!” begitu aku menerangkannya pada Ellisa. Ah, Ellisa, wanita yang sudah kukenal sejak kanak, tapi kadang sukar juga meluluhkan kerak hatinya yang bengal. Tak terhitung berapa kali sudah kami bersilat pandang soal wanita. Menurutnya, setiap wanita punya cagak minat yang berbeda. Oleh karena itu tak bisa disepadankan. Padahal aku tahu, Ellisa pun berteman dekatnya dengan wanita itu. Tapi selalu...

“Dekat bukan berarti sependapat,” kilahnya.

Aduh, Ellisa....

***
“Apa kau bilang?” pekik lelaki itu setengah terperangah.

“Apa kupingmu sudah bocor? Biar kutegaskan sekali lagi! Jika kau ingin aku mempertimbangkanmu sebagai kekasihku, kau harus memberiku sebuah kejutan yang memenuhi tiga syarat khusus di hari Valentine nanti.” Wanita itu menggeser dudukan tubuhnya, berupaya merentang jarak dengan lelaki semeter-tujuh-puluhan itu.

“Tiga...?” Lelaki itu termangu sejenak, “saja...? Bereslah! Apa itu?”

“Paling mahal, paling unik dan paling tak terlupakan!” tukas wanita itu sambil memuntir-muntir suwir rambutnya, tanpa sekalipun berjabat pandang dengan lelaki itu.

“Ah, kalau itu gampanglah urusannya!” Cuma tiga...! Berlipat-luap pun kujadikan, batinnya. Soal mahal? Ah, kalau cuma berbilang juta tak ke manalah. Kaji-kaji dulu dong siapa orangnya: Dios Tandri! Setali marga dengan konglomerat tersohor di seantero kota, Demerick Tandri! Paling hanya sesisip-dua sisip dari perut tabungannya. Tinggal sebut, mau zamrud, jadeite, ruby atau sapphire? Bebas pilihlah! Terus apa, kepingin unik? Oke-oke, mungkin sepahatan patung granit berukirkan dirinya akan sanggup membuatnya berdegap batin?

Lagi apa? Paling tak terlupakan? Oh,
gee! Bagaimana mungkin wanita itu dapat melupakanku jika saban hari-bulan kulampiaskan burai hartaku ke tengadah tangannya?

“Gampang? Jangan petentengan! Tanpa aku terkesan, jangan harap kau dapat berlama-lama nyemak di ruangan tamuku! Titik!”

Alamak...!

***
“Heran, dari sekian banyak lelaki yang coba merayuku, kenapa hanya lelaki itu yang terdiam waktu kugertak?”

“Siapa? Dios maksudmu?”

“Bukan, bukan Dios. Tapi Dave...,” ujarku sembari melipat kerutan di dahi, “ia sama sekali tak berdebat denganku. Ia... terlihat pasrah.”

“Mungkin kau membuatnya terkejut.”

“Terkejut? Please deh, Ellisa! Aku baru—”

Please deh, Cellyne! Mengapa harus tiga?” sergah wanita itu.

“Hei, hei, kau tahu aku bukan jenis wanita kemaruk seperti itu. Aku hanya menguji mereka.”

“Menguji? Walau kau tahu tak satu pun yang akan kau luluskan?”

“Sebab mereka juga hanya bermain-main denganku. Kau tahu itu bukan? Semua lelaki di dunia ini adalah komodo!” dengusku ketus.

Aku mulai dijerang kesal. Sia-sia saja aku bersaring kisah dengannya. Sungguh, berteman berlarut tahun dengan Ellisa, tak membuat wanita itu senalar-senubuat denganku. Buktinya, selain gagasan tak ingin menikah cepat, tak satu pun arus nalar kami yang pernah berujung semuara. Konon lagi hendak bernubuat soal cinta? Jeez!

“Tidak! Ia bukan tipe pria melata seperti yang kau bayangkan! Tidak dengan Dave!”

“Kau tak bisa menebak apa pun, Ellisa!”

“Paling tidak bisa kau rasakan!”

Tidak...! Bisa...! Tidak...! Bisa...!

“Dasar otak cekak!”

“Dasar mulut perot!”

***
Tiga! Tiga kali sudah Ellisa berusaha menggedor terali hati Cellyne. Namun ampun, bukannya pulang meraup secercah kabar, keduanya malah terlibat baku tengkar. Aku maklum saja, sebab ini tergolong masih ringan. Teringat dulu, saat keduanya kecantol hati pada satu sosok yang sama, maka sengitnya pergesekan batin tak bisa dihindarkan. Untunglah, demi menyelamatkan simpul-kait pertemanan mereka, keduanya akhirnya bersepakat menebas benih kasih masing-masing. Walau diam-diam, pada suatu pejam malam, Ellisa menyungkurkan juga derik isaknya ke pelataran rumahku. Aih, wanita memanglah sejatinya wanita. Hati dan mata kerap bersilang rasa.

Kondisiku kini bahkan jauh lebih rumit. Bertarung melawan Dios yang merupakan pucuk mahkota dari gugus kerajaan “Tandri” adalah bagai pertaruhan pungguk dengan bulan. Belum lagi kandidat-kandidat teras asal keluarga bonafide lainnya. Alih-alih bertanding gaya dan kemewahan, merebut serongga bilik hati Cellyne bahkan lebih-lebih menyerupa sebentang harapan yang terjal.

“Sudahlah, Dave, lupakan saja,” nasihat Ellisa padaku.

Aku mengerti niat baik Ellisa. Ia hanya takut aku karam di kubang luka. Namun, bukankah cinta adalah jerat yang nikmat? Semakin kau terjerat, semakin kau giat hendak menggeliat. Maka memang, jika rahim takdir enggan kikir dan jabang nasib belum raib, biar sajalah kelana cintaku pergi ke mana ia dikayuh angin, atau disesap ombak, atau diayun-endapkan lautan; atau barangkali habis sekalian—gugur digarami kepedihan!

***
14 Februari 2013. Setahun pun berselang….

“Bagus! Bagus! Kau enak-enak liburan ke Maldives dan meninggalkanku berkarat sendiri di sini.” Suara wanita itu terdengar renyah dan bingar di telepon, walau koneksi yang tersambung adalah bertaraf roaming.

“Makanya, cepat-cepat kau gandeng pacar, Sa! Kalau tiga syarat terlalu banyak, cukup satu saja kau buat.”

“Lalu? Melarikan diri tepat di hari Valentine, seperti yang kau lakukan tahun lalu?”

Ops! Aku terpekur sejenak, lalu ikut memburaikan ledak tawa. Nian tak terasa, sudah genap setahun waktu menolehkan kenangan, meski terkadang, masih ada saja lelehan lamun yang gemar mencucuri cawan ingatan. Ya, tahun lalu, persis di Hari Valentine, aku memang sengaja mengungsi diri dari riuh-pikuk pernyataan gombal yang menurutku, hanya menghambur-hamburkan kalimat berpenghangat sesaat. Seperti halnya Dios-Dios berperangai boros yang hanya mampu memperlakukan cinta layaknya sebuah ajang timbang-tawar dagang. Oi, bukan tanggung pula gelimang kembang dan ruah hadiah yang bersimpuh di halaman rumahku. Mulai dari sejuntai kalung “Heart of The Kingdom Ruby” berlabel Garrard, sepasang buah anting Harry Winston, selingkar cincin bertoreh berlian dari Bvlgari, serta segerai gaun malam berhias korsase mawar biru besutan Vera Wang, hingga boneka Teddy berukuran jangkung! Dan yang paling menyesakkan mata adalah sejulang besar patung berkikirkan emas yang terpacak timpang di pojokan rumahku.

Tak seketip pun dari hadiah itu kusisihkan di “meja penghakiman”, melainkan kusodorkan seluruhnya kepada Ellisa. Maklum, waktu itu belum ada seulas kado pun dari lawan jenis yang memintas ke berandanya. Jadi kupikir, selain untuk mengipas-ngipas lengang hatinya, akan lebih menarik jika ia yang mengenakan jurai perhiasan itu. Eh, siapa tahu, terik pesonanya malah dapat mendulang jentik-siut dari lelaki.

Namun, kenyataan dan harapan malah bertolak jalan, ketika Ellisa dengan raut wajah mendung dan buram memaksaku menghabiskan sekerat surat yang ditinggalkan padanya. Surat itu tak bersampul, pun tak bertera nama, selain hanya menguraikan tiga bait miris yang menohok ulu batinku…

1. Paling mahal? Mungkin aku tak dapat menghadiahkanmu rantai-batu berkilau maupun logam cinta yang mewah, namun adakah yang lebih mahal dari waktu? Sebab hanya waktulah yang dapat mendasari sebuah cinta untuk setia dan dianggunkan sampai selama-lamanya masa.
2. Paling unik? Mungkin aku tak dapat memberimu kejutan yang hebat di Hari Valentine ini, namun adakah yang lebih mengesankan selain dari tabir-tabir batin yang terbuka dan mengangakan kejujuran jiwa? Saat kau mulai menyikapi cinta dengan cara mempelajarinya, maka cinta akan menunjukkan kepadamu rahasia-rahasia unik yang paling tak terduga.
3. Paling tak terlupakan? Mungkin aku tak dapat memaksamu untuk terus mengingatku, namun jika kau memberikan kesempatan kepada cinta untuk mewujudkan hal-hal yang mustahil, adakah yang lebih tak terlupakan selain sepilihan kenangan yang tercipta di hilir jejak kehidupan?


Aku berlinang keharuan. Hatiku pecah karang, melantakkan riak-riak kesedihan. Jujur, bertahun aku menuai umpan-rayu dari lelaki, belum ada sepijar pun upaya yang sanggup mengurai sekat rabun di hatiku. Tapi, surat ini pengecualian! Meski tanpa polesan materi, kilau guratnya mampu menyorot hingga hulu hati. Sejak itu barulah aku sebenarnya sadar, ternyata ujian terberat bagi cinta bukanlah luap uang, melainkan bibit waktu. Ya, sumpah, aku mulai paham akan segalanya, seperti halnya aku juga paham, dari mana gerangan muasal surat ini berpangkal. Pasalnya, menyimak latar pergaulan Ellisa yang jarang terusik hilir-mudik lelaki, siapa lagi sosok yang sanggup menyarangkan pinta pertolongan ke kepal hati Ellisa selain Dave?

“Apa juga kubilang! Ia tidak main-main, bukan?” goda Ellisa lagi di telepon.

“Ya. Kali ini aku mesti mengaku kalah darimu.”

“Makanya, kau juga jangan main-main dengannya. Barang mahal itu,” sindir Ellisa, disusul ringkik tawa khasnya. Aku sendiri juga tak kuasa mengeram pendar tawa. Apalagi nun jauh dari seberang pantai, kusaksikan sesosok menggemaskan tengah berjalan menyongsongku. Oih, pada seiris tipis bibirnya bahkan menggayut sekuntum senyum yang ranum. Senyum yang kemudian mampu membuat hatiku tegak untuk berseru pada Ellisa:

“Ya! Mahal, sekaligus langka!”

***
Tahukah kau, pertanyaan apa yang pertama sekali dilontarkan Cellyne kepadaku di telepon, sepulang dari rumah Ellisa, setahun silam?

Mengapa tidak kau sendiri saja yang mengantarkan surat itu kepadaku?”

Yap, pertanyaan yang jeli! Tapi sabar, jangan terburu menuduhku pecundang atau bernyali kerdil. Hanya, demi semata-mata menimbang kecepatan penyampaian pesan, aku musti memilih Ellisa, sebab hanya ia yang mampu memastikan Cellyne membaca surat itu. Lagi di luar sana, bukankah fakta sudah cukup mengajarkan, bahwa cinta kerap menjelma hampa hanya karena tak terbaca? Nah, aku tak ingin meniru kelalaian yang serupa. Itu sebabnya, aku ingin ia dapat membaca, mencerna, membedah sebanyak mungkin keterangan cintaku, agar kelak perjalanan hati ke hati tak lagi berjembatankan keraguan.

Nyatanya, kini kami telah saling yakin, saling pilin. Saling bersulang kasih di hadapan simpuh laut. Barangkali, inilah buah keberuntungan kami, bisa mendapatkan liburan gratis ke Maldives, hasil memenangkan perlombaan foto couple yang digelar sebuah majalah lokal. Tanda serasikah? Ah, betapa kau tak berdaya membantah!

Dengan tubuh kuyup sehabis digerayang buluh-buluh ombak, aku pun segera mendetapkan langkah ke arah Cellyne. “Mari, ikut aku.”

“Ikut? Boleh saja, tapi tiga syarat!” ujarnya sembari mengacungkan tiga jari saktinya.

Aku tersentak. “Apa itu?”

“Cium, peluk dan gendong,” pungkasnya, lantas melingkarkan kedua tangannya di gelang leherku. Aku tergelak.

Matahari hampir luruh dari penjerangan senja, pertanda langit mulai peram, menyahut titah malam. Semburat bara keemasan yang mencapai titik masak bagai mencipta tumpahan terik ke tungku laut. Samudera berkelambu cahaya! Sesekali kilaunya meluntur diayun denyut ombak. Nun mengawang di keremangan angkasa, mulai tersembul bercak putih pudar yang merona bak puting kejora. Udara berdengkur, berkesiur, meriapkan pinak-pinak rambut Cellyne yang bergerai ditiris angin. Di balik lindungan pundakku, ia masih memelukku, erat. Oh, adakah cinta kami sedang saling jerat?

“Kita mau ke mana?” bisiknya padaku.

“Lihat karang.”

Karang? Ya, karang! Tapi bukan sembarang karang, melainkan karang yang telah berguritkan sebait karangan manis. Bukan lagi berupa surat, tapi senyata wasiat. Wasiat hati yang bakal kekal bersemayam di kukuh karang...

Aku hanya ingin mencintaimu dengan rumus kekekalan yang paling sederhana,
di mana kau dan aku tidak terbagi dan tidak terpecahkan.
(Dave & Cellyne, 14-02-2013)

***
Eh, tunggu! Ini belum selesai. Sebagai teman restu Dave dan Cellyne, aku memang tak ingin banyak berulur kata. Pun tak bermaksud menyela potongan cerita. Tapi, sering mereka beranggapan akulah yang berwatak bongak, gerah hati dan gemar bersabung tekak dengan Cellyne. Kalau aku bilang ya, ia bilang tidak. Nah sekarang, mari kita buktikan, siapa coba yang akhirnya jadian dengan salah satu komodo paling langka di dunia? Hayo…?***

Medan, 11 Februari 2013


(Kisah ini kupersembahkan khusus sebagai kado kecup buat kekasih putihku yang menggemaskan. Selamat Hari Valentine, dan jujur, aku mencintaimu dengan segenap bulatan hatiku.)

* David Tandri, seorang romance-teller dan blogger aktif kelahiran Medan. Twitter: @davidtandri. Website: www.davidtandri.com.

Tuesday, December 18, 2012

Quotes by David Tandri


“Luka adalah kerapuhan yang manja, yang menunggu dilunakkan oleh pengasih hati yang fana.”




“Cinta dan kebencian, hanyalah berjarak satu hantaman luka dan seribu lautan kenangan.”



“Because I love you more than I could spell in my poetry.”



“Love should be like accountancy, always treated equally side by side.”



“Aku hanya ingin mencintaimu dengan rumus kekekalan yang paling sederhana, di mana kau dan aku tidak terbagi dan tidak terpecahkan.”



“[Ellisa] I can't help dreaming of you in my every sensible night, in which my poetry resists a very lonely hidden cry.”



“Cinta adalah sayatan yang mudah jadi luka.”



“To love is sweet. To be loved is perfect. But to love and to be loved is unbeatable.”



“Cinta kita, bagaikan butiran gerimis yang bercucuran di tengah kekesatan malam; lembut namun menggigilkan.”



“No! Love is not blind at all. It just makes you start to learn from zero.”



“Seorang lelaki, selalu menganggap sebuah pelukan itu istimewa, dan sebuah ciuman itu karunia.”




“A woman would reach her highest worth value if she could still fully support her man at his lowest life.”


Saturday, December 1, 2012

Submit Your Writings to David Tandri Official Blog


Bagi Anda yang suka menulis dan hobi berkarya dengan kata-kata, David Tandri Official Blog membuka kesempatan kepada Anda untuk ikut bergabung dengan menjadi penulis. Anda bebas mengirimkan tulisan apa saja yang sesuai dengan visi dan misi David Tandri Official Blog, baik itu artikel, cerpen, puisi, resensi, maupun format tulisan lainnya. Bagi tulisan yang layak muat, akan langsung dipublikasikan di halaman depan David Tandri Official Blog dan tulisan Anda akan berpeluang untuk dinikmati oleh jutaan pasang mata.

Untuk semakin mendukung dan memperunik program ini, David Tandri Official Blog akan memberikan tanggapan terhadap setiap karya yang masuk, termasuk memberikan penilaian dan perbaikan, bila dirasa perlu. Tentu ini akan menjadi suatu ajang diskusi bagi sesama penulis yang akan semakin meningkatkan kualitas tulisan yang dihasilkan.

Namun sebelum Anda mengirimkan tulisan kepada kami, ada baiknya Anda juga mengetahui beberapa hal (pantangan) paling keras dalam bidang kepenulisan, yang juga menjadi syarat dasar dalam mengirimkan tulisan kepada David Tandri Official Blog. Tulisan Anda wajib memenuhi syarat-syarat berikut untuk dapat lolos dalam seleksi pemuatan tulisan:

1. Tulisan adalah karya asli penulis (bukan hasil plagiat, bukan saduran maupun terjemahan) dan tidak sedang diikutkan pada kompetisi apa pun dan tidak sedang dalam proses menunggu pemuatan di media massa. Untuk tulisan yang sudah pernah memenangkan lomba ataupun yang sudah pernah dimuat di media massa boleh diikutsertakan, namun penulis wajib mencantumkan keterangan pemuatan ataupun kompetisi yang diikuti dengan sejelas-jelasnya karena keterangan itu akan langsung dicantumkan di halaman blog.

2. Tulisan tidak memuat unsur SARA, pornografi, politis, propaganda maupun spam.

3. Tulisan diketik rapi dengan format standar penulisan dan dikirim dalam bentuk Ms Word (format .doc atau .docx), dikirim ke email contact@davidtandri.com. Cantumkan subjek sesuai dengan jenis tulisan yang dikirim. Mohon untuk tidak mengunci tulisan Anda dengan password untuk keperluan revisi editor.

4. Penulis diizinkan untuk menggunakan nama pena, namun wajib mencantumkan biodata asli pada saat pengiriman untuk keperluan konfirmasi. Lebih bagus jika mencantumkan foto (direkomendasikan).

5. Perhatian tegas bagi para penulis, untuk dapat membuat tulisan yang sesuai standar EYD. David Tandri Official Blog tidak menerima tulisan alay dan yang merusak kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang baku.

6. Setiap tulisan yang layak muat akan mendapat konfirmasi resmi dari David Tandri Official Blog via email, dan link posting akan langsung diberikan pada email.

7. David Tandri Official Blog akan memberikan tanggapan dan/atau perbaikan atas tulisan yang dimuat langsung pada kolom komentar sehingga kelebihan ataupun kekurangan ini dapat juga dipelajari oleh seluruh pembaca yang lain. Hal ini merupakan bagian dari kebijakan David Tandri Official Blog yang sangat mengutamakan prinsip berbagi dalam berkarya.

8. David Tandri Official Blog tidak menyediakan kompensasi untuk setiap tulisan yang dimuat. Program ini adalah murni program non-profit dan semata-mata ditujukan untuk saling berbagi di antara sesama penulis, sesuai dengan kebijakan David Tandri Official Blog yang telah dipaparkan di atas.

9. David Tandri Official Blog tidak memberikan tenggat waktu dalam pengiriman karya dan pemuatan karya. Karya yang dimuat semata-mata adalah karya yang dirasa cocok dengan visi dan misi yang diusung David Tandri Official Blog, dan sama sekali tidak menjadi patokan/baku mutu suatu tulisan dalam perbandingannya dengan media lain.

10. Apabila di kemudian hari ada penulis yang ingin membatalkan pemuatan karyanya, maka penulis yang bersangkutan wajib mengirimkan pengajuan tertulis via email kepada David Tandri Official Blog. Namun demi kelancaran program ini, kami sangat mengharapkan keseriusan dari para penulis untuk betul-betul berpartisipasi dengan konsisten. Penulis yang membatalkan tulisannya tiga kali berturut-turut akan di-blacklist oleh David Tandri Official Blog dan tidak akan mendapatkan kesempatan muat lagi di kemudian hari.

11. Penulis yang tulisannya telah dimuat sekurang-kurangnya 5 (lima) judul akan dibuatkan menjadi label khusus oleh David Tandri Official Blog sesuai dengan nama penulisnya.

12. David Tandri Official Blog berhak untuk merevisi setiap tulisan yang masuk, tanpa mengurangi substansinya.

13. David Tandri Official Blog tidak bertanggung jawab terhadap isi tulisan maupun konflik hukum yang terjadi. Hal tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis yang bersangkutan.

Nah, tunggu apa lagi? Segera kirimkan tulisan Anda dan mari kita saling berbagi di antara sesama demi kemajuan kualitas tulisan kita. Cerahkan tulisanmu, dan bahagiakan orang yang membacanya.

Salam sastra!

David Tandri Official Blog

Medan, 01 Desember 2012

Friday, November 30, 2012

Disclaimer | Privacy Policy | Terms & Conditions of Use



Disclaimer | David Tandri Official Blog

David Tandri Official Blog does not represent or endorse the accuracy or reliability of any information's, content or advertisements contained on, distributed through, or linked, downloaded or accessed from any of the services contained on this website, nor the quality of any products, information's or any other material displayed,purchased, or obtained by you as a result of an advertisement or any other information's or offer in or in connection with the services herein.

You hereby acknowledge that any reliance upon any materials shall be at your sole risk. David Tandri Official Blog reserves the right, in it's sole dis-creation and without any obligation, to make improvements to, or correct any error or omissions in any portion of the service or the materials.

THE SERVICES AND THE MATERIALS ARE PROVIDED BY David Tandri Official Blog ON AN "AS IS" BASIS, AND David Tandri Official Blog EXPRESSLY DISCLAIMS ANY AND ALL WARRANTIES, EXPRESS OR IMPLIED, WITHOUT LIMITATION WARRANTIES OF MERCHANTABILITY AND FITNESS FOR A PARTICULAR PURPOSE, WITH RESPECT TO THE SERVICE OR ANY MATERIALS AND PRODUCTS IN NO EVENT SHALL TO David Tandri Official Blog.

BE LIABLE FOR ANY DIRECT, INDIRECT, INCIDENTAL, PUNITIVE, OR CONSEQUENTIAL DAMAGES OF ANY KIND WHAT'S OVER WITH RESPECT TO THE SERVICE, THE MATERIALS AND THE PRODUCTS.

David Tandri Official Blog respects the rights (including the intellectual property rights) of others and we ask our users to do the same. David Tandri Official Blog may in appropriate circumstances and in it's sole dis-creation, terminate the accounts of users that infringe or otherwise violate such rights of others.


Privacy Policy Statements | David Tandri Official Blog

The owner of this blog does not share personal information with third-parties nor does David Tandri Official Blog store information is collected about your visit for use other than to analyze content performance through the use of cookies, which you can turn off at anytime by modifying your Internet browser’s settings. The owner is not responsible for the republishing of the content found on this blog on other Web sites or media without permission.

Blog Comments Policy

The owner of this blog reserves the right to edit or delete any comments submitted to this blog without notice due to;

1. Comments deemed to be spam or questionable spam

2. Comments including profanity

3. Comments containing language or concepts that could be deemed offensive

4. Comments that attack a person individually

This privacy policy statements is made on November 30th, 2012 and may have a change on the futures with or without notice. You should read this privacy policy on this page on the futures when updated.


Terms And Conditions Of Use | David Tandri Official Blog

All content provided on this blog is for informational purposes only. The owner of this blog makes no representations as to the accuracy or completeness of any information on this site or found by following any link on this site.

The owner of David Tandri Official Blog will not be liable for any errors or omissions in this information nor for the availability of this information. The owner will not be liable for any losses, injuries, or damages from the display or use of this information.

This terms and conditions is subject to change at anytime with or without notice.***

Monday, October 8, 2012

Melankolia Playboy



Malam sudah melorot, tapi belum ada tanda-tanda Keffhint akan mengayuh langkah pulang. Dia malah berharap, tingkah angin yang berkecamuk di pesisir balkon, dapat terus mengangsurkan hawanya sampai ke desis paling gigil, agar lengannya dapat semakin menjerumuskan tubuh wanita itu ke dalam dekapannya. Ya, ada sejumput hangat yang ingin disulut di situ: di tengah tangkup dadanya yang kesat dan bidang.

“Tenanglah, Maria, kau akan merasa nyaman bersamaku.” Keffhint mulai beraksi dengan petuah-petuah gombalnya, sementara pucuk jarinya yang ceking sedang keranjingan mengelus-elus pusat kepala Maria dengan lembut.

“Aku tahu, tapi ini sudah malam. Dan kau seharusnya…,” Maria mendongakkan kepalanya, hendak mencari-cari gerangan sorot mata Keffhint, tapi Keffhint tak membiarkannya berusaha lebih jauh, sebelum kembali mencelupkan kepala Maria di penampang dadanya.

“Kau tidak perlu mengingatkan aku untuk apa pun, karena satu-satunya yang perlu kuingat hanya kau!” Seulas senyum nakal bergeriak di wajah Keffhint, sementara di peraduan dadanya, kepala wanita yang sedang berlabuh itu mulai merasa terhibur. Tunggu! Lebih tepatnya kukatakan: tercebur! (Habis nancapnya dalam banget sih!)

Nah, risikonya jelas! Adegan tadi kontan membuat Maria tak kuasa mereguk kantuk. Dia terjangkit insomnia karena merasa ada yang janggal dengan bantalnya—tidak senyaman bantalan dada yang tadi disusupinya. Tuas lehernya kini kebas karena kelamaan bersandar. Kalau bukan karena sebelah tangannya hendak melangsir pijatan, takkan Maria sadar, di antara lipatan-lipatan ketus jemarinya sedang menggenggam batang ponsel. Mmh, teranglah apa maksudnya. Paham kalau suara Keffhint adalah penawar risau, Maria pun mengarahkan menu ponselnya ke data kontak Keffhint. Sejurus kemudian, panggilan pun terpintas ke tujuan.

Alangkah terkejutnya Maria, ketika mendapati orang yang menyahut telepon di seberang sinyal adalah wanita. Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Ini sangat aneh, pikirnya. Jelas-jelas nomor itu baru diberikan Keffhint saat dikebut pamit sejam yang lalu. Bagaimana mungkin secepat itu sudah putus koneksi? Ah, jangan-jangan sesuatu telah terjadi pada Keffhint? Maria mulai dilibas cemas, seolah-olah takut kehilangan nakhoda jiwa yang segera saja sudah menghuni rongga sunyi di hatinya.

Syahdan, di alam ruang yang lain, Keffhint malah sedang asyik bergolak bahagia. Dia terus terkekeh, kemudian jeda sejenak, sambil mulutnya membuka dan matanya menerawang ke atas, lalu terkekeh lagi. Begitulah tawa dan khayal terus berjabatan, sampai akhirnya dia mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya. Oh! Sebuah SIM card ponsel! Belum lagi sedetik dipandanginya, tawanya sudah kembali meledak seperti makhluk salah urat.

“Hahahahaha…. Kasihan sekali kau, Maria! Semoga Tuhan memberkati kegalauanmu. Hahahahaha….”

Dalam sekali tekuk, krak, plat mini itu pun terkuak menjadi dua, lalu dilarungnya ke tong sampah. Selanjutnya, dari belahan sakunya yang lain, dia mengeluarkan lagi sekepalan kartu perdana yang masih tersegel. Nomornya garing, oi! Sarat angka delapan! Dan yang lebih mencengangkan lagi, masing-masing kemasannya bahkan sudah bertera nama-nama calon wanita yang akan “ditenungnya”. Ada Lyla, Paula, Ambrella, Stella, Ketela dan bla-bla-bla….

“Bersiaplah dengan giliran kalian!” Dengan sigap Keffhint memetik salah satu kartu dari bundel kemasan itu, lalu disematkannya ke dalam ponsel. Mantaplah sekarang! Kelar sudah racikan siasatnya! Maka tibalah pula waktu bagi Keffhint untuk mengisi pembaringan malam, merebahkan gontai kantuk, dan menyongsong ke cakrawala mimpi. Disekapnya guling ke dalam pelukannya, tapi eh, entah kenapa, rasanya aneh belaka! Batangan kapas itu tak senikmat ganjalan batang tubuh wanita yang tadi baru dipincuknya. Entah kenapa. Ada yang tahu?

***
“Keffhinnttt…!!!” seraung gertak menghunjam dari hulu pintu kamar Keffhint. Keffhint pun tersengat jengking karena kaget. Diucek-uceknya matanya sambil mengerjap. Maklum, baru saja dia habis mengigau, dan lupa siapa nama wanita terakhir yang gagal dirapalkannya karena ilernya telanjur meleleh.

“Ah, Ibu! Ada apa sih pagi-pagi buta begini? Pakai jerit-jerit segala lagi.”

“Pagi buta?? Kau yang buta! Ini sudah siang dan sudah waktunya kau untuk bangun!” sergah ibunya. Keffhint terperanjat. Untuk sesaat pandangannya berkeliling mencari kesadaran, dan jatuhlah lirikannya pada beker yang mata loncengnya sudah disimpul mati pakai karet. Tubuh Keffhint pun tersentak keras, seperti popcorn yang baru matang dari penjerangan. Bagaimana mungkin dia tidak menyadari, kalau ini sudah jam 11? Masak gara-gara keasyikan kencan malam, Keffhint jadi jetlag?

“Sarapanmu sudah disiapkan di bawah. Ah, tidak! Bukan sarapan, anggap saja sebagai makan siang,” tandas ibunya. Keffhint hanya manggut-manggut dangkal.

Baru saja ibunya hendak berpaling dari ambang kamar, langkahnya segera menguncir dan berbalik 180 derajat.

”Dan satu lagi,” telunjuk ibunya mulai mendakwa tepat di pusar jidat Keffhint, lalu mematuk-matukkannya hingga kepala Keffhint terdesak ke belakang, ”belajarlah membedakan pagi dengan siang, baik saat kau bangun maupun ketika kau pulang! Atau kau akan menyesal!”

Alamak!! Lagi-lagi Keffhint disergap perangah, bertanya-tanya bagaimana ayahnya bisa jatuh cinta pada wanita pongah dan menggerahkan seperti itu. Lihat saja tadi, betapa gesitnya wanita itu melakukan manuver saat merepet! Sangat berbeda dengan kelembutan wanita yang selama ini bersilihan dikencaninya. Anggun, syahdu dan menghanyutkan. Ouch…!! Auwh…!!

“Stella!” sebersit nama langsung terpacak di benaknya. Kali ini Keffhint sebenar sadar. Sadar semelek-meleknya. Ada kencan yang harus dituntaskannya malam ini juga di balik balkon. Ah… tidak! Keffhint merasa harus mencari tema baru. Dia ingin sesekali mencoba suasana indoor. Pasti lebih hangat, pikirnya. Outdoor melulu tidaklah seru. Ya, memang lelaki sih lelaki, tapi bisa masuk angin juga, toh?

Nah, asal kau tahu saja, Keffhint juga tidak semudah itu mau bersanding kencan dengan sembarang wanita. Dia bukan tipe lelaki yang suka dengan sistem random. Setiap wanita yang dia pilih sudah dipindai timbang-karat wajahnya dengan saksama. Kalau yang kualitasnya “KW” sih jangan ngarep deh! Bayangkan apa kata para boyband nanti, kalau seorang Keffhint Leonheart Tandri, Sang Lelaki Mahakunang—begitulah dia mendapatkan julukan dinasnya—sampai mengencani seorang wanita setengah matang, yang alur mukanya timpang dan rintik alisnya gersang! O-o-o… pokoknya jangan sampai deh! Amis!

Baiklah! Kukira tos-tosan saja kubocorkan padamu, seperti apa baku-rancang wanita yang lulus kaji di mata Keffhint. Pokoknya wanita itu mesti punya gugus tampang yang apik. Semakin boros emisi auranya semakin baik. Semakin menggelitik.

Intinya, bagi dia, wanita yang cantik adalah wanita yang relief tubuhnya sintal dan aerodinamis. Tingkap matanya teduh dan lentik ibarat bujur kuaci. Palang hidungnya mancung bagaikan dasun tunggal, serta ambang dagunya belah tengah, pun pipinya legit laksana pauh dilayang. Dan aihhh…! Bibirnya, ketika diseruput, kenyal dan licin seperti cenil. Bagaimana? Ngisap banget, bukan?

Tak ubahnya seperti Stella, wanita yang sebentar lagi akan digelutinya. Keffhint sudah tidak sabar ingin menyemai kepala Stella di pematang dadanya. Ops, jangan salah! Jangan pikir dada Keffhint juga seperti cenil adanya, lembek dan meleleh. Justru dadanya gempal dan berpancang gurat otot. Haaa!!! Kau pasti penasaran kenapa aku bisa tahu sedetail itu. Hei, jangan salah sangka dulu! Aku bukan gay. Aku ini kan penulisnya! Hehehe….

Oke, kembali ke TRP, eh TKP!

Nah, saking tak sabarnya ingin berjumpa dengan Stella, Keffhint sampai panik dan lupa menghubungi Stella untuk berembuk janji kencan. Maklum, secerdik-cerdiknya kaum lelaki kadang bisa silap-basah juga. Untunglah, rumah Stella tak jauh-jauh amat. Hanya beberapa erangan gas motor sudah cukup membuat Keffhint tiba sedentangan waktu.

“Bersiaplah, Stella! Semoga Tuhan memberimu ketabahan untuk menemaniku berkutat dalam pelukan. Hahahaha…!!” Dikecup-kecupnya foto Stella sampai bersimbah ludah. Mungkin bawaan terlalu girang karena mendapati umpan kencan yang cocok dengan ikatan syarat. Yah, mudah-mudahan saja, hasil yang terhidang nanti pun sewujud-sepenampakan dengan potret yang tersurat.


Di tengah perjalanan, saat senja mulai hangus dan bias bulan tercetak di bencahan awan, Keffhint mulai tenggelam dalam liur fantasinya sendiri. Dibayangkannya wajah kemayu Stella yang memintal senyum, lalu sesisip demi sesisip, kepala Stella pun terbenam dan berlinang di pelukannya. Aih, mengingat kemesraan seperti itu, sudah pasti—untuk kesekian kalinya—Keffhint tak bakal pulang cepat malam ini.

Seperti biasa, Keffhint selalu bersiul-siul untuk bersemarak dengan kebahagiaannya. Meski siulannya terdengar soak, tapi hal itu tak menyurutkan bakat dirinya dalam memikat hati wanita. Bahkan tak jarang, Keffhint-lah yang lebih dulu tergiur oleh terik-pesona wanita pingitannya. Maria sudah. Johanna lewat. Ellisa apalagi! Stella? Nah…!!

Lihat, barisan para wanita bergaun canggung yang berjejer di sebingkai foto keluarga. Walau wajah para wanita itu sarat dengan kilasan bedak dan arsiran celak, Keffhint masih dapat menduga-duga kecantikan alami yang tersirat di balik solekan usang itu. Pasalnya tadi, waktu disambut di depan rumah, Keffhint sudah membuktikan sendiri seraut indah wajah ibu Stella. Pun gerai tubuhnya montok dan elok!

“Mmh, sampel bagus ini,” cengir Keffhint. Mendapat kemujuran seperti itu, Keffhint kian bergelimang hasrat menunggu Stella dipanggilkan ibunya. Bukankah palet wajah seorang anak sedikit-banyak juga mengidap bibit turunan dari orang tuanya? Nah, kalau begitu, pastilah Stella juga sangat…

“Alah-makjang…!!!” Keffhint terbelalak tegang, ketika menyadari sesosok wanita telah bertengger di hadapannya, sambil melirik Keffhint dengan sinar tatapan yang kesengsem-mangu.

“Jadi, kau yang namanya Keppin? Si Lelaki Mahakunang itu?” Wanita itu meniupkan seberkas kecupan ke arah Keffhint. Sedap!

“K-kau… siapa…??” Oalah! Tubuh Keffhint mulai dicecar gemetar. Akal-pikirannya lantak berkeriap nanar!

“Lho, kok jadi tidak kenal denganku? Aku kan Stella.”

“Apaaa??” Keffhint melolong kesetanan, sebelah tangannya spontan membekap corong mulutnya yang menganga lebar.

“Kau… Stella?” Keffhint masih tidak percaya, betapa harapnya semua ini hanyalah drama mimpi yang disabotase jin atau dedemit binal. Sebagaimana wanita itu, pasti hanya jelmaan fana semata, batinnya. Syukur-syukur fatamorgana! Tapi, adakah yang lebih merana dibanding sejamah colekan telak di ulu dada? O, kualatlah bagi Keffhint yang bergelicak tak karuan menahan remang geli.

“Benar, aku memang Stella. Dan margaku Lollipop,” wanita itu terbahak centil, sembari melanjutkan, ”seperti penulis, aku juga punya banyak nama samaran. Kalau sedang musim hujan, namaku Ambrella. Kalau lagi musim panen, namaku Ketela. Ohya, masih ada lagi. Seperti kamu, aku juga punya julukan. Julukanku yaitu… Cinderella Olala.”

“Aarrrggghh…!!! Tidak, tidak. Kau pasti bukan Stella. Soalnya fo-foto itu…”

“Oh, jadi maksudmu foto keluarga itu? Hmm… itu aku waktu masih langsing. Tapi sejak aku sakit dan berobat ke klinik Fangfang, pencernaanku jadi ringsek! Entah kenapa, semua yang kumakan tercecer saja di dalam usus, dan yah… satu bulan kemudian aku mulai kehilangan pinggang.”

Ampun…! Benar saja itu! Lihat, mulai dari teras pipinya, kendur dan bercucuran. Pucuk hidungnya kempis dan karam. Umbai kupingnya lusuh dan kusut ibarat kerupuk jangek! Gurat alisnya ringkas, juga katup matanya sipit dan sempit kayak celah putaran baut. Bibirnya? Aduh mak oi! Gersang, retak dan berkerak! Bonggol pahanya pun bengkak seperti habis terjangkit radiasi bom atom. Tak jelas lagi di mana siku dan lututnya bersimpang. Kalau saja kau jeli, kau akan melihat tubuhnya persis seperti angka nol. Nol kritis! Diameternya bikin aib!

Sungguh, Keffhint bergidik mampus dibuatnya. Alih-alih disangkanya Stella itu perempuan, lebih mirip kilang lemak malah! Jangan-jangan, dia itu adalah makhluk kibasan dari tungku neraka tingkat tujuh, yang tak habis terpanggang karena cadasnya ketebalan. Siapa yang sudi berkongsi dada dengan “kontainer bongsor” seperti itu?

“Maaf, aku harus pulang sekarang,” Keffhint akhirnya mengusung pamit.

“Tenanglah, untuk apa buru-buru? Kau pasti akan merasa nyaman bersamaku,” rayu Stella. Keffhint tercenung. Rasanya dia tidak asing dengan kalimat itu.

”Tidak, tidak! Aku baru ingat aku ada urusan penting.”

“Ah, lupakan saja yang lain. Bukankah satu-satunya yang perlu kau ingat hanya aku?”

Itu dia! Kalimat itu persis yang diucapkan Keffhint ketika menggoda Maria di pinggir balkon. Kenapa bisa sama? Maksudnya, kenapa bisa terulang?

“Kau… kenapa bisa tahu kalimat itu?” Ubun-ubun Keffhint terasa panas. Firasatnya berkelebat.

“Puji Tuhan! Pagi ini saat aku ke klinik Fangfang, aku bertemu dengan seorang gadis cantik, sedang duduk mematung sendiri. Kusapalah dia, tapi kepalanya tetap bergeming. Oh ternyata, lehernya sedang kram. Habis dikerjain playboy katanya. Maria, Maria! Aku jadi simpati, karena selama ini justru akulah yang kerjain playboy. Lihat, aku juga punya banyak kartu perdana. Ini untuk Upin, ini untuk Ipin, dan ini untuk Keppin. Kamu deh. Hahahaha!”

Keffhint tercekat. Napasnya sengok dan ngadat. Ingin rasanya dia mencongkel dadanya dan mati saja. Tapi apa daya? Segandeng dada di hadapan sudah siap merenggut kepalanya. Keffhint coba beringsut mundur, namun sial, langkahnya mentok terganjal tembok. Kini dia tak punya jalan kabur lagi.

“Ayolah Keppin. Tunggu apa lagi? Hinggaplah di dadaku. Rasakan pegasnya. Nikmati pantulannya. Kujamin kau pasti pulas. Hahahaha….”

Tanpa tedeng aling-aling lagi, sepasang tangan Stella segera merentang, lalu menciduk kepala Keffhint ke dalam pelukannya. Segeliat mungkin Keffhint merintih dan meronta, namun tubuh Stella terlalu besar untuk dilanggar.

Samar-samar terciumlah oleh Keffhint aroma yang mengiang dari sela-sela dada Stella. Gila! Kau pasti tak percaya. Bisa-bisanya wanita ini memakai parfum oplosan. Rasa mint pula!

Bagai refleks Keffhint pun merintis sendawa. Bekas makan siangnya bahkan sudah meluap hingga ke puncak tenggorokannya, hampir-hampir muncrat! Sungguh, semalas-malasnya Keffhint makan, masih lebih berselera dia dengan rasa nasi putih ketimbang rasa dada menthol. Ih! Dada yang sarat dengan otot-otot getol—tangkas lagi beringas! Dada yang telah berhasil membongkar benteng kejantanan Keffhint hingga titik desah penghabisan!

“Ibuuu!! Aku janjiii…!! Mulai besok aku pasti rajin sarappaann…!!” pekik Keffhint.

Sayang, telat sudah!

Kepala Keffhint telanjur dikobok-kobok dalam gilingan dada Stella. Berpentalan. Berlesatan.

“Ibu!! Toloonngg!! Aku bahkan rela jadi vegetariaannn…!!”

Tamatlah! Kali ini tamat!

Kepala Stella mulai berpindah haluan, hendak mencari-cari gerangan kuncup bibir Keffhint. Sadar dirinya sedang dalam impitan nafsu, Keffhint pun kembali meronta barang sekelit-dua kelit. Namun, maksud hati hendak menampik sodoran bibir Stella, cih, sepancaran uap ganjil yang meliuk-liuk ke hidungnya malah sudah membikin tubuh Keffhint meranggas lemas. Coba, apa lagi yang terbayangkan, jika akhirnya sepasang bibir resmi bersedot-sedotan di tengah semilir dengus aroma kemenyan?

“Ibu!! Aku insaf!! Sumpah matiii…!!”***

Medan, 08 Oktober 2012


* David Tandri, penulis dan blogger aktif kelahiran Medan. Pastinya bukan playboy. Twitter: @davidtandri. Website: www.davidtandri.com.

Tuesday, June 26, 2012

Tragedi Kalimalang



Sesekali Sukrin tampak melengung, larut dalam kerawanan malam yang berpotensi ricuh diserang perompak. Dipancangnya senapan lekat-lekat, bersamaan dengan matanya yang terus mengerling ke setiap selongsong semak yang berderai diserut angin. Nyaris tak ada suara yang beredar, selain dengung kabut dan bunyi kokang kerongkongan jangkrik yang berderik.

Ini adalah malam penghabisan kompi mereka berjaga, sebelum nanti—hanya berselisih dua raun jam dari sekarang—mereka harus mulai beranjak, mengawal truk pengangkut naskah soal Ujian Nasional (UN) yang akan diransum ke beberapa sekolah terpencil. Salah satunya yaitu SMA Kalimalang, bercokol persis 15 km jarak darat dari tapal kening kecamatan Palomboh.

Jalan ini terkenal dengan hawa rimbanya yang angker, belum lagi raut aspal yang akut, memaksa kendaraan yang melata di sana harus ekstra pelan kalau tak mau terjungkal. Nah, Sukrin pernah mencicipi ceruk jalan ini lima tahun lalu, ketika dia ditunjuk untuk mengawal truk pengangkut buah sawit bersama dua rekan lain. Saat itulah, lenguh ban yang bocor tak terhindarkan akibat ketiban remah paku yang dilarung di lereng aspal. Sukrin pun kemudian harus bersabung dengan perompak yang menggebrak truk kawalannya. Tak banyak yang dapat dia perbuat, setelah sebutir peluru berhasil menerobos perutnya.

Sejak insiden itu, Sukrin jarang didapuk lagi untuk tugas pengawalan. Selain karena iklim fisiknya yang terus tergerus akibat sengatan pelor, ada faktor kepercayaan yang mulai berpaling darinya. Pernah ada desis isu yang menjalar di resor menuding bahwa dialah yang berkomplot dengan gembong perompak itu. Alasannya, dua rekan lain yang ikut bersama Sukrin tewas mengenaskan, sementara dia sendiri hanya digertak sekali amuk tembakan.

Namun kali ini kondisinya lain! Mau tak mau Sukrin mesti ikut dipaparkan, karena resornya memang kekurangan personel. Apalagi masalah distribusi naskal soal UN ini juga bukan proyek main-main, seperti yang pernah disanjungkan oleh Komandan Wirawan, Kepala Kesatuan Tim Pengamanan mereka saat briefing penugasan, “Ini menyangkut hajat dua ribu pelajar yang ada di resor kita!” Termasuklah di dalamnya Abdi, putra Sukrin satu-satunya yang tengah menjerang ilmu di SMA Kalimalang.

Sukrin sadar, di tengah kecambah usia Abdi yang baru beranjak masak, masih perlu banyak-banyak ditabungi anjuran hidup agar amal lakunya surup, dan arwah istrinya—yang sudah lebih dulu diparut maut bakda lebaran tahun lalu—bisa tenang di jagat baka.

Perihal UN ini misalnya, kerap membuat serat-serat kuduk Sukrin meremang tatkala membayang kembali kata-kata miris Abdi, “Ayah, aku lihat sudah ada temanku yang membeli bocoran soalnya.” Sejumput rasa sengit membelit di jidat Sukrin, mengingat bagaimana bisa ada benih soal yang bocor, sementara semua naskah masih tersegel di hanggar resornya waktu itu?

“Berapa harganya, Nak?” Sukrin mencoba menerawang gejala kebocoran yang baru dia sergap.

“Mahal Yah, karena kita di pedalaman. Satu paket 500 ribu, belum termasuk kaset untuk pelajaran Bahasa Inggris.”

Kontan, Sukrin terperanjat merangkum angka yang dituturkan Abdi. Relung hatinya riuh-piuh. Sebagai ayah, wajar Sukrin ingin berupah anaknya lulus, sebab kalau gagal, itu berarti usahanya selama ini yang sudah berjerih menambang tulang demi menyekolahkan anaknya, lesap sia-sia. Namun, untuk menebus duit semuluk itu hanya demi seberkas naskah soal, rasanya amatlah berat juga.

“Apakah Ayah juga akan membelikanku bocoran soal itu?”

Amboi! Ini dia, yang bikin galau. Dirujuk seperti itu, Sukrin berusaha tetap kalem dengan mengganjal sesisir senyum, tapi sejujurnya, perca hatinya mulai kisut digarami asam kecut. Dia ini polisi. Makhluk pemberani. Teladan suci. Dia hanya ingin mencoba berlagak lurus. Bukankah kalau seketip naskah soal saja bisa bocor, konon lagi pawai mulut manusia? Betapa enggan hatinya, jika namanya harus tercatut lagi seperti kasus lima tahun lalu.

“Percayalah Nak, kamu pasti bisa lulus,” teluh Sukrin sambil meremas bahu Abdi yang curam.

***
Sejam menuju ekspedisi. Mesin truk mulai didiangi. Para polisi tengah meramu tugas akhir masing-masing. Sebagian mereka sibuk melacak kerusakan truk, sebagian lagi tekun mengusap laras senapannya yang disarati embun. Hanya beberapa yang tinggal untuk bersiaga di seantero posko, termasuk Sukrin.

Dia tampak begitu khusyuk berjaga, walau disadari desir darahnya mulai berkelocak. Jantungnya berkedut-kedut. Napasnya sesungut-sesungut. Bukan bersebab gentar tapi, melainkan ada tatih risau di hatinya, tatkala membayangkan gundukan naskah yang berkerubung di sebalik gudang.

”Oh, Abdi,” gumamnya legam.

Namun bernama apakah cawan kesempatan, jika sampai luput diseruput? Saban tahun dia berpagar-sanding di resor, telah membuatnya kenal dengan sengkarut silang-siur posko, konon lagi sebentang gudang, hah? Memang, bukan perkara gampang melerai lengan gembok yang disanggul rantai galvanis di kenop pintu itu. Silap selangkah, kiamat pangkat alamatnya.

Tak ada jalan lain! Tegarlah niatnya menanti hingga salak peluit dari Komandan Wirawan bergema, tanda ekspedisi siap dimulai. Toh jumlah personel yang kurang akan membuatnya kebagian jatah memuat naskah. Hmm… dapatlah lega nian dirinya sekarang. Birit cemas di hatinya pun mulai jinak, berganti putik senyum yang semanis nektar purnama masak.

“Oh, Abdi,” gumamnya lagi.

Tak perlu jeda lama, setelah jumlah pasukan lengkap dan naskah habis dimuat, detik berikutnya adalah perjalanan panjang menuju Kalimalang. Panjang tersebab truk tak dapat memburu jarak pada kerak aspal yang bengal. Ditambah lagi rona langit sedang seranum uban malam, dan seumur-umur belum ada pemerintah setempat yang menanam cadik lampu di sana. Hanya pancar lampu kendaraan satu-satunya asa penerangan. Di luar itu, apa lagi yang dapat dipamrihkan dari sepasang pesisir jalan yang gulita, selain lenguh doa dan sengal dada, berharap genap sampai tujuan. Ya demi semaksud apa pula, kalau bukan hajat dua ribu pelajar yang akan bertarung lusa pagi: menyulut akal, mengganjar soal.

Ah, lantas ini bukan pertarungan? Paling tidak, golak kalbu para polisi itu harus diperhitungkan juga, bukan? Bayangkan—cukup bayangkan—jika sesuatu terjadi, ke mana dapat melangsir diri sementara arus jalannya cuma setapak beku? Pula itu, geming hutan karet yang gamang, siapa dapat menebak, makhluk gerangan apa yang bisa saja bersemi di baliknya? Orang-orang di truk itu—yang mencoba mengganjur nyali—tentu tidak lupa dengan apa yang terjadi lima tahun lalu, di mana seonggok perut bocor karena tersambar pelor.

“Mudah-mudahan peristiwa dulu tidak terulang,” daras seorang polisi.

“Ah, aku lebih tertarik siapa dalang kasusnya,” timpal yang lain.

Sukrin diam saja. Tak dihiraukannya orang itu mau berkumur soal apa. Ini abad edan! Jujur itu serupa getah piringan judi, tak bersalut amal. Begitu mulut manusia mulai bocor, aha! Tanggul mana dapat menangkup tulah kabar yang berbiak? Andailah mulut mereka saja yang disundut pelor. Namun, oh! Selama hidup masih mengambang di pusar perlintasan Kalimalang, ada baiknya bersisangka semua orang adalah teman.

Benar pula itu, suara derak truk yang menghiba tiba-tiba, pertanda ada debur bencana. Sejurus kemudian, laju truk pun tertambat ketat sehabis mendenguskan ampas gas. Aih, prasangka apa lebih tepat dikira-kira, kalau bukan karena daging karet ban yang bocor?

Anehnya, tak seorang polisi pun yang tampak gegas sehabis teraduk derak truk tadi. Malanglah polisi yang duduk paling dangkal jaraknya dengan burit bak besi truk. Mungkinkah dia tolak jika disuruh keluar menilik tabir jalan? Seluruh mata mengerucut pada Sukrin. Alhasil, dengan gelengan gontai, dia pun harus rela menurut, dalam kecamuk kesal tentu.

Baru dua langkah menjengkal, pandangannya takjub pada segerombol besar orang bercadar yang berderap menuju pangkalannya. Cis! Ada senjata. Mereka menenteng senjata!

“Ada perompak! Ada perompak!” Seketika semua polisi itu terkesiap menjemput laungan Sukrin. Namun apa lacur, perompak itu sudah telanjur menjamu tamunya dengan kelebat pedas pelor.

“Sukrin tertembak! Sukrin tertembak!”

“Ah, lariii…!!”

“Komandan, Sukrin tertembak!”

“Kabur!!”

“Tapi komandan?”

“Sudah kubilang kabur!!!!”

***
Lapangan SMA Kalimalang tampak riuh rendah. Di sana sedang disalut upacara khusus untuk memperingati tragedi Kalimalang.

Abdi sendiri tidak berada di sana. Dia sedang bersama Komandan Wirawan—yang selamat beserta rombongannya berkat mengulur napas di hutan sampai pagi—menjemput hasil otopsi Sukrin yang sudah dirilis pihak rumah sakit. Tercatat, dia tewas akibat dua tindikan pelor. Sebiji di cangkang kepala, sebiji lagi di kantung jantungnya.

“Ayahmu adalah seorang pemberani, Nak. Aku janji akan memberinya penghargaan,” Komandan Wirawan menukas pundak Abdi dengan beberapa tepukan lunak. Soal penghargaan? Yah, cukuplah buat menyumpal duka Abdi, sembari turut meramahi tabiat kabungnya yang cair bertubi-tubi sejak lebaran tahun lalu.

“Pak Wirawan!” Seorang opsir rumah sakit yang tadi menyerahkan hasil otopsi Sukrin, mencegat Komandan Wirawan dengan letikan dagunya, “Kurasa Anda perlu melihat sesuatu.”

“Apa ini?” dirogohnya palung amplop yang berkalang warna cokelat itu. Alangkah terkejutnya dia, ketika mendapati sebuah kotak pipih dengan sepasang kumparan pita di tengahnya.

“Itu adalah kaset soal UN untuk pelajaran Bahasa Inggris,” terang opsir tadi.

“Bah! Dari mana kau dapatkan ini?”

“Dari Sukrin. Kami menemukan kaset itu di balik saku rompinya.”

Segera, setelah mencahar apa yang baru didengarnya, Komandan Wirawan merasa harga dirinya tersungkur dan wibawanya terjerembap karena telah menyanjung Sukrin di depan anaknya sendiri. Namun bersebab apakah kiranya ia patut bersesal dengan sanjungannya itu? Bukankah Sukrin memang adalah figur pemberani? Lebih berani pun dari Komandan Wirawan sendiri. Bahkan terlalu berani.

Apalagi, perkara penghargaan yang kadung bocor itu—bukan hanya pada Abdi, tapi juga sudah meleleh ke cadas publik—turut membilas namanya dari bekas daki kasus lima tahun lalu. Setahu warga, Sukrin yang sekarang adalah pahlawan Kalimalang!

Kini Komandan Wirawan bingung, apa yang mesti dilakukannya untuk mengurapi nama Sukrin sepeninggal kasus terbaru tadi—apakah mesti menaikkan tampuk jabatannya, atau membiarkannya mati percuma, tanpa tanda jasa.***

Medan, 26 Juni 2012

Saturday, March 24, 2012

Pacar Durhaka


Ada tiga hal yang membuat Kevin pasrah ditasbihkan oleh teman-temannya sebagai the king of single, alias raja jomblo. Dari seukuran jabang bayi sampai sematang batang usianya sekarang, Kevin memang hanya dididik dan tinggal dengan satu-satunya single parent di rumah, yaitu ibunya sendiri. Ayahnya sudah lama meninggal, ketika dia masih tidur terbalik di rahim ibunya.

Sejak Kevin mencicipi napas pertamanya di dunia, ibunya rela menjanda dan tidak menikah lagi. Alasan ini jugalah yang akhirnya membuat Kevin hanya jadi single man di keluarganya. Sebagai sesama lelaki, Kevin bahkan tidak pernah merasakan sentuhan khas jantan dari ayahnya.

Status anak yatim memang sedikit banyak membuat Kevin kabur dalam memahami makna kelelakian. Kadang-kadang, Kevin bahkan bisa latah menggunakan insting gagahannya kalau sedang berhadapan dengan seorang cewek, meskipun paras permukaan cewek itu juga tidak bikin kejut-kejut amat. Namun kelemahan itulah yang membuat Kevin terus melajang sampai sekarang, melengkapi rekor triple single-nya yang jarangnya bukan kepalang.

Sebagai remaja senja yang beranjak dewasa, tentu Kevin juga ingin menikmati malam minggu dengan berkumpul bareng teman-temannya, atau sekadar basa-basi di café sambil melawan kekentalan avocado coffee kesukaannya. Tapi apa lacur, teman-temannya semua sudah berpasangan! Jelas tidak mungkin bagi Kevin untuk membelah kemesraan mereka, jadi lebih baik rela-rela saja dia menjadi separuh jiwa ibunya di rumah.

Sebenarnya Kevin juga rada merasa minder jika berkumpul dengan teman-temannya. Pasalnya, semua temannya pasti sudah menggandeng lampirannya masing-masing. Pernah suatu kali Kevin diolok habis-habisan oleh temannya waktu nongkrong di café langganan mereka.

“Aku salut banget sama kau, Kev!” sindir Yan, sobat karibnya sejak SMA, “karena kau adalah cowok paling natural yang pernah kutemui, malah suci banget karena belum pernah dimiliki. Hahaha….”

Kevin tenang saja, selera mukanya rata, hanya tangannya yang sibuk mengaduk serbuk cokelat yang bertumpuk di pucuk avocado coffee-nya. Baginya lelucon seperti itu sudah biasa dia tanggung sejak di bangku sekolah. “Masih untung tidak hidup sebatang kara,” begitu dia sering menghibur nasibnya sendiri.

“Ayolah Kev, sampai kapan kau mau terus melajang? Ibumu boleh saja memilih single, tapi masak kau juga ikut-ikutan single?”

“Baiklah, sebentar lagi, sebentar lagi… kita sudah harus pulang, soalnya kasihan ibuku sendirian,” cengir Kevin sambil menyeruput avocado coffee-nya sampai habis satu tarikan napas.

***
Baru saja dia akan menyusun bon tagihan café yang kesekian—seperti biasa, jika setiap nongkrong Kevin belum juga bisa menggandeng lampirannya sendiri, maka dia yang harus membayari semuanya—matanya terpaku pada foto yang terselip di balik kantungan bertabir plastik bening di dompetnya. Setiap malam sebelum tidur, dia selalu berusaha tegar memandangi foto itu, dengan harap-harap syukur bisa membawanya ke alam mimpi, atau... benar-benar membawanya ke alam nyata, dengan kata lain mengajaknya menjadi lampirannya suatu hari nanti. Tapi apakah mungkin?

Ah, dia pandang lagi foto itu, wanita ini sudah tua, tidak zamannya lagi Kevin mengajak ibunya buat nongkrong di café, bisa-bisa dia jadi adonan empuk buat lelucon Yan dan kawan-kawan. Sampai saat ini, memang hanya ibunya satu-satunya foto wanita yang disimpannya. Wajar saja, wanita inilah yang sudah berjasa menanaknya jadi seranum sekarang. Jadi siapa lagi yang layak untuk Kevin simak selain ibunya sendiri?

Kevin sadar, sudah lama dia tidak berbagi waktu dengan ibunya, kecuali saat-saat di mana Kevin diceramahi sehabis meninggalkan dosa tak seberapa. Kevin ingin sesekali bisa mengajak ibunya untuk makan berdua, atau sekadar belanja bersama, agar kehangatan yang dulu paling diresapinya itu bisa dia rasakan lagi sekarang. Namun, dari dulu Kevin tak pernah bisa menang kalau tiba giliran membujuk ibunya.

“Sudahlah, Nak. Daripada kamu mengajak ibu, bukannya lebih baik kalau kamu cari pacar dan mengajaknya kencan?”

Kevin tercekat. Napasnya seperti dicegat lidah yang macat berkata-kata, karena bingung mau mengkhayal pacar dari pelosok mana.

Sebenarnya bukan karena Kevin tidak laku, atau karena persyaratannya sebagai lelaki kurang memadai untuk ditengarai para wanita modern yang keren. Ada juga cewek yang memberi sinyal awal padanya, tapi dari sejumput jumlah cewek yang dia sortir, hanya satu yang bisa membuat perasaan Kevin menjadi kental dan otaknya menjadi janggal. Kevin sempat mengelak dari semua gejala yang menggelitik nalurinya karena menganggap reaksi tubuhnya hanya kesilapan alam, tapi bukankah cinta selalu kerap mengacaukan logika?

“PING!!!” Sebuah getaran singkat kontan membuyarkan lamunan Kevin. Tampak nama “Celyn” bertengger di sudut layar BlackBerry-nya. Kevin senyum-senyum ranum. Kenapa bisa kebetulan sekali, pikirnya. Apalagi cewek yang menggetarkan BlackBerry-nya adalah cewek yang selama ini juga menggetarkan sendi-nadinya. Mungkin inilah saatnya untuk mulai menjajaki kehidupan berpasangan seperti Yan dan antek-anteknya yang lain. Daripada dia harus terus membayari cecunguk busuk yang suka meledek status ketunggalannya, bukankah lebih baik dia membayari cewek tunggangan jiwanya ini?

***
Lajur mata Kevin terpekur lagi pada foto di celah dompetnya itu. Kali ini senyumnya lain, terasa lebih segar karena sosok di foto itu juga masih muda, tidak sekusut kerut-marut yang habis termakan zaman. Apalagi, foto ini juga tidak didapatnya dengan mudah, melainkan melalui perjuangan nyali berbulan-bulan lamanya, baru foto itu bisa leluasa mampir menjadi lampiran dompetnya. Ya, masih sebatas lampiran dompet, karena untuk resmi menjadi lampiran hidupnya, masih butuh persetujuan dari ibu Kevin yang fotonya sekarang, ah… masih tetap di posisi semula kok, hanya saja sudah ditimpa dengan foto cewek pancangannya sekarang, yaitu Celyn.

Sampai saat ini, belum ada yang tahu perihal kedekatannya dengan Celyn. Kevin memang sengaja merahasiakan hal ini, agar tidak memancing kritik-polemik dari Yan. Begitu juga dengan ibunya sendiri, Kevin tidak mau buka-bukaan kartu. Dia ingin setelah semuanya matang, barulah Celyn diperkenalkan kepada ibunya.

Kevin paham, sebagai satu-satunya anak, ibunya pasti mematok syarat yang ketat untuk pasangannya. Salah satunya terbaca dari pesan ibunya, “Siapa pun pasanganmu kelak, tidak kalah penting juga, perhatikanlah siapa orang tuanya.”

Kevin tidak tahu pasti apa alasan ibunya berpesan begitu, tapi demi jaga-jaga, sedari awal dia sudah menelisik latar belakang keluarga Celyn dengan hati-hati. Malam ini adalah buktinya, dengan modal nyali dadakan, Kevin pun melapangkan kaki berkunjung ke rumah Celyn yang luasnya hampir menyekap sekujur tangkup matanya. Kalau bukan demi Celyn, mungkin lututnya sudah lumer duluan sebelum nangkring di depan orang tuanya.

Pertemuan itu sendiri berlangsung akrab, meski terkadang Kevin sempat terlihat gagap, sam-
pai-sampai Celyn yang harus membantunya menjawab. Hampir semua interaksi berasal dari ibu Celyn, sementara ayahnya hanya sesekali menimpali, sambil sibuk menyimak kontur wajah Kevin yang dirasanya amat familiar. Hasilnya, rata-rata interogasi malam itu berhasil diatasi Kevin, kecuali satu pertanyaan utama yang sengaja disimpan ayah Celyn sampai Kevin resmi lesap dari ambang gerbang rumah mereka.

“Celyn, ada yang ingin kutanyakan padamu,” seulas suara tampak tegas, “bersediakah kau jadi lampiranku?” Kevin terkekeh heboh sendiri, sambil sebelah tangannya membungkam rongga suara di BlackBerry-nya. Hatinya kegirangan, karena melihat dari reaksi orang tua Celyn, pastilah dia bakal lolos audisi. Namun dia tidak sadar, di wilayah rumah yang lain, air mata sudah meranggas dari pelupuk mata Celyn yang kuyu.

“Ah, Kevin! Ini bukan lagi waktunya main-main. Kau tidak tahu…,” Celyn melenguh, berusaha menetralisir candaan Kevin karena ada sesuatu yang ingin disampaikannya, sesuatu yang cukup serius, “baru saja terjadi keributan besar di rumahku!”

Air muka Kevin seketika berombak. Matanya lancip, bibirnya bercerai meninggalkan corong lebar di tengahnya.

“Haaahh? Apa yang terjadi, Cel? Bukankah tadi kulihat orang tuamu baik-baik saja?”

“Awalnya begitu Kev, tapi ayahku sudah mulai curiga sejak pertama kali melihatmu, karena dia bilang wajahmu mirip sekali dengan seseorang yang pernah sangat dia kenal.”

“Mirip seseorang? Memangnya siapa orang itu? Dan apa hubungannya denganku?”

“Kata ayahku orang itu sudah meninggal, tapi… tidak dengan istrinya. Dan terakhir…”

“Terakhir apa?”

“Semuanya berubah ketika kujawab pertanyaan terakhir dari ayahku.”

“Apa itu?”

“Nama ibumu!”

Tanpa mengulur jeda waktu lagi, Kevin langsung menghambur mencari ibunya yang sedang sibuk menggosok kerak-lemak piring di dapur. Status rahasia hubungannya dengan Celyn pun tidak lagi dijunjungnya. Isi hatinya berlumut, karena sama sekali tidak mengerti ada riwayat pedas apa yang menyangkut ibunya, sampai-sampai membuat emosi ayah Celyn mendadak masak dan terbakar.

“Jadi kamu sudah punya dambaan hati, Nak? Kenapa tidak kamu ceritakan dari awal? Siapa namanya?”

“Nama ayahnya Sukardi, dan nama ibunya Minah!” Kevin sengaja langsung menyebut nama orang tua Celyn untuk melihat reaksi ibunya, dan ternyata benar saja…

“Su… Sukardi? Minah…? Min…” ibunya menggelengkan kepala, garis dahinya bertumpuk tidak beraturan, seperti ada sesuatu yang mencongkel kenangan lamanya.

“Ya, Sukardi Tanoto dan Minah Amalia.“

“Tinggal di Jalan Asoka, yang rumahnya tak jauh beda dengan lapangan bola?” Melihat Kevin menganggukkan dagunya, gelengan ibunya melebar, seakan tak percaya dengan kenyataan di depannya, kenyataan yang tidak disadari Kevin telah menyebabkan dia harus menanggung label triple-single-nya selama hidupnya ini.

“Siapa mereka, Bu? Kenapa ibu bisa kenal dengan orang tua Celyn? Ada apa sebenarnya?”

“Tinggalkanlah dia, Nak. Demi kebahagiaanmu, dan juga kebahagiaan kita.” Mata ibunya mulai berangsur-angsur basah kebocoran air mata.

“Tapi kenapa, Bu? Celyn adalah wanita pertama yang pernah dan baru saja aku dekati. Kenapa aku harus meninggalkannya hanya karena perkara orang tua, yang sama sekali aku tidak tahu-menahu sedikit pun?”

“Kalau kau tahu bahwa orang tuanya adalah penyebab kematian ayahmu, masihkah kau tega mencintai anaknya?” napas ibunya mulai terisak, didesak tangis yang mengacak-acak batinnya. Kevin sendiri tersentak mundur, tatapannya ikut gugur dari pangkalan matanya, bersamaan dengan cerita yang mengucur deras dari bibir getir ibunya.

Ternyata, Sukardi adalah teman terbaik yang pernah dimiliki ayah Kevin, juga rekan bisnis yang paling berbakat. Ayah Kevinlah yang memberinya kesempatan untuk bergabung dengan bisnisnya, tapi tidak disangka, hanya demi ambisi, Sukardi tega mengkhianati ayah Kevin dan merebut bisnisnya, sampai-sampai ayahnya terbelit utang besar dan akhirnya diseruduk stroke! Sukardi malah tidak merasa bersalah, bahkan tidak membantu sedikit pun biaya pengobatan ayah Kevin yang telah berjasa padanya. Tepat sebulan sebelum Kevin lahir, ayahnya pun meninggal.

“Jadi, atas dasar nurani apa ibu dapat merestui hubunganmu dengan anak dari orang yang sudah mencelakakan ayahmu dan juga membuat ibumu menjanda?”

“Tapi, Bu, kenapa harus kami yang menjadi korban? Kenapa?”

“Lantas ayahmu bukan korban? Atau kau juga ingin ibumu mati sekalian jadi korban baru kau puas?” hardik ibunya, sembari mencampakkan piring yang tercebur ke bak penampungan, lalu melesat pergi dari hadapan Kevin.

Napas Kevin merapuh, hingga lututnya juga ikut lumpuh. Kevin sadar, tidak ada satu pun cara yang dapat ditempuh dalam kondisi begini. Ini adalah kali pertama dia begitu serius pada seorang wanita, tapi di sisi lain dia juga tidak ingin mengecewakan ibunya. Dua-duanya ingin dia pilih, sebagaimana dua lembar foto di dompetnya yang saat ini sedang dipandanginya bergantian. Dia tidak pernah menyangka bahwa takdirnya memang hanya untuk memiliki satu lembar foto, dan satunya lagi harus jadi korban, tapi siapa?

Samar-samar dalam galau yang sempoyongan, Kevin masih berusaha mencari jalan tengah untuk dilema ini, tapi akalnya tak lagi normal, sampai-sampai tebersit olehnya untuk kabur dengan Celyn. Bahkan saking kecewanya, sempat juga ada kelebat bejat di benaknya untuk benar-benar membuat ibunya menjadi korban, ketika melihat kilatan pisau yang tertambat di rak dapur. Namun belum lagi benaknya berbenah, sebuah pesan singkat sudah masuk menyingkat lamunannya.

“Maafkan aku Kev. Aku mencintaimu, tapi aku juga tidak ingin jadi pacar durhaka!”

Kontan saja, setelah menghakimi isi pesan itu, lahar amarah Kevin tambah membuncah. Dicabutnya pisau tadi dari rak, lalu diacungkannya tepat di pucuk matanya.

“Daripada aku yang sengsara, lebih baik kuakhiri saja semuanya.”

Dalam sekejap, pisau itu pun lengkap tertancap. Dapur itu jadi hening, tidak ada lagi penampakan apa pun di situ, selain dua lembar foto yang tergeletak persis di puncak rak dapur. Keduanya kini sama-sama tampak berkerut. Yang satu kerutnya asli, karena termakan zaman, sedang yang satunya lagi berkerut, karena bekas amuk tusukan.

***
"PING!!!” Sebuah getaran singkat menyela Kevin yang sedang bersiap-siap akan keluar rumah. Tampak nama “Susi” berkacak di sudut layar BlackBerry-nya. Kali ini sendi-nadi Kevin tidak ikut bergetar, raut matanya datar dan hatinya juga hambar-hambar saja. Kevin memang sedang menunggu kabar dari Susi yang berjanji akan mengenalkan Kevin dengan seorang teman asramanya.

“Bu, Kevin permisi keluar rumah dulu ya, ada janji dengan teman,” pamit Kevin sambil mengecup penampang tangan ibunya.

“Janji kencan ya, Nak?” ibunya tersenyum, senang melihat Kevin yang sudah pulih dari cobaan cintanya yang pertama.

“Bukan kok, Bu. Kevin hanya akan diperkenalkan oleh teman Kevin dengan teman satu asramanya.”

“Oh. Temannya itu… laki-laki atau wanita?”

“Cewek, Bu. Kata Susi orangnya baik dan dewasa, terus pastinya mandiri banget soalnya kan cuma tinggal sendirian di asrama.”

“Baiklah, hati-hati di jalan, Nak. Jangan ngebut!” Kevin membalas dengan anggukan dagunya, sambil mengeluarkan dompetnya untuk memeriksa kelengkapan surat-surat kendaraannya. Sekilas terlihat oleh ibunya ada foto sepasang remaja yang terselip di sana. Yang satunya Kevin sendiri, dan yang satunya lagi adalah orang yang selama ini paling dekat dengannya.

“Ah, ternyata Yan!” batin ibunya.

“Eh, Nak! Tunggu sebentar!” dengan cepat ibunya menarik lengan Kevin yang sudah hampir cabut dari pijakan, sepertinya ada sesuatu yang sangat penting, dan serius, yang ingin disampaikannya.

“Ingat pesan ibu?”

“Maksud ibu… mengenai orang tuanya?”

Ibunya mengangguk dangkal.

“Tenanglah, Bu. Kali ini kita aman,” tukas Kevin menenangkan ibunya, lalu menyusur ke ambang telinganya sambil berbisik, “Cewek ini yatim piatu!”***

Medan, 24 Maret 2012

Thursday, March 1, 2012

About Me



DAVID TANDRI, penulis muda kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Saat ini berdomisili di Medan, Sumatera Utara, Indonesia.

Pernah aktif dalam berbagai organisasi kepenulisan yaitu dengan menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Tabloid Sekolah Methodist-2 Medan yaitu “Teen of M-2” (2004—2006), Sekretaris Pelaksana pada komunitas penulis Perspektif (2005—2007), sebagai Wakil Ketua dari Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Medan dari tahun 2006—2008, dan terakhir penulis kembali mendapat kepercayaan dalam bidang media massa cetak dengan menjabat sebagai wakil ketua II pada struktur kepengurusan Majalah Sastra “Horas” (2008).

Selain berkarier di bidang pekerjaan dan organisasi, sejak tahun 2003 penulis juga aktif menghasilkan berbagai tulisan seperti esai, artikel, kritik, puisi, cerpen, resensi dan format tulisan lainnya. Tulisan-tulisan ini telah dimuat di berbagai media massa cetak lokal, nasional dan online. Penulis juga telah aktif sebagai blogger sejak tahun 2009, dengan blog pribadinya yaitu www.davidtandri.com.

Berbagai penghargaan dalam bidang kepenulisan telah berhasil diraih, di antaranya: juara II (dua) wilayah Sumut pada Sayembara Penulisan Cerpen Remaja yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Medan tahun 2004, juara V (lima) pada Kompetisi Esai Nasional yang diselenggarakan oleh IKAPI Jakarta tahun 2004, juara V (lima) nasional pada Festival Kreativitas Pelajar kategori cerpen yang diselenggarakan oleh STIE Widya Wiwaha Yogyakarta tahun 2005, dan juara I (pertama) wilayah Sumut pada kompetisi Aplaus Abdi Mahakarya (AAM) 2009 kategori artikel feature yang diselenggarakan oleh Tabloid Aplaus The Lifestyle tahun 2009.

Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Takbir" (2012). Saat ini penulis tengah bersiap untuk menggarap novel pertamanya: Lonesome Sickness.***