"Ada jalan yang kusebut namanya kenangan, sebab muaranya buntu, di mana cinta dan luka kerap bertemu dalam keadaan rancu" — David Tandri

Friday, August 25, 2006

Antara Gengsi dan Cinta


Wajah Vyn yang cute itu sekarang tak ubahnya seperti jeruk purut. Dari keningnya, sudut matanya bahkan sampai bibirnya tak satu pun yang menampakkan lekuk-lekuk kegembiraan. Untung saja, Vyn tidak sampai mencak-mencak, karena bagaimanapun sesungguhnya, Vyn adalah seorang cewek yang amat lembut dan feminim, alias benar-benar perempuan!

Mungkin boleh dibilang, keistimewaannya itulah yang secara tidak langsung sudah menyebabkan Vyn jadi gadis murung. Bayangkan saja, dengan paras yang nyaris sempurna ditambah lagi sama pembawaan yang bak bidadari itu, cowok mana yang bakal tidak kesengsem melihat dia. Puncaknya… ya perkenalan Vyn dengan seorang cowok yang tiba-tiba saja nyosor ke depan Vyn saking tidak tahan. Mendapat perlakuan seperti itu, jelas saja Vyn terkejut dan trauma, apalagi Vyn kan cewek yang sudah biasa sama yang lembut-lembut….

“Agresif banget sih itu cowok. Ngeri aku!” keluh Vyn sama Jean, sohib kentalnya yang mungkin sudah kenyang mendengarkan celetukan Vyn.

“Bagus dong kalau cowok agresif. Memangnya kamu mau sama cowok yang pasif? Nanti mati kelaparan kamu!” sembur Jean.

“Iya sih… tapi pelan-pelan kenapa?! Aku ngeri deh lihat cowok berdarah kerbau kek gitu. Sampai-sampai aku kira mau diperkosa.”

“Hahaha… ada-ada saja kamu. Mana mungkin lagi dia perkosa kamu. Soalnya dari tatapan matanya aku lihat dia suka banget loh sama kamu. En tampangnya kan boleh juga. Keren, cool lagi… se-cool namanya, Dave. Wuaw!”

“Ih, amit-amit deh kamu! Kamu saja yang jadi matadornya!” ejek Vyn sambil menarik tangan Jean cabut dari TKP.


*****

Sejak perkenalannya dengan Dave, Vyn malah jadi berubah. Vyn yang semula selalu mendominasi pagi, siang dan malam dengan celetuk kanaknya, kini malah lebih sering berdiam diri. Kebisuan Vyn malah jadi bahan tertawaan paling mengocok buat Jean. Tak jarang Jean sampai terbahak-bahak memegangi perut melihat wajah Vyn yang mirip orang lagi mengejan “bom”.

Vyn sendiri tidak tahu apa penyebab dia menjadi down seperti itu. Yang bisa Vyn lakukan cuma menyalahkan kejadian menyeramkan yang akhirnya membuat dia jadi tidak beres, bahkan terserang insomnia. Entah kenapa yang Vyn pikir itu-itu terus. Biarpun hati rasanya ingin berontak, tapi Vyn betul-betul tak berkutik. Segala perasaan berkecamuk di ruang batinnya. Dan yang lebih mengganggu lagi yaitu bayang Dave yang terus menari-menari di pelupuk mata Vyn.

Kalau sudah begini jadinya, biasanya Vyn akan menjadikan buku sebagai pelarian. Yah… supaya bayang Dave yang terus berkelebat bisa tergantikan sama huruf-huruf. Kebiasaan Vyn ini sudah berlangsung selama kurang lebih 1 bulan dan seiring waktu yang terus bergulir, Dave mulai sering menelepon Vyn dan ini pun membuat Vyn makin sering membaca buku.

“Ada yang aneh ni yee…. Lagi santai-santai begini malah baca buku, biasanya pada nyerocos. Kok tiba-tiba jadi tumben ya?!” goda Jean dengan senyum sesudut di bibirnya yang merah-tipis.

“Jangan nyindir kamu, nanti aku piting baru tahu rasa,“ ancam Vyn tanpa melepaskan tatapan dari buku.

“Ih… piting? Wuah… kayaknya ada nih orang yang jadi ketularan berdarah kerbau. Ganas banget gitu loh….” Jean terus saja menggoda Vyn yang sudah mulai tampak ngambek. Memang sudah jadi hobi Jean menggoda sohibnya yang lugu itu. En ternyata, Vyn malah kelihatan makin cute kalau lagi ngambek.

“Enak saja kamu! Aku ini betul-betul perempuan loh, kayak yang dibilang si David Tandri yang mantap itu.”

“Iya deh cewek! By the way lagi baca buku apa itu?”

“Ada saja lagi. Mau tahu saja urusan orang. Wekz!”

Mendapat ejekan nakal seperti itu, Jean pun membalas dengan mencoba merebut buku Vyn. Tapi rupanya Vyn yang tambah cergas bukan lagi tandingan Jean. Kekalahan Jean akhirnya berlanjut pada adegan kejar-kejaran yang juga dimenangkan oleh Vyn, dengan pose akhir Jean yang terpiting oleh Vyn dengan sebelah kaki terangkat ke atas. Dan setelah tepukan tiga kali ke lantai, spontan Vyn pun meneriakkan, “Tong, tong, tong….”

Kriiing… kriiiing….

“Akh! Aduh!” Vyn yang baru saja menjadi pemenang sabuk juara wrestling antarwanita itu tiba-tiba dikejutkan oleh dering telepon. Pitingan keduanya sontak lepas dan Vyn menjadi gelisah tak karuan sambil matanya terus memandangi pesawat telepon yang berdering.

“Ah… aduh…. Ngapain sih kamu? Diangkat dong teleponnya. Masak dipandangin doang!”

Vyn tetap bergeming. Suara telepon itu membuat wajah Vyn berubah pucat.

“Heeiiy!! Kamu ngapain sih? Kok mematung pula. Otak kamu kram ya? Angkat dong itu telepon!!”

“Aduh… anu… kamu saja deh yang angkat. Itu pasti dari Dave. Aku malas ngomong sama dia.”

Loh, angkat dulu dong. Sempat dari orang lain gimana?”

“Masa bodohlah. Pokoknya kamu saja yang angkat.”

Begitulah penolakan yang selalu terjadi setiap kali telepon berbunyi. Sesungguhnya penolakan yang Vyn lakukan akhirnya justru menimbulkan hal yang tidak dia duga-duga. Keregangan jarak yang Vyn rentangkan lama-kelamaan justru menimbulkan riak-riak kecil yang tidak dapat dia terjemahkan apa sebenarnya. Namun, semua itu secara perlahan mulai menjalar dalam sikap dan tingkah lakunya.

Tentu saja Vyn menyadari perubahan dirinya ini. Tapi untuk menutupi rasa malunya, Vyn pun selalu melakukan tindakan elakan dari Jean, yaitu berbohong dengan berpura-pura mengatakan kata-kata yang seolah-olah menunjukkan Vyn begitu anti terhadap Dave. Biar demikian, setiap malam dalam tekanan insomnianya akibat kelebat bayang Dave, sering terdengar samar Vyn berucap lirih, “Aku menderita banget….”


*****

Waktu berjalan cepat. Tidak terasa Vyn sudah mengoyak 92 lembar almanaknya, seperti cuma sekedip mata. Lambat laun sohib yang sehari-harinya bergumul dengan Vyn, Jean, mulai merasakan perubahan dalam diri Vyn. Hanya saja, Jean mencoba untuk bersikap pura-pura, mengikuti Vyn yang juga berlagak lugu. Tapi biarpun begitu, sebagai sohib dekatnya, Jean tentu memahami perasaan Vyn dan ingin berbuat yang terbaik buat Vyn. Makanya, Jean terus berusaha supaya Vyn mau mengeluarkan kejujuran dan memuntahkan seluruh perasaan yang mendap di hatinya.

Dalam masa-masa belakangan ini juga, Vyn sudah bisa membiasakan dirinya untuk keluar bareng Dave. Yah… sekarang jadi giliran Vyn yang tidak tahan. Vyn yang sifatnya memang supel tak kuasa menolak ajakan Dave, di samping tuntutan gejolak kerinduannya yang ingin menghabiskan waktu lebih bersama Dave. Tapi dasar Vyn gengsi, dia malah memakai “topeng” dengan berpura-pura memasang tampang terpaksa, terutama kepada Jean yang dianggapnya sesama cewek.

Jean tentu tahu gelagat Vyn, apalagi Vyn yang lugu kadang tak sadar menunjukkan kesukaannya kepada Dave. Sekarang ini, selain Jean, yang paling dekat dengan Vyn ya kaca. Semenjak kedekatannya dengan Dave mulai beranjak ke tahap kencan, hampir tak henti-hentinya Vyn berkaca. Dari atas, bawah, samping, depan, belakang semua dilihatnya lekat-lekat. Semua gaya diperagakannya bak seorang supermodel. Tak jarang Vyn juga senyum-senyum sendiri, dan yang lebih tidak waras lagi, Vyn juga mencoba berbagai bentuk mimik ekspresi, kayak muka kehilangan kontrol.

Melihat itu, Jean cuma bisa geleng-geleng kepala. Sebetulnya Jean merasa kecewa juga kenapa cuma karena soal ini Vyn tidak mau berterus terang dengannya. Lama-kelamaan, Jean mulai tidak sabar dengan tindak-tanduk Vyn dan dia merasa sudah saatnya membangunkan Vyn.

“Cewek, aku tanya dulu. Sudah berapa lama sih kita sohiban?”

“Hah? Kok kamu tiba-tiba tanya ini. Kenapa tuh? Mau berhenti ya?”

“Dasar! Aku serius nih. Kamu jangan main-main deh. Jawab dulu pertanyaan aku tadi!”

“Yah… sudah lama sih. Dari kita kecil kan?”

“Nah, kamu juga sadar kan. Tapi kenapa untuk soal yang begini saja kamu tidak mau bilang ke aku?”

“Soal apaan? Tak ngerti aku.”

“Sudah deh jangan pura-pura lagi. Cukup sekian. Sebetulnya kamu punya perasaan kan sama Dave?”

“Hyaaa… aku tak ada kok bilang kek gitu.”

“Masih mau mengelak lagi! So buat apa kamu sekarang pada megal-megol di depan kaca? Kamu mulai perhatikan penampilan kan? Padahal dulu saja sisir setahun sekali baru ganti. Buat apa kamu lakukan semua ini kalau bukan buat Dave?”

“Tapi kan....”

“Sudah deh, Vyn! Kalau kamu masih menganggap aku sohib baik kamu, tolong… ceritakan semua perasaan kamu. Aku juga tidak mau lihat kamu kek begini terus!”

“Iya deh, iya… aku ngaku. Aku memang sayang banget sama Dave.”

So, kok begini saja kagak mau ngomong?”

“Habis aku gengsi, girl!”

“Gengsi? Kamu bilang gengsi? Hahaha… sejak kapan kamu tahu soal gengsi-gengsian? Padahal setahu aku kamu kan masih cewek kelas plankton.”

“Weee… kamu jangan ngejek ya. Kamu tidak tau kan kalau buku yang aku baca waktu itu buku tentang gengsi? Buku itu memang khusus aku beli buat membentuk sikap aku sama Dave.”

“Dasar otak kusut! Kok bisa sih kamu punya pikiran kek gitu? Kalau kamu memang sayang sama Dave, ya diomongin. Jangan kayak waktu itu telepon bunyi didiamkan. Segala sesuatu yang didiamkan tidak bakal ada hasilnya. Kamu pasti mau kan cinta kamu ada hasil?”

“Iya sih... tapi di buku itu mengajarkan yang namanya cewek selalu tidak boleh mulai duluan.”

“Baik kalau kamu bilang gitu. Tapi aku tanya dulu, gimana kalau seandainya Dave tiba-tiba menyerah cuma gara-gara sikap gengsi kamu itu? Apa kamu tidak sadar bisa saja Dave mengira kamu tidak suka sama dia hanya karena sikap bodoh kamu itu? Kamu rela melepas cinta yang sudah jelas-jelas datang sama kamu? Ingat, Vyn! Mendiamkan cinta adalah dosa yang paling tidak bisa dimaafkan. Kalau kamu memang sayang ya cepat ungkapkan ke Dave, sebelum semuanya terlambat. Kamu tidak mau kan kalau Dave akhirnya jadi milik orang lain?”

“Aduh, jadi gengsinya gimana? Buku aku....”

“Persetan sama gengsi! Sekarang yang mencinta itu kamu atau penulis bukunya? Jangan ikut-ikut orang lain dong! Ingat, you are you!”

Vyn lama merenung setelah mendengar penjelasan Jean. Dalam hatinya, Vyn cuma tahu satu hal, dia memang mencintai Dave. Dan Vyn juga sadar kalau dia sudah tidak tahan lagi dengan tekanan kebohongan yang membuat cintanya semakin meronta-ronta.

“Vyn, kebahagiaan kamu ada di tangan kamu sendiri. Aku cuma bisa memberi kamu yang terbaik lewat kata-kata. Selanjutnya, terserah kamu!” Jean pun akhirnya melepas sohibnya dan pergi keluar dari kamar. Dia paham bagaimana seseorang yang sedang didera cinta butuh pemikiran panjang hanya untuk setitik hal. Jean yakin, justru dalam kesedihannya, Vyn bisa lebih merasakan cintanya kepada Dave.

Sepeninggal Jean, Vyn sama sekali tak mampu berbuat apa-apa. Dia benar-benar tenggelam dalam kebisuan, di samping hatinya yang terus bergeletar amat ingin bicara. Membicarakan cinta!

Sungguh, cinta telah membuat Vyn yang lugu menjadi sadar akan banyak hal. Vyn baru tahu, ternyata di kala seseorang sedang mencinta, maka dia akan menjadi orang yang paling bodoh di dunia. Pikiran menjadi kosong dan tidak tahu harus berbuat apa. Vyn juga baru tahu, ternyata pengharapan yang terbesar dalam hidup seseorang adalah ketika dia sedang mengatakan cinta....

Dipandangnya pesawat telepon. Waktu itu juga, Vyn merasa sudah saatnya buat mewujudkan pengharapannya, pergi mencari sebelah cintanya. Di tempat lain, Jean sedang menanti di balik pintu, menunggu penyempurnaan harapannya dan juga harapan sohib tersayangnya itu.

“Halo, Dave. Ini aku, Vyn.”

“Vyn? Apa benar ini Vyn? Aku tidak mimpi kan?”

“Tidak kok, Dave. Kamu tidak mimpi. Ini memang aku, Vyn.”

“Ah... syukurlah. Tapi kok tumben banget kamu bisa call aku?”

“Vyn sontak terdiam. Kata ‘tumben’ yang diucapkan Dave serasa menghempasnya entah ke lautan mana. Vyn baru sadar betapa dia sudah begitu membatasi dirinya terhadap Dave. Vyn tahu dia telah mengkhianati cintanya.

“Maafkan aku, Dave. Aku janji kelak tidak bakal ada lagi kata tumben. Aku menyesal en sekarang sudah saatnya aku mengatakan apa yang selama ini aku buat tertidur.”

“Mengatakan apa Vyn? Aku betul-betul tidak mengerti.”

“Dave, kamu dengar kata-kata ini baik-baik. If I’m blind, the first I wanna see is you. If I’m deaf, the first I wanna hear is your sound. If I can smell, the first I wanna feel is your breathe. If I can touch, the first I wanna hold is your hand. And If I can talk, the first I wanna say is... I love you!”

“Ha? Vyn? Kamu kenapa nih? Kok jadi kamu yang mimpi. Kalau pening minum Panadol sana gih!”

“Dave! A true love never tells a lie.”

“Vyn, aku benar-benar tidak berani mengerti! Aku benar-benar tidak yakin kamu bisa en mau ngomong itu duluan ke aku.”

“Persetan dengan gengsi!” jawab Vyn tegas. Jean yang mendengar itu dari balik pintu terkekeh berat menahan geli. “Gengsi hanya mengkhianati cinta dan aku tidak mau terus-terusan lari dari apa adanya aku. Perempuan bukan penakut. Perempuan juga punya hati, sama seperti lelaki, sama-sama manusia. Lalu kenapa perempuan yang mencinta hanya harus menanti? Cinta butuh jujur, Dave. Dan hatiku bilang kamu cinta aku.”

Thanks, Vyn. Thanks a lot. Aku betul-betul tidak percaya kamu bisa melakukan itu. Aku salut sama kamu. Sebetulnya kamu juga tau kan, sudah sejak lama aku sayang banget sama kamu. Dan aku senang banget ternyata cinta aku ada balasnya. Aku juga suka banget sama kata-kata kamu tadi dan tahukah kamu kalau kamu juga berharga banget buat aku? Bagi aku kamu bukan hanya yang pertama di saat aku buta dan tuli, tapi kamu juga yang terakhir buat aku di saat aku mati. Sikap kamu membuat aku tambah kagum sama kamu dan memang... cinta itu ada untuk berkata, berwarna dan bersama. Dan kamu telah melakukan itu, Vyn!”

Thanks, Dave. Really thanks. Aku juga bahagia banget pengharapan aku akhirnya lengkap sudah karena kamu telah menjawab dengan cinta kamu yang penuh. Kini kita berdua telah sama-sama membentuk satu kebahagiaan. Kebahagiaan yang sejati, Dave. Dan malam ini juga akan menjadi malam yang tidak akan aku lupakan dan biar, malam ini bisa berulang besok dan terus sampai kita tak mampu untuk berkata besok lagi.”

“Baik, Vyn. Mari kita resapi malam ini untuk cinta yang begitu membutuhkan waktu. Good nite, Vyn. Love you....”

Nite, Dave. Love you too....”

Vyn akhirnya meletakkan gagang telepon dengan kebahagiaan yang melembak-lembak. Seuntai senyum dari hatinya dan senapas kebahagiaan dari kemenangannya, antara gengsi dan cinta. Malam pun begitu indah mengikuti mereka dengan menampilkan purnama di langit atas. Vyn menatapnya lekat sambil hatinya melayangkan cinta mereka yang telah satu supaya serupa dian malam sempurna itu, menjadi seutuh-utuhnya purnama, seputih-putihnya purnama, seterang-terangnya purnama.

Di balik pintu, Jean turut larut dalam kebahagiaan sohibnya itu. Baginya, tiada lagi yang lebih penting dalam hidupnya selain kebahagiaan Vyn. Dia tak dapat membayangkan bagaimana jadinya hari-hari Vyn bersama Dave yang penuh makna. Tapi, dalam penjelajahan benaknya, tiba-tiba saja pikiran Vyn menikung ke satu hal yang membuatnya terkekeh lucu. Dalam hatinya, Jean membatin geli, “Akhirnya... jadian juga kerbau sama kerbau.”***


Medan, 25 Agustus 2006 – 22.44 WIB

(kupersembahkan cerita ini buat semua wanita yang mengerti dan menghargai cinta)


* cerpen ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 15 April 2007

Wednesday, February 8, 2006

Valentine Buta


Hatiku benar-benar tidak tenang. Rasa cemas terus saja berkecamuk dalam dadaku. Dari tadi aku hanya dapat mondar-mandir mencari jalan keluar, tapi pikiranku selalu mentok.

Dua hari lagi adalah hari kasih sayang. Hari Valentine. Semua orang pasti sudah menyiapkan surprise yang berkesan buat pasangannya. Aku sendiri hanya mampu menelan ludah setiap kali melihat pajangan-pajangan yang berserak di toko.

Valentine kali ini memang gawat bagiku. Kocekku lagi tipis. Lagi bokek. Inilah yang membuatku bingung tak karuan sedari tadi. Aku tak punya cukup budget untuk membeli hadiah buat Cathie, pacarku. Pasti akan malu sekali kalau di Hari Valentine ini aku sampai tidak memberinya apa-apa.

Aku tak berani meminta uang sama bonyok. Mereka sudah memberiku banyak. Sebetulnya aku pun berencana menabung uang itu untuk membeli kado buat Cathie. Tapi dasar sial, uangku selalu ludes oleh pengeluaran mendadak. Lagipula, aku ini kan sudah dewasa, malu dong minta-minta terus sama bonyok. Yang pacaran kan aku, berarti aku dong yang harus menanggung semua pengeluaran untuk itu.

Namun kali ini aku benar-benar mati daya. Duit di dompetku tinggal sepuluh ribu. Tak mungkinlah aku mengajak Cathie makan mi kuah berdua di warung. Aduh… malunya aku ini. Apa yang harus kuperbuat sekarang?

Oh… kenapa tak terlintas di benakku untuk meminta bantuan pada Henry? Sudah lima tahun aku berteman dengannya. Dia pasti mau membantuku lepas dari kesulitan ini. Ya, aku akan meminjam uang padanya. Wah… such a good idea!

Dengan sekelabat aku langsung menyambar Hp-ku. Kecemasan hatiku pun mulai berangsur terobati.

“Halo, selamat malam!” terdengar suara di seberang sana.

“Hen, ini aku Marco. Lagi ngapain tuh?”

“Oh… kamu tuh. Lagi santai kok. Memangnya ada apa tuh?”

“Mmm… begini bro. Aku ada masalah mau minta bantu sama kamu. Dua hari lagi kan Valentine’s Day. Aku lagi butuh uang untuk beli kado buat cewek aku, itu loh si Cathie. Kamu bisa pinjam aku nggak?”

“Aduh, sori Co! Tiba-tiba aku teringat tugas yang harus aku kerjakan. Sudah dulu ya.”

“Eh… Hen, tunggu! Halo… halo….”

Tut… tut… tut….

Sialan itu anak! Tiba aku mau pinjam duit, teleponnya langsung dimatiin. Berlagak sibuk segala lagi. Kok tega-teganya sih dia memperlakukanku begitu? Lantas ini arti dari lima tahun persahabatan kami?

Gara-gara sikapnya aku jadi tambah gelisah, ditambah lagi kecemasan yang kembali menyelimuti hatiku. Pikiranku jadi kocar-kacir. Aku sungguh tak tahu apa lagi yang harus kulakukan untuk membahagiakan Cathie di Hari Valentine nanti. Tak satu pun ide yang bisa hinggap di benakku yang kusut.

Waktu melesat begitu cepat. Jujur saja aku jadi takut melewati hari. Entah program apa yang harus kususun untuk kencan kami nanti. Makin dipikir makin stres saja. lebih baik aku tidur. Siapa tahu aku bermimpi dan bisa mendapat ide buat acara kencan kami nanti. Yah… semoga saja! “Tolonglah aku dewi cinta!”


*****

Kulirik kalender yang tergantung di dinding. Angka 14 yang besar itu seakan hendak menghunjam mataku. Jam juga sudah menujukkan pukul 4 sore. Waktu kencan kami tinggal tiga jam lagi. Kencan kali ini aku pilih di taman kota saja. Maklumlah, sepuluh ribu mana sanggup makan di resto.

Aku memang belum mengatakannya pada Cathie. Aku merasa ragu. Setiap kali aku mengangkat gagang telepon, aku selalu meletakkannya kembali. Tapi untuk sekarang, aku harus bisa mengungkapkan tempat kencan kami nanti kepada dia. Aku harus bisa mengontrol emosiku. Aku harus bisa menunjukkan bahwa aku seorang laki-laki. Aku tidak mau Valentine kali ini menjadi tidak berarti.

“Halo Cathie, ‘pa kabarnya? Aku rindu banget sama kamu sayang. ‘Met Hari Valentine ya? Malam ini kita ketemu yuk. Kita jalan-jalan,” ujarku dengan jantung berdegup kencang.

“’Met Hari Valentine juga…. Mau jalan-jalan ke mana tuh? Aku juga rindu banget nih sama kamu.”

Tenggorokanku tercekat. Tiba-tiba saja bibirku membeku tak mampu berucap sepatah kata pun. Tapi sekali lagi aku ingat bahwa aku ini laki-laki. Aku tak boleh menyerah begitu saja. Kulibas dulu segelas air untuk melegakan tenggorokanku, lalu aku kembali menyambung….

“Ee… ee… kita kencannya di… di taman kota saja ya?”

“Di taman kota? Wah… seru juga tuh. Oke deh, aku tunggu kamu ya? Da….”

“Da… sayang. See you later.”

Pffuahh. Akhirnya aku bisa melepas napas lega. Satu tantangan sudah kulewati. Tinggal satu lagi. Aku harus berani ketemu dia dengan tangan kosong….


*****

Malam ini terasa tak ramah. Semilir angin dingin yang menerpaku memaksaku harus mendekap kedua kakiku demi mendapat sedikit kehangatan. Wajahku semakin kubenamkan di antara kedua lututku manakala kulihat pasangan-pasangan yang berseliweran di segala penjuru taman asyik memadu asmara. Lengkap lagi dengan kado yang membuat wajah para cewek berseri-seri. Ada sedikit rasa cemburu yang menyembul di hatiku kala kuperhatikan mereka.

Honey!” sekonyong-konyong seuntai suara memecah lamunanku. Cathie datang. Cathie sudah datang! Astaga… aku benar-benar tak punya muka bertemu dengannya. Tanganku gemetaran. Wajahku pucat. Jantungku malah turut meningkahi kegelisahanku.

“Ada apa denganmu, sayang? Kenapa wajahmu cemberut gitu. Hari ini kan hari bahagia kita,” Cathie mendayu lembut sambil tangannya membelai kepalaku. Mata indahnya menyemburatkan kasih sayang yang amat dalam. Aku semakin tak kuasa menahan resah-gundahku.

“Cathie, aku minta maaf. Aku merasa amat bersalah di Hari Valentine yang indah ini. Aku hanya menyambutmu dengan tangan kosong. Maafkan aku, sayang. Aku tak punya uang untuk membelikan sesuatu untukmu. Aku merasa aku ini benar-benar laki-laki tak berguna,” ucapku lirih.

“Marco, kenapa kamu berkata begitu? Cinta kita ini kan murni. Tulus. Cinta kita tidak diiming-imingi oleh sesuatu apa pun. Kamu jangan menganggap diri seperti itu dong.”

“Tapi, aku merasa…”

“Tidak, sayang!” potongnya tanpa membiarkan aku menyelesaikan kalimatku. Jari lembutnya menyentuh bibirku, menyuruhku untuk tidak melanjutkan kata-kata.

“Kamu adalah yang terbaik untukku. Cintaku ini juga sepenuhnya untukmu. Bukan cinta yang dapat dibeli dengan apa pun di dunia ini. Atau kamu malah menganggap aku ini cewek yang materialistis?”

“Tidak, Cathie. Aku hanya ingin memberimu sedikit kejutan supaya kamu bisa bahagia di Hari Valentine ini. Hanya itu kok sayang,” mataku sendu menatap wajahnya yang selalu mampu menghadirkan kedamaian di hatiku.

“Kamu tidak perlu memberiku apa-apa, Marco! Bagiku bisa mendapatkan cinta dan perhatianmu saja itu sudah lebih dari cukup. Hanya kamulah yang paling berarti bagiku. Bukan yang lain.” Cathie menjamah tanganku, mengalirkan kehangatan yang singgah di hatiku.

“Terima kasih, Cathie. Kamu benar-benar gadis yang baik. Aku beruntung bisa bersamamu. Aku sayang sama kamu.”

“Aku juga sayang banget sama kamu,” ujarnya manja sambil melabuhkan kepalanya di pundakku. Aku merangkulnya erat. Segaris senyum akhirnya terbit juga di bibirku. Bagiku, senyum itu benar-benar berarti. Senyum yang datang oleh buaian kasih yang betul-betul murni.

Hari itu menjadi hari yang berkesan buat kami berdua. Menemani bunga-bunga yang ikut berbahagia, juga desiran angin yang sayup menjadi melodi yang mengiringi kebersamaan kami malam itu. Malam yang menebar sinar bulan temaram menerangi kami.

“Sayang, malam dingin begini perut jadi terasa lapar yah…,” Cathie tiba-tiba mengangkat suara.

Astaga… apa ini tantangan baru lagi buatku?

“Kita makan mi kuah yuk. Sudah lama nih nggak makan mi kuah. Sebetulnya itu makanan kesukaanku loh. Apalagi di suasana dingin menusuk begini.”

Mi kuah? Wah… kenapa bisa kebetulan begini? Tapi ngomong-ngomong, berarti sepuluh ribu yang ada dalam dompetku ada manfaatnya juga dong. Ajakannya itu membuat aku tersenyum lebar. Amat bahagia. Tanpa sadar aku menariknya semakin erat dalam dekapanku.

Matanya yang menyiratkan kesederhanaan membuatku tambah bahagia menjadi kekasihnya. Sungguh… aku amat bangga memiliki Cathie.

Dengan hati berbunga-bunga, aku menggandeng tangannya berjalan menuju warung terdekat. Warung yang terasa begitu mewah dalam kehangatan kasih kami, warung yang akan menjadi saksi kemurnian cinta kami.***


Medan, 08 Februari 2006


* cerpen ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 19 February 2006