"Ada jalan yang kusebut namanya kenangan, sebab muaranya buntu, di mana cinta dan luka kerap bertemu dalam keadaan rancu" — David Tandri

Wednesday, February 8, 2006

Valentine Buta


Hatiku benar-benar tidak tenang. Rasa cemas terus saja berkecamuk dalam dadaku. Dari tadi aku hanya dapat mondar-mandir mencari jalan keluar, tapi pikiranku selalu mentok.

Dua hari lagi adalah hari kasih sayang. Hari Valentine. Semua orang pasti sudah menyiapkan surprise yang berkesan buat pasangannya. Aku sendiri hanya mampu menelan ludah setiap kali melihat pajangan-pajangan yang berserak di toko.

Valentine kali ini memang gawat bagiku. Kocekku lagi tipis. Lagi bokek. Inilah yang membuatku bingung tak karuan sedari tadi. Aku tak punya cukup budget untuk membeli hadiah buat Cathie, pacarku. Pasti akan malu sekali kalau di Hari Valentine ini aku sampai tidak memberinya apa-apa.

Aku tak berani meminta uang sama bonyok. Mereka sudah memberiku banyak. Sebetulnya aku pun berencana menabung uang itu untuk membeli kado buat Cathie. Tapi dasar sial, uangku selalu ludes oleh pengeluaran mendadak. Lagipula, aku ini kan sudah dewasa, malu dong minta-minta terus sama bonyok. Yang pacaran kan aku, berarti aku dong yang harus menanggung semua pengeluaran untuk itu.

Namun kali ini aku benar-benar mati daya. Duit di dompetku tinggal sepuluh ribu. Tak mungkinlah aku mengajak Cathie makan mi kuah berdua di warung. Aduh… malunya aku ini. Apa yang harus kuperbuat sekarang?

Oh… kenapa tak terlintas di benakku untuk meminta bantuan pada Henry? Sudah lima tahun aku berteman dengannya. Dia pasti mau membantuku lepas dari kesulitan ini. Ya, aku akan meminjam uang padanya. Wah… such a good idea!

Dengan sekelabat aku langsung menyambar Hp-ku. Kecemasan hatiku pun mulai berangsur terobati.

“Halo, selamat malam!” terdengar suara di seberang sana.

“Hen, ini aku Marco. Lagi ngapain tuh?”

“Oh… kamu tuh. Lagi santai kok. Memangnya ada apa tuh?”

“Mmm… begini bro. Aku ada masalah mau minta bantu sama kamu. Dua hari lagi kan Valentine’s Day. Aku lagi butuh uang untuk beli kado buat cewek aku, itu loh si Cathie. Kamu bisa pinjam aku nggak?”

“Aduh, sori Co! Tiba-tiba aku teringat tugas yang harus aku kerjakan. Sudah dulu ya.”

“Eh… Hen, tunggu! Halo… halo….”

Tut… tut… tut….

Sialan itu anak! Tiba aku mau pinjam duit, teleponnya langsung dimatiin. Berlagak sibuk segala lagi. Kok tega-teganya sih dia memperlakukanku begitu? Lantas ini arti dari lima tahun persahabatan kami?

Gara-gara sikapnya aku jadi tambah gelisah, ditambah lagi kecemasan yang kembali menyelimuti hatiku. Pikiranku jadi kocar-kacir. Aku sungguh tak tahu apa lagi yang harus kulakukan untuk membahagiakan Cathie di Hari Valentine nanti. Tak satu pun ide yang bisa hinggap di benakku yang kusut.

Waktu melesat begitu cepat. Jujur saja aku jadi takut melewati hari. Entah program apa yang harus kususun untuk kencan kami nanti. Makin dipikir makin stres saja. lebih baik aku tidur. Siapa tahu aku bermimpi dan bisa mendapat ide buat acara kencan kami nanti. Yah… semoga saja! “Tolonglah aku dewi cinta!”


*****

Kulirik kalender yang tergantung di dinding. Angka 14 yang besar itu seakan hendak menghunjam mataku. Jam juga sudah menujukkan pukul 4 sore. Waktu kencan kami tinggal tiga jam lagi. Kencan kali ini aku pilih di taman kota saja. Maklumlah, sepuluh ribu mana sanggup makan di resto.

Aku memang belum mengatakannya pada Cathie. Aku merasa ragu. Setiap kali aku mengangkat gagang telepon, aku selalu meletakkannya kembali. Tapi untuk sekarang, aku harus bisa mengungkapkan tempat kencan kami nanti kepada dia. Aku harus bisa mengontrol emosiku. Aku harus bisa menunjukkan bahwa aku seorang laki-laki. Aku tidak mau Valentine kali ini menjadi tidak berarti.

“Halo Cathie, ‘pa kabarnya? Aku rindu banget sama kamu sayang. ‘Met Hari Valentine ya? Malam ini kita ketemu yuk. Kita jalan-jalan,” ujarku dengan jantung berdegup kencang.

“’Met Hari Valentine juga…. Mau jalan-jalan ke mana tuh? Aku juga rindu banget nih sama kamu.”

Tenggorokanku tercekat. Tiba-tiba saja bibirku membeku tak mampu berucap sepatah kata pun. Tapi sekali lagi aku ingat bahwa aku ini laki-laki. Aku tak boleh menyerah begitu saja. Kulibas dulu segelas air untuk melegakan tenggorokanku, lalu aku kembali menyambung….

“Ee… ee… kita kencannya di… di taman kota saja ya?”

“Di taman kota? Wah… seru juga tuh. Oke deh, aku tunggu kamu ya? Da….”

“Da… sayang. See you later.”

Pffuahh. Akhirnya aku bisa melepas napas lega. Satu tantangan sudah kulewati. Tinggal satu lagi. Aku harus berani ketemu dia dengan tangan kosong….


*****

Malam ini terasa tak ramah. Semilir angin dingin yang menerpaku memaksaku harus mendekap kedua kakiku demi mendapat sedikit kehangatan. Wajahku semakin kubenamkan di antara kedua lututku manakala kulihat pasangan-pasangan yang berseliweran di segala penjuru taman asyik memadu asmara. Lengkap lagi dengan kado yang membuat wajah para cewek berseri-seri. Ada sedikit rasa cemburu yang menyembul di hatiku kala kuperhatikan mereka.

Honey!” sekonyong-konyong seuntai suara memecah lamunanku. Cathie datang. Cathie sudah datang! Astaga… aku benar-benar tak punya muka bertemu dengannya. Tanganku gemetaran. Wajahku pucat. Jantungku malah turut meningkahi kegelisahanku.

“Ada apa denganmu, sayang? Kenapa wajahmu cemberut gitu. Hari ini kan hari bahagia kita,” Cathie mendayu lembut sambil tangannya membelai kepalaku. Mata indahnya menyemburatkan kasih sayang yang amat dalam. Aku semakin tak kuasa menahan resah-gundahku.

“Cathie, aku minta maaf. Aku merasa amat bersalah di Hari Valentine yang indah ini. Aku hanya menyambutmu dengan tangan kosong. Maafkan aku, sayang. Aku tak punya uang untuk membelikan sesuatu untukmu. Aku merasa aku ini benar-benar laki-laki tak berguna,” ucapku lirih.

“Marco, kenapa kamu berkata begitu? Cinta kita ini kan murni. Tulus. Cinta kita tidak diiming-imingi oleh sesuatu apa pun. Kamu jangan menganggap diri seperti itu dong.”

“Tapi, aku merasa…”

“Tidak, sayang!” potongnya tanpa membiarkan aku menyelesaikan kalimatku. Jari lembutnya menyentuh bibirku, menyuruhku untuk tidak melanjutkan kata-kata.

“Kamu adalah yang terbaik untukku. Cintaku ini juga sepenuhnya untukmu. Bukan cinta yang dapat dibeli dengan apa pun di dunia ini. Atau kamu malah menganggap aku ini cewek yang materialistis?”

“Tidak, Cathie. Aku hanya ingin memberimu sedikit kejutan supaya kamu bisa bahagia di Hari Valentine ini. Hanya itu kok sayang,” mataku sendu menatap wajahnya yang selalu mampu menghadirkan kedamaian di hatiku.

“Kamu tidak perlu memberiku apa-apa, Marco! Bagiku bisa mendapatkan cinta dan perhatianmu saja itu sudah lebih dari cukup. Hanya kamulah yang paling berarti bagiku. Bukan yang lain.” Cathie menjamah tanganku, mengalirkan kehangatan yang singgah di hatiku.

“Terima kasih, Cathie. Kamu benar-benar gadis yang baik. Aku beruntung bisa bersamamu. Aku sayang sama kamu.”

“Aku juga sayang banget sama kamu,” ujarnya manja sambil melabuhkan kepalanya di pundakku. Aku merangkulnya erat. Segaris senyum akhirnya terbit juga di bibirku. Bagiku, senyum itu benar-benar berarti. Senyum yang datang oleh buaian kasih yang betul-betul murni.

Hari itu menjadi hari yang berkesan buat kami berdua. Menemani bunga-bunga yang ikut berbahagia, juga desiran angin yang sayup menjadi melodi yang mengiringi kebersamaan kami malam itu. Malam yang menebar sinar bulan temaram menerangi kami.

“Sayang, malam dingin begini perut jadi terasa lapar yah…,” Cathie tiba-tiba mengangkat suara.

Astaga… apa ini tantangan baru lagi buatku?

“Kita makan mi kuah yuk. Sudah lama nih nggak makan mi kuah. Sebetulnya itu makanan kesukaanku loh. Apalagi di suasana dingin menusuk begini.”

Mi kuah? Wah… kenapa bisa kebetulan begini? Tapi ngomong-ngomong, berarti sepuluh ribu yang ada dalam dompetku ada manfaatnya juga dong. Ajakannya itu membuat aku tersenyum lebar. Amat bahagia. Tanpa sadar aku menariknya semakin erat dalam dekapanku.

Matanya yang menyiratkan kesederhanaan membuatku tambah bahagia menjadi kekasihnya. Sungguh… aku amat bangga memiliki Cathie.

Dengan hati berbunga-bunga, aku menggandeng tangannya berjalan menuju warung terdekat. Warung yang terasa begitu mewah dalam kehangatan kasih kami, warung yang akan menjadi saksi kemurnian cinta kami.***


Medan, 08 Februari 2006


* cerpen ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 19 February 2006

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com