"Ada jalan yang kusebut namanya kenangan, sebab muaranya buntu, di mana cinta dan luka kerap bertemu dalam keadaan rancu" — David Tandri

Friday, August 25, 2006

Antara Gengsi dan Cinta


Wajah Vyn yang cute itu sekarang tak ubahnya seperti jeruk purut. Dari keningnya, sudut matanya bahkan sampai bibirnya tak satu pun yang menampakkan lekuk-lekuk kegembiraan. Untung saja, Vyn tidak sampai mencak-mencak, karena bagaimanapun sesungguhnya, Vyn adalah seorang cewek yang amat lembut dan feminim, alias benar-benar perempuan!

Mungkin boleh dibilang, keistimewaannya itulah yang secara tidak langsung sudah menyebabkan Vyn jadi gadis murung. Bayangkan saja, dengan paras yang nyaris sempurna ditambah lagi sama pembawaan yang bak bidadari itu, cowok mana yang bakal tidak kesengsem melihat dia. Puncaknya… ya perkenalan Vyn dengan seorang cowok yang tiba-tiba saja nyosor ke depan Vyn saking tidak tahan. Mendapat perlakuan seperti itu, jelas saja Vyn terkejut dan trauma, apalagi Vyn kan cewek yang sudah biasa sama yang lembut-lembut….

“Agresif banget sih itu cowok. Ngeri aku!” keluh Vyn sama Jean, sohib kentalnya yang mungkin sudah kenyang mendengarkan celetukan Vyn.

“Bagus dong kalau cowok agresif. Memangnya kamu mau sama cowok yang pasif? Nanti mati kelaparan kamu!” sembur Jean.

“Iya sih… tapi pelan-pelan kenapa?! Aku ngeri deh lihat cowok berdarah kerbau kek gitu. Sampai-sampai aku kira mau diperkosa.”

“Hahaha… ada-ada saja kamu. Mana mungkin lagi dia perkosa kamu. Soalnya dari tatapan matanya aku lihat dia suka banget loh sama kamu. En tampangnya kan boleh juga. Keren, cool lagi… se-cool namanya, Dave. Wuaw!”

“Ih, amit-amit deh kamu! Kamu saja yang jadi matadornya!” ejek Vyn sambil menarik tangan Jean cabut dari TKP.


*****

Sejak perkenalannya dengan Dave, Vyn malah jadi berubah. Vyn yang semula selalu mendominasi pagi, siang dan malam dengan celetuk kanaknya, kini malah lebih sering berdiam diri. Kebisuan Vyn malah jadi bahan tertawaan paling mengocok buat Jean. Tak jarang Jean sampai terbahak-bahak memegangi perut melihat wajah Vyn yang mirip orang lagi mengejan “bom”.

Vyn sendiri tidak tahu apa penyebab dia menjadi down seperti itu. Yang bisa Vyn lakukan cuma menyalahkan kejadian menyeramkan yang akhirnya membuat dia jadi tidak beres, bahkan terserang insomnia. Entah kenapa yang Vyn pikir itu-itu terus. Biarpun hati rasanya ingin berontak, tapi Vyn betul-betul tak berkutik. Segala perasaan berkecamuk di ruang batinnya. Dan yang lebih mengganggu lagi yaitu bayang Dave yang terus menari-menari di pelupuk mata Vyn.

Kalau sudah begini jadinya, biasanya Vyn akan menjadikan buku sebagai pelarian. Yah… supaya bayang Dave yang terus berkelebat bisa tergantikan sama huruf-huruf. Kebiasaan Vyn ini sudah berlangsung selama kurang lebih 1 bulan dan seiring waktu yang terus bergulir, Dave mulai sering menelepon Vyn dan ini pun membuat Vyn makin sering membaca buku.

“Ada yang aneh ni yee…. Lagi santai-santai begini malah baca buku, biasanya pada nyerocos. Kok tiba-tiba jadi tumben ya?!” goda Jean dengan senyum sesudut di bibirnya yang merah-tipis.

“Jangan nyindir kamu, nanti aku piting baru tahu rasa,“ ancam Vyn tanpa melepaskan tatapan dari buku.

“Ih… piting? Wuah… kayaknya ada nih orang yang jadi ketularan berdarah kerbau. Ganas banget gitu loh….” Jean terus saja menggoda Vyn yang sudah mulai tampak ngambek. Memang sudah jadi hobi Jean menggoda sohibnya yang lugu itu. En ternyata, Vyn malah kelihatan makin cute kalau lagi ngambek.

“Enak saja kamu! Aku ini betul-betul perempuan loh, kayak yang dibilang si David Tandri yang mantap itu.”

“Iya deh cewek! By the way lagi baca buku apa itu?”

“Ada saja lagi. Mau tahu saja urusan orang. Wekz!”

Mendapat ejekan nakal seperti itu, Jean pun membalas dengan mencoba merebut buku Vyn. Tapi rupanya Vyn yang tambah cergas bukan lagi tandingan Jean. Kekalahan Jean akhirnya berlanjut pada adegan kejar-kejaran yang juga dimenangkan oleh Vyn, dengan pose akhir Jean yang terpiting oleh Vyn dengan sebelah kaki terangkat ke atas. Dan setelah tepukan tiga kali ke lantai, spontan Vyn pun meneriakkan, “Tong, tong, tong….”

Kriiing… kriiiing….

“Akh! Aduh!” Vyn yang baru saja menjadi pemenang sabuk juara wrestling antarwanita itu tiba-tiba dikejutkan oleh dering telepon. Pitingan keduanya sontak lepas dan Vyn menjadi gelisah tak karuan sambil matanya terus memandangi pesawat telepon yang berdering.

“Ah… aduh…. Ngapain sih kamu? Diangkat dong teleponnya. Masak dipandangin doang!”

Vyn tetap bergeming. Suara telepon itu membuat wajah Vyn berubah pucat.

“Heeiiy!! Kamu ngapain sih? Kok mematung pula. Otak kamu kram ya? Angkat dong itu telepon!!”

“Aduh… anu… kamu saja deh yang angkat. Itu pasti dari Dave. Aku malas ngomong sama dia.”

Loh, angkat dulu dong. Sempat dari orang lain gimana?”

“Masa bodohlah. Pokoknya kamu saja yang angkat.”

Begitulah penolakan yang selalu terjadi setiap kali telepon berbunyi. Sesungguhnya penolakan yang Vyn lakukan akhirnya justru menimbulkan hal yang tidak dia duga-duga. Keregangan jarak yang Vyn rentangkan lama-kelamaan justru menimbulkan riak-riak kecil yang tidak dapat dia terjemahkan apa sebenarnya. Namun, semua itu secara perlahan mulai menjalar dalam sikap dan tingkah lakunya.

Tentu saja Vyn menyadari perubahan dirinya ini. Tapi untuk menutupi rasa malunya, Vyn pun selalu melakukan tindakan elakan dari Jean, yaitu berbohong dengan berpura-pura mengatakan kata-kata yang seolah-olah menunjukkan Vyn begitu anti terhadap Dave. Biar demikian, setiap malam dalam tekanan insomnianya akibat kelebat bayang Dave, sering terdengar samar Vyn berucap lirih, “Aku menderita banget….”


*****

Waktu berjalan cepat. Tidak terasa Vyn sudah mengoyak 92 lembar almanaknya, seperti cuma sekedip mata. Lambat laun sohib yang sehari-harinya bergumul dengan Vyn, Jean, mulai merasakan perubahan dalam diri Vyn. Hanya saja, Jean mencoba untuk bersikap pura-pura, mengikuti Vyn yang juga berlagak lugu. Tapi biarpun begitu, sebagai sohib dekatnya, Jean tentu memahami perasaan Vyn dan ingin berbuat yang terbaik buat Vyn. Makanya, Jean terus berusaha supaya Vyn mau mengeluarkan kejujuran dan memuntahkan seluruh perasaan yang mendap di hatinya.

Dalam masa-masa belakangan ini juga, Vyn sudah bisa membiasakan dirinya untuk keluar bareng Dave. Yah… sekarang jadi giliran Vyn yang tidak tahan. Vyn yang sifatnya memang supel tak kuasa menolak ajakan Dave, di samping tuntutan gejolak kerinduannya yang ingin menghabiskan waktu lebih bersama Dave. Tapi dasar Vyn gengsi, dia malah memakai “topeng” dengan berpura-pura memasang tampang terpaksa, terutama kepada Jean yang dianggapnya sesama cewek.

Jean tentu tahu gelagat Vyn, apalagi Vyn yang lugu kadang tak sadar menunjukkan kesukaannya kepada Dave. Sekarang ini, selain Jean, yang paling dekat dengan Vyn ya kaca. Semenjak kedekatannya dengan Dave mulai beranjak ke tahap kencan, hampir tak henti-hentinya Vyn berkaca. Dari atas, bawah, samping, depan, belakang semua dilihatnya lekat-lekat. Semua gaya diperagakannya bak seorang supermodel. Tak jarang Vyn juga senyum-senyum sendiri, dan yang lebih tidak waras lagi, Vyn juga mencoba berbagai bentuk mimik ekspresi, kayak muka kehilangan kontrol.

Melihat itu, Jean cuma bisa geleng-geleng kepala. Sebetulnya Jean merasa kecewa juga kenapa cuma karena soal ini Vyn tidak mau berterus terang dengannya. Lama-kelamaan, Jean mulai tidak sabar dengan tindak-tanduk Vyn dan dia merasa sudah saatnya membangunkan Vyn.

“Cewek, aku tanya dulu. Sudah berapa lama sih kita sohiban?”

“Hah? Kok kamu tiba-tiba tanya ini. Kenapa tuh? Mau berhenti ya?”

“Dasar! Aku serius nih. Kamu jangan main-main deh. Jawab dulu pertanyaan aku tadi!”

“Yah… sudah lama sih. Dari kita kecil kan?”

“Nah, kamu juga sadar kan. Tapi kenapa untuk soal yang begini saja kamu tidak mau bilang ke aku?”

“Soal apaan? Tak ngerti aku.”

“Sudah deh jangan pura-pura lagi. Cukup sekian. Sebetulnya kamu punya perasaan kan sama Dave?”

“Hyaaa… aku tak ada kok bilang kek gitu.”

“Masih mau mengelak lagi! So buat apa kamu sekarang pada megal-megol di depan kaca? Kamu mulai perhatikan penampilan kan? Padahal dulu saja sisir setahun sekali baru ganti. Buat apa kamu lakukan semua ini kalau bukan buat Dave?”

“Tapi kan....”

“Sudah deh, Vyn! Kalau kamu masih menganggap aku sohib baik kamu, tolong… ceritakan semua perasaan kamu. Aku juga tidak mau lihat kamu kek begini terus!”

“Iya deh, iya… aku ngaku. Aku memang sayang banget sama Dave.”

So, kok begini saja kagak mau ngomong?”

“Habis aku gengsi, girl!”

“Gengsi? Kamu bilang gengsi? Hahaha… sejak kapan kamu tahu soal gengsi-gengsian? Padahal setahu aku kamu kan masih cewek kelas plankton.”

“Weee… kamu jangan ngejek ya. Kamu tidak tau kan kalau buku yang aku baca waktu itu buku tentang gengsi? Buku itu memang khusus aku beli buat membentuk sikap aku sama Dave.”

“Dasar otak kusut! Kok bisa sih kamu punya pikiran kek gitu? Kalau kamu memang sayang sama Dave, ya diomongin. Jangan kayak waktu itu telepon bunyi didiamkan. Segala sesuatu yang didiamkan tidak bakal ada hasilnya. Kamu pasti mau kan cinta kamu ada hasil?”

“Iya sih... tapi di buku itu mengajarkan yang namanya cewek selalu tidak boleh mulai duluan.”

“Baik kalau kamu bilang gitu. Tapi aku tanya dulu, gimana kalau seandainya Dave tiba-tiba menyerah cuma gara-gara sikap gengsi kamu itu? Apa kamu tidak sadar bisa saja Dave mengira kamu tidak suka sama dia hanya karena sikap bodoh kamu itu? Kamu rela melepas cinta yang sudah jelas-jelas datang sama kamu? Ingat, Vyn! Mendiamkan cinta adalah dosa yang paling tidak bisa dimaafkan. Kalau kamu memang sayang ya cepat ungkapkan ke Dave, sebelum semuanya terlambat. Kamu tidak mau kan kalau Dave akhirnya jadi milik orang lain?”

“Aduh, jadi gengsinya gimana? Buku aku....”

“Persetan sama gengsi! Sekarang yang mencinta itu kamu atau penulis bukunya? Jangan ikut-ikut orang lain dong! Ingat, you are you!”

Vyn lama merenung setelah mendengar penjelasan Jean. Dalam hatinya, Vyn cuma tahu satu hal, dia memang mencintai Dave. Dan Vyn juga sadar kalau dia sudah tidak tahan lagi dengan tekanan kebohongan yang membuat cintanya semakin meronta-ronta.

“Vyn, kebahagiaan kamu ada di tangan kamu sendiri. Aku cuma bisa memberi kamu yang terbaik lewat kata-kata. Selanjutnya, terserah kamu!” Jean pun akhirnya melepas sohibnya dan pergi keluar dari kamar. Dia paham bagaimana seseorang yang sedang didera cinta butuh pemikiran panjang hanya untuk setitik hal. Jean yakin, justru dalam kesedihannya, Vyn bisa lebih merasakan cintanya kepada Dave.

Sepeninggal Jean, Vyn sama sekali tak mampu berbuat apa-apa. Dia benar-benar tenggelam dalam kebisuan, di samping hatinya yang terus bergeletar amat ingin bicara. Membicarakan cinta!

Sungguh, cinta telah membuat Vyn yang lugu menjadi sadar akan banyak hal. Vyn baru tahu, ternyata di kala seseorang sedang mencinta, maka dia akan menjadi orang yang paling bodoh di dunia. Pikiran menjadi kosong dan tidak tahu harus berbuat apa. Vyn juga baru tahu, ternyata pengharapan yang terbesar dalam hidup seseorang adalah ketika dia sedang mengatakan cinta....

Dipandangnya pesawat telepon. Waktu itu juga, Vyn merasa sudah saatnya buat mewujudkan pengharapannya, pergi mencari sebelah cintanya. Di tempat lain, Jean sedang menanti di balik pintu, menunggu penyempurnaan harapannya dan juga harapan sohib tersayangnya itu.

“Halo, Dave. Ini aku, Vyn.”

“Vyn? Apa benar ini Vyn? Aku tidak mimpi kan?”

“Tidak kok, Dave. Kamu tidak mimpi. Ini memang aku, Vyn.”

“Ah... syukurlah. Tapi kok tumben banget kamu bisa call aku?”

“Vyn sontak terdiam. Kata ‘tumben’ yang diucapkan Dave serasa menghempasnya entah ke lautan mana. Vyn baru sadar betapa dia sudah begitu membatasi dirinya terhadap Dave. Vyn tahu dia telah mengkhianati cintanya.

“Maafkan aku, Dave. Aku janji kelak tidak bakal ada lagi kata tumben. Aku menyesal en sekarang sudah saatnya aku mengatakan apa yang selama ini aku buat tertidur.”

“Mengatakan apa Vyn? Aku betul-betul tidak mengerti.”

“Dave, kamu dengar kata-kata ini baik-baik. If I’m blind, the first I wanna see is you. If I’m deaf, the first I wanna hear is your sound. If I can smell, the first I wanna feel is your breathe. If I can touch, the first I wanna hold is your hand. And If I can talk, the first I wanna say is... I love you!”

“Ha? Vyn? Kamu kenapa nih? Kok jadi kamu yang mimpi. Kalau pening minum Panadol sana gih!”

“Dave! A true love never tells a lie.”

“Vyn, aku benar-benar tidak berani mengerti! Aku benar-benar tidak yakin kamu bisa en mau ngomong itu duluan ke aku.”

“Persetan dengan gengsi!” jawab Vyn tegas. Jean yang mendengar itu dari balik pintu terkekeh berat menahan geli. “Gengsi hanya mengkhianati cinta dan aku tidak mau terus-terusan lari dari apa adanya aku. Perempuan bukan penakut. Perempuan juga punya hati, sama seperti lelaki, sama-sama manusia. Lalu kenapa perempuan yang mencinta hanya harus menanti? Cinta butuh jujur, Dave. Dan hatiku bilang kamu cinta aku.”

Thanks, Vyn. Thanks a lot. Aku betul-betul tidak percaya kamu bisa melakukan itu. Aku salut sama kamu. Sebetulnya kamu juga tau kan, sudah sejak lama aku sayang banget sama kamu. Dan aku senang banget ternyata cinta aku ada balasnya. Aku juga suka banget sama kata-kata kamu tadi dan tahukah kamu kalau kamu juga berharga banget buat aku? Bagi aku kamu bukan hanya yang pertama di saat aku buta dan tuli, tapi kamu juga yang terakhir buat aku di saat aku mati. Sikap kamu membuat aku tambah kagum sama kamu dan memang... cinta itu ada untuk berkata, berwarna dan bersama. Dan kamu telah melakukan itu, Vyn!”

Thanks, Dave. Really thanks. Aku juga bahagia banget pengharapan aku akhirnya lengkap sudah karena kamu telah menjawab dengan cinta kamu yang penuh. Kini kita berdua telah sama-sama membentuk satu kebahagiaan. Kebahagiaan yang sejati, Dave. Dan malam ini juga akan menjadi malam yang tidak akan aku lupakan dan biar, malam ini bisa berulang besok dan terus sampai kita tak mampu untuk berkata besok lagi.”

“Baik, Vyn. Mari kita resapi malam ini untuk cinta yang begitu membutuhkan waktu. Good nite, Vyn. Love you....”

Nite, Dave. Love you too....”

Vyn akhirnya meletakkan gagang telepon dengan kebahagiaan yang melembak-lembak. Seuntai senyum dari hatinya dan senapas kebahagiaan dari kemenangannya, antara gengsi dan cinta. Malam pun begitu indah mengikuti mereka dengan menampilkan purnama di langit atas. Vyn menatapnya lekat sambil hatinya melayangkan cinta mereka yang telah satu supaya serupa dian malam sempurna itu, menjadi seutuh-utuhnya purnama, seputih-putihnya purnama, seterang-terangnya purnama.

Di balik pintu, Jean turut larut dalam kebahagiaan sohibnya itu. Baginya, tiada lagi yang lebih penting dalam hidupnya selain kebahagiaan Vyn. Dia tak dapat membayangkan bagaimana jadinya hari-hari Vyn bersama Dave yang penuh makna. Tapi, dalam penjelajahan benaknya, tiba-tiba saja pikiran Vyn menikung ke satu hal yang membuatnya terkekeh lucu. Dalam hatinya, Jean membatin geli, “Akhirnya... jadian juga kerbau sama kerbau.”***


Medan, 25 Agustus 2006 – 22.44 WIB

(kupersembahkan cerita ini buat semua wanita yang mengerti dan menghargai cinta)


* cerpen ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 15 April 2007

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com