"Ada jalan yang kusebut namanya kenangan, sebab muaranya buntu, di mana cinta dan luka kerap bertemu dalam keadaan rancu" — David Tandri

Friday, August 10, 2007

Cinta di Atas Balet


Tidak ada alasan khusus yang membuat Nikita bisa menerima “tembakan” Fred. Jika dikilas balik, semua berjalan apa adanya. Tidak ada rekayasa atau jampi-jampi yang kelihatan dirancang agar rencana ini bisa berjalan sukses. Fred melakoni semuanya dengan amat jantan, sebagaimana seorang lelaki sejati. Nikita juga menerima Fred dengan begitu dewasa. Jelasnya, hubungan mereka adalah seratus persen murni.

Dulunya, Nikita merupakan sosok terkenal di sekolah. Cantik? Tidak dapat dibantah lagi. Kiprahnya sehari-hari hanyalah dikejar-kejar oleh lelaki-lelaki yang hangat-hangat cirit ayam. Jumlahnya lebih menggilakan daripada siswa-siswa yang mengejar-ngejar guru buat cari muka. Malah, yang terjadi justru guru-guru yang suka mendekati Nikita. Maka tak usah ditanya lagi, tanpa menunjukkan kepintaran apa pun, nilai tambah bisa dengan mudah mengalir ke pundi-pundi nilai Nikita. Dan di kantor guru, perbincangan antarsesama guru lelaki pun hari-hari tak lepas dari nama Nikita. Mulai dari kecantikannya, keputihannya, kekayaannya sampai kemontokannya. Semua dilahap seolah-olah Nikita adalah sebuah proyek yang siap untuk dilancarkan!

Lantas Fred? Fred Ludwig Richardson. Dari namanya pun sudah bisa ditebak kalau Fred adalah keturunan campuran. Putih dan hidung mancung mutlak menjadi daya tarik bagi cewek-cewek di lingkungannya. Tapi, dari semua wanita yang dikenalnya, hanya Nikitalah yang sanggup menjatuhkan hati lelaki ini. Demikian juga sebaliknya. Bagi Nikita, Fred bagaikan pangeran kahyangan yang bisa membuat dia berada setingkat lebih tinggi di atas kepala teman-temannya. Seperti yang sering dikatakan ke teman-temannya:

“Wanita pantas mendapatkan semua yang terbaik karena wanita adalah hal terindah yang ada di muka bumi.”

“Aku ingin menjadi wanita idaman bukan karena aku cantik, kaya atau lain sebagainya. Tetapi aku ingin menjadi wanita idaman adalah karena aku juga memiliki segala sesuatu yang diidam-idamkan oleh wanita lain.”

Sayang itu tidak berlangsung lama. Lambat laun Nikita menjadi semakin enggan untuk mengakui Fred sebagai pacarnya di depan teman-temannya. Fred sama sekali tidak berbuat salah dan menyakiti hati Nikita. Tapi Nikita sendirilah yang merasa ada yang salah dengan Fred. Kebersamaannya dengan Fred menjadi lebih sering berbentuk penghindaran.

Kalau dulu teman-temannya yang sering mencemburui Nikita, sekarang keadaan malah berbalik. Nikita mulai merasa kalau lelaki pilihan seperti teman-temannyalah yang cocok untuk pergaulan. Ia semakin merasakan minder tatkala mengikuti teman-temannya menyaksikan pacar mereka yang sedang bertanding basket. Ia sering bertanya-tanya dalam hati, kapan aku bisa memberi sorakan bersemangat seperti yang diberikan teman-temanku ini untuk pacarnya? Sebetulnya bukan tidak bisa, tapi mata orang-orang pasti bakal terheran-heran melihatnya.

“Nggak salah kau Nik? Kok bisa kau pilih cowok dengan keanehan kayak gitu?”

Ketika Fred melaksanakan kewajiban lelakinya yaitu mengajaknya kencan, Nikita pun lebih sering mengarang alasan-alasan untuk mengelak dari Fred, semisal hendak berlatih dance dengan teman-temannya. Dan inilah rekayasa pertama dalam hubungan mereka. Malah, Nikita lebih sering memilih untuk keluar bareng teman-temannya, biarpun semua temannya pada bawa gandengan. Paling tidak menurutnya, ia bisa merasakan corak pergaulan yang lebih membanggakan.

“Nik, sampai kapan kau mau bertahan dengan image seperti itu? Lama-lama kau bisa makin ditertawakan orang kalau terus bersama Fred!” sindir Reis, salah satu temannya.
“Maksudmu apa? Aku sama sekali nggak mengerti.”

“Sudahlah Nik. Kau masih mau mengelak? Aku sudah sering melihat si Fred masuk ke sekolah balet yang ada di simpang dekat markas dance kita itu. Masak kau mau pacaran sama lelaki yang menari balet?”

Nikita terdiam.

“Lihat dong kami-kami ini! Kalau nggak sama model pasti pemain basket. Minimal yang harus nampak cowoknya gitulah! Kalau kau, ah… Fred itu lebih mirip kakakmu daripada pacarmu!”

Tawa pun meledak, kecuali Nikita. Dan terbayanglah di benaknya lama-lama Fred bakal jadi mengenakan rok.


*****

“Nik, ayo turun! Ini Ricky sudah pulang dari Jakarta,” teriak Ibu Nikita dari lantai bawah.

Ricky adalah saudara paling dekat Nikita yang pindah ke Jakarta untuk mendalami olahraga balap liar. Sejak kecil mereka selalu bermain bersama sehingga kedekatan mereka sudah seperti abang-kakak. Karena itulah, semua permasalahan Nikita pasti diceritakan kepada Ricky, selain karena Nikita yang adalah satu-satunya anak di keluarganya.

“Hi Ric, apa kabarnya? Ah… makin kekar saja kau sekarang.”

“Maklumlah. Ini kan tuntutan profesiku saja. Kalau badanku nggak kekar, mana sanggup aku nahan kereta (1) waktu rebah (2), hehe….”

“Ah, ada-ada saja kau ini.”

“Jadi gimana hubunganmu dengan Fred? Apa dia masih tetap pada jalurnya?”

Hubungan Nikita dengan Fred menjadi salah satu hal yang sering dicurahkan Nikita kepada Ricky. Kehidupan mereka yang penuh dengan pergaulan yang bicara prestise sudah tentu menjadi masalah buat hubungan Nikita dengan Fred, apalagi Ricky adalah anak Jakarta yang juga berprofesi sebagai pembalap. Jadi tidak heran lagi kalau Ricky ada sedikit menganggap remeh kepada Fred.

“Iya. Apa boleh buat? Aku nggak punya hak buat melarang dia.”

“Memang benar, tapi kau harus pertimbangkan mukamu. Kalau di Jakarta kau bukan hanya ditertawai orang, tapi kau bakal masuk koran!” Membesar-besarkan masalah sudah menjadi kebiasaan kalangan anak muda seperti Ricky dalam rangka mengejek apa yang dirasanya tidak sreg.

“Kau tahu tidak? Sewaktu aku mengangkat tropi kemenanganku, betapa banyak cewek yang mengelu-elukan aku? Kalau Fred yang mengangkat tropi itu di Jakarta, beranikah kau bersorak-sorai ke arah dia? Kau boleh membuktikan yang aku bilang nanti, saat perlombaan aku di Medan ini.”

Nikita benar-benar mati skak oleh ucapan Ricky. Dan tanpa disadari keduanya, Fred tiba-tiba sudah muncul di depan pintu rumahnya. Melihat kedatangan Fred, Ricky langsung tertawa tertahan-tahan.

“Kenapa? Ada yang lucu denganku?”

“Apa kau tak sadar? Dari dulu kau memang sudah lucu. Mungkin di antara semua cowok yang aku kenal cuma kau satu-satunya yang menari balet.” senggol Ricky.
“Memangnya ada yang salah dengan cowok yang menari balet? Cewek yang jadi pemain sepakbola juga ada.”

“Ah… kau ini tidak gaul. Dan aku lihat kau sudah jadi terlampau lembut dalam memandang modernitas sekarang ini. Mungkin itu karena kau sudah terlalu sering bergaya lentur. Dan… berputar putar….”

Tawa Ricky meledak lagi, bahkan lebih keras dari yang tadi. Nikita yang dari tadi cuma bisa memandang akhirnya gerah juga.

“Sudah cukup! Fred, ada urusan apa kau mencariku? Kenapa tidak kasih kabar dulu?”

“Aku datang untuk mengajakmu pergi bareng mencari kostum baletku karena minggu depan aku akan ikut lomba. Tapi sekarang tidak jadi lagi karena aku tahu kebisuanmu sejak tadi sudah menjadi bukti kenapa kau sering menghindariku!”

Nikita kembali terdiam. Di sisi lain saudaranya Ricky terkejut melihat bagaimana gaya penari balet yang marah.

“Tapi, aku berharap kau bersedia datang waktu hari pertandinganku nanti.” Fred berlalu dari hadapan mereka berdua. Sementara Ricky terus memperhatikan gerak pantat Fred sambil tersenyum-senyum.


*****

Instruktur yang selama ini memperhatikan perkembangan Fred, terkejut melihat Fred yang lebih sering berdiam diri dan terkadang melakukan gerakan yang melebihi derajat baku biasanya. Sejak kejadian kemarin, konsentrasi Fred semakin kacau. Padahal sebentar lagi ia akan mengikuti perlombaan tari balet tingkat provinsi. Dalam setiap latihannya, gerakannya selalu diminta ulang oleh instruktur. Alasannya karena terlalu lentur. Fred memang sengaja melakukannya lebih dari biasanya. Ia hanya ingin membuktikan bahwa pria yang menari balet itu juga bisa setara dengan wanita. Sebenarnya, itu hanya sebagai efek dari pembentukan kepercayaan dirinya yang berlebihan supaya tidak minder.

“Kau ada masalah? Kau jangan berbohong,” tuntut Mr. Dawn, sang instruktur. “Selain di rumah, aku adalah orang yang paling dekat denganmu.”

“Mr. Dawn, maaf aku lancang,” Fred tertunduk. ”Aku ingin tanya, bagaimana reaksi istrimu begitu tahu kau adalah seorang penari balet?” Mr. Dawn kaget! Pandangannya menerusuk tajam ke mata Fred.

“Kau ditertawai lagi? Sama pacarmu?”

“Bukan cuma ditertawai, tapi mulai dijelekkan. Terutama oleh saudaranya yang dari Jakarta. Apa yang salah kalau cowok menari balet? Apa balet untuk cowok itu sesuatu yang kuno sekali? Aku bilang, toh ada juga cewek yang jadi pemain sepakbola.”

“Lebih dari itu Fred, bahkan ada yang jadi petinju. Lihat Laila Ali. Yang penting apa yang kita lakukan ini seni! Dan seni itu universal. Bebas dilakukan oleh siapa saja, tidak peduli pria atau wanita, tua atau muda, asal seni yang dilakukan itu tidak menghancurkan kehidupan. Jadi soal kau menari balet itu sesuatu yang wajar-wajar saja.”

“Tapi aku bisa melihat rasa malu pada Nikita untuk mengakuiku sebagai pacarnya.”
“Karena prestise? Muka? Image? Apalah itu. Kau kira kalau cowok yang beraksi di bidang-bidang yang nampak cowoknya lantas sudah bisa dibilang keren? Mereka-mereka yang pacaran dengan orang seperti ini sebetulnya hanya sebagai formalitas bagi teman-temannya, dan formalitas itu cuma kepalsuan! Apa kau mau dipacari hanya sebagai kepalsuan formalitas?”

Fred mengangguk tanda paham, namun pandangannya masih karam ke dalam lipatan kakinya.
“Sudahlah. Jadi orang jangan pernah merasa dipakai, tapi dibutuhkan. Ayo kita pergi ke toko kaset. Mungkin lagu tadi tidak cocok dengan karaktermu. Kita cari lagu yang baru. Ayolah, kau pasti suka dengan toko langgananku ini.”

Sesampai di toko kaset itu, Fred sontak kaget dengan sosok wanita yang melayani mereka. Ia berpandangan dengan Mr. Dawn. Mr. Dawn hanya senyum dan menaikkan alis sebagai tanda pembuktiannya, bahwa Fred pasti suka dengan toko ini.

Wanita itu seumuran Fred. Cantik dan mempesona dengan senyum mengoyaknya. Betul-betul feminim, pikir Fred. Tapi bukan itu yang membuat Fred terus-menerus mengamati wanita ini. Dalam hatinya berkembang rasa salut dan kagum atas keberanian dan kepercayaan diri wanita ini. Di sekujur tangannya, dan sedikit di lengan atasnya, ia melihat banyak bekas luka seperti kena benda panas. Ada yang menghitam, ada yang kecoklatan, ada pula yang baru matang kulitnya. Ini pasti baru kena, pikir Fred. Ia lantas mengincar meja wanita tadi. Barang apa yang kira-kira sudah merusak kesempurnaan gadis ini. Dan dilihatnya sebuah solder, tajam dan berasap, tergantung rapi di holder stand-nya. Pandangannya terus berganti antara meja dan wanita tadi, dengan mulut menganga, antara mungkin dan tak mungkin.

Belum habis ia berjibaku dengan analisisnya, mendadak dari belakang sudah muncul Nikita, bersama rombongan satu grup dance-nya. Kejadian di rumah Nikita pun tak terelakkan lagi. Semua teman Nikita melampiaskan tawanya. Ada yang all-out, ada yang senyum-senyum geli, ada pula yang langsung berputar ke belakang. Mungkin sadar kalau pengaruh ledak tawanya bakal memunculkan wajah tak dikenal. Sementara Fred dan Nikita sudah bersitegang, meski masih dalam pandangan. Mr. Dawn hanya menatap dari belakang.

“Nikita, rupanya Fred lebih feminim ya daripada kau.”

“Inilah cowek paling keren di jagad raya.”

“Nik, aku jadi cinta sama dia.”

“Hahahaha….”

Mr Dawn berusaha mendinginkan Fred dengan menepuk-nepuk punggungnya. Gadis yang penuh luka bakar tadi mencoba menghindari keributan itu dengan pura-pura menyusun kaset.

“Sudah! Cukup! Tidak perlu dilanjutkan lagi!” Nikita beralih ke posisi tengah dan berusaha melerai.

“Ah, kau Nik! Masak kau nggak malu Nik? Kau bela siapa sih?”

Fred semakin membara dan Nikita yang berada di tengah tidak tahu harus berjalan ke arah mana.

“Aku… memilih… memilih…”

Semua hening menunggu jawaban Nikita.

“Kaset yang ini saja ya! Kayaknya lebih cocok sama corak street dance kita.” Teman-teman Nikita serentak melenguh keras seperti sapi kena bacok. Nikita sendiri tidak peduli dan langsung mengambil salah satu kaset yang ditunjuknya. Saat itulah, tangannya bertubrukan dengan tangan gadis tadi. Nikita tersentak dengan kulit tangan gadis itu. Ia lantas memperhatikan baju yang dikenakan gadis itu. Blouse pink, dengan lengan yang terbuka bebas, tapi gadis itu sama sekali tidak malu tangannya penuh bekas luka, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa itu adalah sebuah trademark bagi dia.

Nikita cepat-cepat membayar kaset dan pergi dari toko itu untuk mencegah perdebatan lebih dalam lagi. Sepeninggal Nikita, Fred masih sempat mendengar teman Nikita yang memakinya akibat kebodohannya. Mr. Dawn hanya mampu menepuk-nepuk bahu Fred, meminta ketenangannya.

“Ingatlah Fred, formalitas adalah kepalsuan, tetapi totalitas adalah keberanian!”
Di tempat lain, Nikita masih bergelut dengan pikirannya. Rasanya ada sesuatu yang mencolok dari gadis yang dijumpainya tadi. Seperti ada kesamaan yang dimilikinya dengan Fred. Tapi… ia sama sekali tak mampu menangkapnya.


*****

Malamnya, Nikita kedatangan telepon dari Fred.

“Aku tahu, pilihanmu bukan sepenuhnya pada kaset street dance.”

“Maafkan teman-temanku, Fred”

“Apa yang salah dariku, Nik? Karena baletkah?”

“Kau sudah menyimpang, Fred. Menyimpang dari kelaki-lakianmu!”

“Dan orang-orang yang melakukan balap liar dan street dance yang merusak kehidupan itu adalah keren?”

Nikita terdiam.

“Bagaimanapun, kau tetap paling spesial bagiku. Aku harap, pertandinganku bisa jadi acaramu seminggu kemudian. Untuk melihat kelanjutan hubungan kita. Selamat malam!”
Nikita menjadi amat depresi. Bimbang. Dulu, di saat-saat seperti ini, Rickylah yang menjadi pahlawan baginya. Namun sial, ia di rumah sendirian. Di pikirannya bertarung antara pergi dan tidak. Bila ia pergi, Fred pasti senang dan kehadirannya bakal banyak membantunya dalam mengikuti lomba nanti. Tapi itu berarti hubungannya akan terus berlanjut, sedangkan ia sudah tidak sanggup menahan ocehan dan malu dari teman-temannya.

Nikita sempat meminta pendapat Reis, teman satu grup dance-nya. Ia tidak ingin meminta saran dari orang lain karena menurutnya ia sedang mengikuti corak pergaulan temannya, bukan yang lain. Itu sebabnya, Reis menjadi pilihannya untuk memutuskan bagaimana bersikap. Tentu saja, kelompok Reis yang pada awalnya pun sudah menilai jelek Fred, kontan tidak setuju bila Nikita harus pergi untuk, yang katanya hanya untuk sekadar menyenangkan Fred.

“Alaah… ngapain lagi kau pergi? Itu berarti kau ditundukkan prinsipmu sendiri. Prinsip kita tidak pernah menerima seperti yang dilakukan Fred. Lagipula masih banyak cowok-cowok lain yang lebih keren dari dia di luar sana.”

“Jadi maksudmu Fred tidak pantas dicinta?”

“Kalau terpaksa harus kukatakan, memang iya! Kau tidak pantas mencinta cowok yang punya hobi, maksudku kelainan, yang seharusnya kaummu yang melakukan!”

“Aku hanya bermaksud setor muka ke dia. Itu saja!”

“Ah, buat apa kau melakukan itu hanya sekadar sebagai formalitas? Formalitas itu tidak pernah dihargai, tapi sekadar dicatat saja! Bukankah kau pernah bilang saudaramu itu bakal ikut lomba balap? Lebih baik pun kau ikut saudaramu, atau kau bisa ikut kami latihan. Di sinilah, kau baru bisa merasakan bagaimana hingar-bingar suara cewek kepada cowok yang pantas dipuja.”

Tibalah hari-H.

“Bu, Nikita pergi dulu ya!” pamit Nikita pada ibunya hendak pergi, memakai setelan tank top dan jeans yang sengaja terkoyak-koyak di lutut. Di bibirnya mengkilap warna lipstik biru kehitam-hitaman. Rambutnya terjurai, dengan sebagian diikat ke belakang membentuk ekor kuda.

“Lihatlah nanti, Fred!”

Di luar arena, tempat Fred akan melangsungkan perlombaan tari baletnya. Pintu masuk telah berjubel oleh orang-orang yang antre panjang. Kebanyakan didominasi oleh pria-pria setengah baya dan wanita dewasa. Mungkin datang untuk menyaksikan dan mendukung anaknya. Sesekali tampak juga beberapa pria yang berpakaian dekil, seperti baru bangun tidur. Kalau ini mungkin cuma dibakar birahi. Mumpung berharap bisa melihat paha penari cewek yang hanya ditutup rok mini dan atasan ketat. Anak-anak hanya sedikit yang datang, itu pun bersama orang tua mereka. Remaja-remaja yang tampak kebanyakan masih memakai pakaian sekolah. Mungkin hendak dijadikan tugas laporan, atau mungkin sedang cabut enggan pulang ke rumah.

Hingar-bingar sudah mulai terdengar begitu master of ceremony memasuki arena balet. Tapi bukan berupa sorakan. Hanya riuh nyaring tepuk tangan yang mengisi hall. Penjual-penjual mulai menjalankan aksinya berkeliaran mengitari areal penonton. Ada kacang, kerupuk, minuman ringan, aneka cinderamata, kipas kertas, sampai teropong. Tidak sedikit yang sekadar menengadahkan telapak meminta rezeki, sebagian tersuruk di lantai, ada yang memakai tongkat penyangga, bagi ibu-ibu selendang dan bayi jadi alat pamungkas, bahkan anak-anak yang berlari-lari saling berebut sedekah yang didapat.

Di backstage, Fred sibuk melirik ke arah penonton. Keempat sisi yang mengitari panggung dicermatinya. Ada harapan besar di mata Fred. Sulit memang mendapati sosok seorang di antara puluhan ribu orang. Tapi yang membuatnya sangsi adalah Nikita tidak memberinya kabar sama sekali. Ia tidak tahu, ini sebuah kejutan, mainan atau malah elakan. Ia sama sekali tidak menyisihkan waktunya untuk menganalisis lawan atau sekadar meliha-lihat panggung supaya lebih akrab. Sementara peserta-peserta lain sudah sibuk melakukan ziar.

Pertunjukan berjalan alot. Setiap selesai satu peserta tepuk tangan sudah secara otomatis menyambutnya. Ada penjual yang sibuk merapikan dagangannya yang jatuh. Dan bila tiba waktu bagi penari wanita yang tampil, teropong mulai laku keras. Siutan ditarik-tarik. Anak-anak yang sedari tadi berkejaran mulai bersahabat dan menunjuk-nunjuk penari wanita yang tampil. Bapak gaek yang tadinya menyeret-nyeret tubuh di lantai sekonyong-konyong menjadi berlutut melongo ke arah panggung.

Penghujung acara tiba dan MC mulai membacakan nama-nama pemenang. Penonton yang tinggal sisa separuh. Fred berakhir di urutan kedua. Mr. Dawn tidak protes, tidak menuntut apa-apa pada Fred. Ia hanya menepuk-nepuk pundak Fred, tanda puas.
Fred masih tertegun. Gelar kampiun tidak menjadi penghibur buatnya. Ia sadar, inilah akhir dari hubungannya dengan Nikita. Ia juga merasa tidak perlu lagi mempertanyakan apa-apa kepada Nikita. Semua sudah jelas. Fred tetap pada komitmennya. Ia tidak membutuhkan cinta yang hanya berjalan di atas balet.

Pintu keluar sudah agak lapang dibandingkan tadi. Penonton yang keluar diatur menjadi 4 baris. Fred menyusul penonton lain keluar dari arena. Ia merasa tidak perlu berlama-lama di dalam. Sebentar saja penonton mulai berdesakan. Fred yang berjalan di antara barisan penonton tiba-tiba ditabrak dari belakang. Lamunannya sekejap langsung buyar. Saat itulah, samar-samar dilihatnya di baris keempat, seorang wanita yang amat dikenalnya. Mr. Dawn yang mengikutinya dari belakang memperhatikannya dan tersenyum.

“Dia telah datang.”

Fred memandang instrukturnya. Lekat.

“Mungkin untukmu. Dia sama sepertimu.”

Fred mengerti. Ia langsung menghampiri gadis itu. Kaos tak berlengan kembali mencuatkan kekaguman Fred padanya. Mereka bersalaman.

“Kita sama!” ucap Fred.

Di arena perlombaan yang lain, hiruk pikuk penonton ditambah debu yang disapu oleh ban-ban kereta, membuat udara terasa semakin pengap dan panas. Gadis-gadis berpakaian seksi terus menjerit-jerit sambil mengacungkan kepal. Sesekali berpelukan dan berciuman dengan pasangan di sampingnya ketika salah satu pembalap berhasil menyalip lawan. Tidak jarang pula yang sekadar kencan gelap di bawah pohon di pinggir lintasan. Sementara yang sendirian tak henti-hentinya digoda dari samping. Salah satunya adalah Nikita!

“Hi… boleh kenalan nggak?” Sudah punya pacar?”

“Sudah!”

“Kok ketus banget sih? Pacarnya balapan juga ya?”

“Baa… emm… baaa… ah, ban orang itu pecah!”


*****

Sejak perpisahan dengan Fred, Nikita justru merasakan pelepasan beban yang amat sangat. Ia tidak lagi merasa rendah diri di hadapan teman-temannya. Meski memang, jauh di lubuk hatinya bergolak rasa kehilangan yang kuat. Bahkan selepas dari Fred, foto-foto berduanya dengan Fred masih dipajangnya di meja kamar.

Di sisi lain, Fred semakin sukses menggeluti balet. Banyak surat kabar yang memuat kabar kemenangannya dan foto-foto tariannya. Meski sudah putus dari Fred, namun Nikita masih sering mendapat sindiran dari temannya yang dikirimkan melalui sms.

“Nik, cewekmu kok jadi sering kali ya muncul di koran?”

“Cantik kali foto dia di koran, Nik! Hahaha….”

Hari ini hari terakhir saudaranya berada di Medan. Ricky gagal dalam pertandingan waktu itu. Sejak pulang sampai di perjalanan, Ricky terus mengumbar-umbar alasannya bisa gagal.

“Sial, gara-gara banku pecah aku jadi slip. Kalau nggak, pasti aku sudah jadi nomor satu!”

Karena sejak kepulangan Ricky dari Jakarta, waktu yang dihabiskannya hanya untuk latihan balap, mereka jadi tidak mempunyai waktu untuk kumpul bareng. Semalam, mereka pun janjian untuk pergi membeli kaset sama-sama. Katanya theme song street race sudah dirilis, jadi ia ingin memilikinya untuk koleksi. Maka mereka pun pergi ke toko kaset yang paling dekat dengan markas dance Nikita, sekalian nanti Nikita akan memenuhi janjinya untuk berkunjung ke sana. Kata Reis, akan ada seorang cowok keren yang dikenalkan padanya. Sebagai pengantar, Reis memberinya ciri-ciri macho dengan six pack, tampan dan merupakan penari breakdance dari Jakarta.

Di depan pintu, Nikita kembali tercenung melihat gadis penjaga toko kaset itu. Diamatinya sekujur tangannya. Nikita sampai memicingkan mata karena jijik.

“Apa bisa ada laki-laki yang suka sama dia? Memangnya apa sih kerja dia sampai belepotan luka kayak gitu?”

“Kau tidak lihat batang solder di mejanya?”

“Apa?”

Begitu membayar kaset yang dibeli, Nikita dan Ricky pun beranjak pergi ke markas dance. Namun di dekat mulut toko, mereka malah bertemu dengan Fred. Ricky mencibir dan memilih memalingkan muka. Nikita melihat di tangannya melilit segulung kabel beserta soketnya. Nikita mengerutkan alis, mengira ia sudah beralih jalur.

“Mau ke mana?”

“Ada tugasku di toko itu.”

“Jadi… sekarang ini kerjamu?” ujar Nikita sambil melirik ke arah kabel itu.

“Ini?” Fred tersenyum, sambil mengangkat barang bawaannya. “Bukan punyaku, tapi untuk pacarku.”

Nikita bingung sejenak, “Pacarmu?”

“Iya. Pacarku!”

Alisnya semakin berkerut. “Memangnya… apa kerjaan pacarmu?”

“Teknisi elektronika!”

Fred tersenyum lepas. Dengan kepala tegak, dan rasa kemenangan yang membuncah-buncah, Fred menyusul ke dalam toko. Di sana, ia sudah disambut senyum manis yang mengoyak.

“Aku sudah terkena listrikmu,” ucap Fred pada pemilik senyum itu.

“Dan aku sudah dibuat berputar-putar oleh cintamu.”***


Medan, 10 Agustus 2007


* cerpen ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), 24 & 31 October 2010

(1) kebiasaan orang Medan untuk menyebut sepeda motor
(2) istilah dalam dunia balap liar untuk menyebut posisi sepeda motor yang miring hampir mengenai tanah saat berbelok

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com