"Ada jalan yang kusebut namanya kenangan, sebab muaranya buntu, di mana cinta dan luka kerap bertemu dalam keadaan rancu" — David Tandri

Thursday, December 31, 2009

Lempeng Keputusan


Kalau hal kecil saja tidak bisa kau penuhi, bagaimana kau bisa bertanggung jawab untuk hal-hal besar?

Aku masih ingat ketika temanku diceramahi habis-habisan oleh atasannya karena tidak menjalankan tugas dengan baik. Saat itu aku sedang berada di kantornya untuk memenuhi janji membuat aplikasi kartu kredit, jika aku sudah genap berusia 21 tahun. Kebetulan kemarin itu dia sempat nimbrung dalam acara selebrasi ulang tahunku di salah satu restoran yang menawarkan diskon jika menggunakan kartu kredit dari bank tempat dia bekerja. Kontan saja, dia langsung menagih janjiku. “Tembus atau tidak, itu urusan belakangan! Hitung-hitung buat kejar target aplikasi saja,” begitulah kata-katanya yang masih sangkut di benakku.

Hanya dalam tempo 15 menit, aku sudah meluapkan seluruh kejujuranku untuk deretan pertanyaan di formulir itu. Hanya dalam waktu itu juga, temanku yang tadinya terkesan lebih hidup dari biasanya, langsung berubah lemas dan berjalan tanpa semangat ke arahku.

“Andai saja sekarang ini ada seribu orang sepertimu!”

“Makanya, rajin-rajinlah kau! Jangan hanya numpang tidur saja di rumah.”

“Sialan! Jangan keras kali suaramu.” Sebuah tinju mendarat di lenganku.

Aku nyengir saja, melihatnya seperti orang yang sedang kehilangan peta hidup. Setiap hari esok adalah neraka baginya, karena itu berarti dia harus bisa mengumpulkan 5 lembar aplikasi baru sesuai target yang sudah diberikan. Senyumku tambah liar ketika dia memberitahuku bahwa aplikasi yang baru selesai kuisi adalah aplikasi pertama untuk hari ini, dan bahkan dalam satu minggu terakhir. Giliranku mendaratkan tepukan di pipinya. Tiga bulan kemudian, dia pun resmi dipecat!

Aku sendiri sudah patah arang menunggu. Firasatku mengatakan dengan pasti bahwa aplikasiku sudah ditolak. Seharusnya bank tidak membiarkan nasabahnya berada dalam ketidakpastian seperti ini. Jika memang secara sistem sebuah aplikasi itu ditolak, bukankah secara sistem juga bank dapat memberikan konfirmasi via email kepada nasabahnya? Di zaman digital seperti ini, antara informasi dan waktu seakan tidak lagi punya sekat. Bahkan kejadian yang jaraknya berjuta-juta mil dari sini pun bisa dengan mudah diketahui hanya dengan satu kali patukan pada tombol mouse!

Aku pernah bertanya pada temanku yang kini berpangkat sebagai pengangguran dari segala pengangguran itu, apa sebetulnya kegunaan dari kartu kredit? “Bagiku, itu adalah komisi untuk semangkuk bakso plus teh manis dingin!” Itulah jawaban dia kalau sedang kelaparan karena tidak ada komisi yang bisa dicairkan. Aku juga sudah bertanya pada salah satu teman yang sudah mengoleksi kartu kredit dari sepuluh bank terkemuka. Dia hanya bilang, “Ini adalah alat pemuas nafsu yang paling baik sedunia. Ia bahkan lebih baik dari orang tuamu sendiri.” Praktis saja, setiap tiga hari sekali dia didatangi tagihan yang bahkan bisa menghabiskan hidupnya untuk tempo setengah tahun!

Rasanya susah memang memahami hal ini kalau bertanya pada orang yang pro terhadap kartu kredit. Bagaimana kalau hal ini ditanyakan pada orang yang hidup serba-minimalis? Akhirnya, aku bertanya pada seorang kenalan yang hidup amat sangat sederhana. Buktinya, setiap makan di rumah makan, dia pasti hanya akan ditemani oleh segelas air putih.

“Tahukah kau apa bedanya memiliki kartu kredit atau tidak? Hanya satu: yaitu waktu! Lalu apa persamaannya? Yaitu perencanaan. Semakin efektif kau merencanakan waktumu, maka itu berarti kau semakin mengenali kemampuanmu sendiri!”

Aku terbengong! Sulit untuk mencerna kata-katanya. Terkadang aku tidak habis pikir, meski gizi hariannya hanya gizi air putih, tetapi dia mampu menunjukkan pemikiran yang lebih dari itu.

Lama aku berkutat dengan keinginanku memiliki kartu kredit, sejak terakhir kali aplikasiku ditolak oleh bank. Aku terus membayangkan, akan menjadi seperti apakah hidupku setelah aku memiliki “kartu baik hati” itu. Ah! Daripada pusing, tidak ada salahnya aku mencoba untuk yang kedua kalinya. Jika ini takdirku, tentu tidak ada yang tidak mungkin! Dengan menjadi pemilik langsung, aku baru bisa tahu dan merasakan seberapa besar perbedaan kasih antara kartu kredit dan orang tua.

Sambil menunggu kabar dari aplikasiku, aku mulai menyusun perencanaan untuk semua kebutuhan yang siap untuk dieksekusi. Maklum, gaji dari pekerjaanku tidak bisa terlalu dibanggakan. Jadi banyak keinginanku yang hanya bisa mentok di waiting list, dan 50% dari itu sudah pernah ditolak oleh orang tuaku.

Aku memang tidak pernah berpikir untuk menyalahkan orang tuaku. Dengan umur lebih dari dua dekade, sudah seharusnya aku mandiri. Kebetulan, sekarang aku sudah mendapatkan jawaban yang paling tepat! Kartu kredit bisa menjadi alat yang bagus untuk menunjukkan kemandirianku.

Sempat putus asa untuk kedua kalinya, akhirnya kartu kredit yang kuidam-idamkan sampai juga di rumahku dalam sebuah amplop tertutup yang berhiaskan logo dan warna dasar bank. Kuraba-raba amplop itu. Terasa olehku sebuah lempeng keras yang diselipkan di dalam surat. Langsung terbayang olehku kartu kredit ini akan ditaruh di kantong bagian mana dalam dompetku.

Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung membuka amplop dan mengeluarkan isinya. Begitu melihat langsung kartu kredit yang berukirkan namaku di sudut kiri bawah itu, serasa seperti ada lembaran hidup baru dalam genggamanku.

Aku bangga bukan kepalang, sampai tak putus-putusnya aku memandangi kartu itu. Akhirnya, aku bisa menunjukkan eksistensi individualisku. Ini pencapaian level baru dalam hidupku, dan terutama finansialku. Tapi kesenanganku tidak bertahan lama. Baru saja kutunjukkan “asetku” itu pada orang tuaku, mereka langsung menguliahiku sampai dua sesi. Sesi pertama saat makan malam, dan sesi kedua saat aku pamit hendak keluar rumah dengan teman. Tak ayal, aku jadi tidak bersemangat menjalani debut pertamaku dengan kartu kredit itu. Tapi tak apa, setidaknya kali ini aku bisa bergaya dengan dompet yang bertambah tebal beberapa milimeter dan juga bertambah keras!

Akhirnya, aku baru bisa membayar penantianku dua minggu kemudian. Hari itu, aku benar-benar menjadi sosok yang berbeda dari biasanya. Mulai dari mimik muka, gaya jalan bahkan tanda tangan pun sudah kurancang sekeren mungkin. Aku sempat gemetar ketika pertama kali kartu kreditku digesek, tapi slipnya tidak kunjung muncul. Sempat juga di-reject oleh mesin EDC toko. Waktu itu aku tidak membawa uang tunai sepeser pun, kecuali hanya stok untuk uang parkir dan biaya tidak terduga. Kalau sampai benar-benar tidak bisa dipakai, aku tidak bisa lagi membayangkan bagaimana malunya aku. Rasanya seluruh penampilan yang sudah kupersiapkan tidak tertebus sama sekali.

Untunglah, transaksi berhasil diproses pada usaha yang kelima kalinya. Itu pun setelah kudesak terus. Anehnya, di toko-toko berikutnya, transaksiku berjalan dengan amat mulus. “Ah, mungkin ini hanya cobaan untuk pemula. Dan untuk selanjutnya, hukum keberuntungan pemula pun berpihak padaku, karena secara kebetulan sekali hampir semua kebutuhan yang tercantum dalam waiting list sedang dalam harga promo. Saking seriusnya, tidak terasa barang-barang yang sekarang kutenteng dengan susah payah malah melebihi dari daftar yang sudah kubuat. Setiba di rumah, aku diceramahi lagi untuk ketiga kalinya oleh orang tuaku. Tidak tanggung-tanggung, kali ini nenek juga ikut dan mencekokiku dengan petuah-petuah gurindam klasiknya.

Selain keberuntungan pemula, ternyata nafsu pemula juga merasuki pikiranku. Baru dua hari waiting list-ku habis dieksekusi, pikiranku sudah mulai dipadati oleh keinginan-keinginan yang baru lagi. Aku tahu, ini tidak mungkin lagi kupenuhi karena bisa saja aku tidak berani untuk bertemu dengan orang tuaku lagi. Tapi aku rasa, jika hanya memenuhi untuk beberapa hal saja, itu tidak akan ada masalah. Sepulang dari belanja, aku pun masuk ke rumah lewat pintu belakang dan menyelundupkan barang-barang yang kubawa dalam ransel besar. Sebelumnya, aku sudah beralasan bahwa aku akan mengikuti kegiatan camping dengan cara membawa salah satu brosur jadi-jadian sebagai bukti.

Hari-hari setelah aku memiliki kartu kredit berjalan dengan banyak perubahan. Banyak teman dan rekan kerjaku yang terkejut melihat semua ini. Pernah ada yang mengira orang tuaku mendadak menjadi OKB (orang kaya baru). Ada juga yang mengira aku ketiban rezeki, entah itu dari wanita atau hasil dari pemerasan lainnya. Aku acuh saja, seacuh-acuhnya, sampai ketika tagihan pertama untuk kartu kreditku dikirimkan ke rumah.

Aku mulai keringat dingin. Kutatap kembali barang-barangku yang sebagian masih terbungkus rapi sampai sekarang. Andai bisa kukembalikan, atau andai bisa kutahan nafsuku saat itu. Rasanya amat berat harus menghadapi semua ini sendirian. Tertulis di lembar tagihan bahwa pemakaian kartu kreditku adalah 90% dari batas limit, dan itu berarti total utang yang harus kubayarkan adalah 300% dari gaji bulananku. Aku sudah putus asa, aku tidak mungkin bisa menyelesaikan ini sendiri.

Kucari teman-temanku, tapi entah kenapa tiba-tiba semua menjadi lebih sibuk dari biasanya. Kalau ke rekan kerja, maka taruhannya adalah malu dan harga diri. Mungkin, cara terakhir yang bisa diterima akal sehat hanyalah meminta bantuan dari orang tua. Bukankah sebaik-baiknya kartu kredit, orang tua masih punya kebaikan yang lebih rasional?

Kontan saja, hasilnya sudah bisa kutebak. Meski berhasil, tapi aku harus rela mengorbankan malam mingguku untuk berkencan dengan orang tua. Seluruh kosakata dan petuah kulahap dalam diam. Omelan sudah terasa seperti cemilan. Aku tidak membantah, tapi juga tidak menyangkal. Ya! Ini konsekuensi bagi orang yang tidak bijak dalam mengambil keputusan.

Lama aku merenung di kamar. Aku kembali bertanya-tanya, apa sebetulnya kegunaan dari kartu kredit? Aku telah salah mengartikannya sebagai suatu kebebasan finansial. Aku sudah menjadi pemakai yang subjektif. Kupandangi kembali kartu kreditku yang kutaruh bersisian dengan surat tagihan yang mencekik itu. Lambat-laun aku mulai menyadari bahwa ternyata kartu kredit lebih tepat disebut sebagai media daripada alat, karena alat hanya memiliki fungsi, bukan tujuan!

Lima bulan sejak kedatangan surat tagihan itu, akhirnya aku bisa menyelesaikan tanggung jawabku kepada orang tuaku. Tidak terasa ini sudah memasuki cicilan terakhir untuk utangku kepada ayah yang membantu membayarkan kartu kreditku kemarin. Tapi ini belum selesai. Sesudah ini, sudah ada waiting list baru yang menanti untuk dituntaskan.

“Apa katamu, belum kapok juga kau dengan kejadian kemarin? Baru saja ini diselesaikan kamu sudah berpikiran untuk yang lain lagi?"

Aku tersenyum. Kali ini hatiku begitu teguh dalam menilai dan mengutarakan keputusanku.

“Tenanglah, kali ini aku tidak sembarangan lagi dalam membuat keputusan. Aku sudah punya rencana yang matang dan pasti akan kupenuhi dengan baik.”

“Belajarlah untuk mengucapkan sesuatu dengan bertanggung jawab! Memangnya rencana matang seperti apa lagi yang sudah kamu buat?”

“Aku ingin punya sebuah mobil. Mobil sedan!”

Mata mereka terbelalak, seolah tidak percaya dengan angan tinggi yang aku katakan.

“Tentu saja tidak sekarang, tetapi percayalah,” dengan wajah tersenyum bangga sambil berlalu dari hadapan mereka, aku melanjutkan, “... ia pasti akan matang untuk waktu lima tahun yang akan datang!”***

Medan, 2009


* cerpen ini pernah dimuat di Rubrik TRP, Harian Analisa (Medan), tanggal 05 Desember 2010

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com