"Ada jalan yang kusebut namanya kenangan, sebab muaranya buntu, di mana cinta dan luka kerap bertemu dalam keadaan rancu" — David Tandri

Saturday, March 24, 2012

Pacar Durhaka


Ada tiga hal yang membuat Kevin pasrah ditasbihkan oleh teman-temannya sebagai the king of single, alias raja jomblo. Dari seukuran jabang bayi sampai sematang batang usianya sekarang, Kevin memang hanya dididik dan tinggal dengan satu-satunya single parent di rumah, yaitu ibunya sendiri. Ayahnya sudah lama meninggal, ketika dia masih tidur terbalik di rahim ibunya.

Sejak Kevin mencicipi napas pertamanya di dunia, ibunya rela menjanda dan tidak menikah lagi. Alasan ini jugalah yang akhirnya membuat Kevin hanya jadi single man di keluarganya. Sebagai sesama lelaki, Kevin bahkan tidak pernah merasakan sentuhan khas jantan dari ayahnya.

Status anak yatim memang sedikit banyak membuat Kevin kabur dalam memahami makna kelelakian. Kadang-kadang, Kevin bahkan bisa latah menggunakan insting gagahannya kalau sedang berhadapan dengan seorang cewek, meskipun paras permukaan cewek itu juga tidak bikin kejut-kejut amat. Namun kelemahan itulah yang membuat Kevin terus melajang sampai sekarang, melengkapi rekor triple single-nya yang jarangnya bukan kepalang.

Sebagai remaja senja yang beranjak dewasa, tentu Kevin juga ingin menikmati malam minggu dengan berkumpul bareng teman-temannya, atau sekadar basa-basi di café sambil melawan kekentalan avocado coffee kesukaannya. Tapi apa lacur, teman-temannya semua sudah berpasangan! Jelas tidak mungkin bagi Kevin untuk membelah kemesraan mereka, jadi lebih baik rela-rela saja dia menjadi separuh jiwa ibunya di rumah.

Sebenarnya Kevin juga rada merasa minder jika berkumpul dengan teman-temannya. Pasalnya, semua temannya pasti sudah menggandeng lampirannya masing-masing. Pernah suatu kali Kevin diolok habis-habisan oleh temannya waktu nongkrong di café langganan mereka.

“Aku salut banget sama kau, Kev!” sindir Yan, sobat karibnya sejak SMA, “karena kau adalah cowok paling natural yang pernah kutemui, malah suci banget karena belum pernah dimiliki. Hahaha….”

Kevin tenang saja, selera mukanya rata, hanya tangannya yang sibuk mengaduk serbuk cokelat yang bertumpuk di pucuk avocado coffee-nya. Baginya lelucon seperti itu sudah biasa dia tanggung sejak di bangku sekolah. “Masih untung tidak hidup sebatang kara,” begitu dia sering menghibur nasibnya sendiri.

“Ayolah Kev, sampai kapan kau mau terus melajang? Ibumu boleh saja memilih single, tapi masak kau juga ikut-ikutan single?”

“Baiklah, sebentar lagi, sebentar lagi… kita sudah harus pulang, soalnya kasihan ibuku sendirian,” cengir Kevin sambil menyeruput avocado coffee-nya sampai habis satu tarikan napas.

***
Baru saja dia akan menyusun bon tagihan café yang kesekian—seperti biasa, jika setiap nongkrong Kevin belum juga bisa menggandeng lampirannya sendiri, maka dia yang harus membayari semuanya—matanya terpaku pada foto yang terselip di balik kantungan bertabir plastik bening di dompetnya. Setiap malam sebelum tidur, dia selalu berusaha tegar memandangi foto itu, dengan harap-harap syukur bisa membawanya ke alam mimpi, atau... benar-benar membawanya ke alam nyata, dengan kata lain mengajaknya menjadi lampirannya suatu hari nanti. Tapi apakah mungkin?

Ah, dia pandang lagi foto itu, wanita ini sudah tua, tidak zamannya lagi Kevin mengajak ibunya buat nongkrong di café, bisa-bisa dia jadi adonan empuk buat lelucon Yan dan kawan-kawan. Sampai saat ini, memang hanya ibunya satu-satunya foto wanita yang disimpannya. Wajar saja, wanita inilah yang sudah berjasa menanaknya jadi seranum sekarang. Jadi siapa lagi yang layak untuk Kevin simak selain ibunya sendiri?

Kevin sadar, sudah lama dia tidak berbagi waktu dengan ibunya, kecuali saat-saat di mana Kevin diceramahi sehabis meninggalkan dosa tak seberapa. Kevin ingin sesekali bisa mengajak ibunya untuk makan berdua, atau sekadar belanja bersama, agar kehangatan yang dulu paling diresapinya itu bisa dia rasakan lagi sekarang. Namun, dari dulu Kevin tak pernah bisa menang kalau tiba giliran membujuk ibunya.

“Sudahlah, Nak. Daripada kamu mengajak ibu, bukannya lebih baik kalau kamu cari pacar dan mengajaknya kencan?”

Kevin tercekat. Napasnya seperti dicegat lidah yang macat berkata-kata, karena bingung mau mengkhayal pacar dari pelosok mana.

Sebenarnya bukan karena Kevin tidak laku, atau karena persyaratannya sebagai lelaki kurang memadai untuk ditengarai para wanita modern yang keren. Ada juga cewek yang memberi sinyal awal padanya, tapi dari sejumput jumlah cewek yang dia sortir, hanya satu yang bisa membuat perasaan Kevin menjadi kental dan otaknya menjadi janggal. Kevin sempat mengelak dari semua gejala yang menggelitik nalurinya karena menganggap reaksi tubuhnya hanya kesilapan alam, tapi bukankah cinta selalu kerap mengacaukan logika?

“PING!!!” Sebuah getaran singkat kontan membuyarkan lamunan Kevin. Tampak nama “Cellyne” bertengger di sudut layar BlackBerry-nya. Kevin senyum-senyum ranum. Kenapa bisa kebetulan sekali, pikirnya. Apalagi cewek yang menggetarkan BlackBerry-nya adalah cewek yang selama ini juga menggetarkan sendi-nadinya. Mungkin inilah saatnya untuk mulai menjajaki kehidupan berpasangan seperti Yan dan antek-anteknya yang lain. Daripada dia harus terus membayari cecunguk busuk yang suka meledek status ketunggalannya, bukankah lebih baik dia membayari cewek tunggangan jiwanya ini?

***
Lajur mata Kevin terpekur lagi pada foto di celah dompetnya itu. Kali ini senyumnya lain, terasa lebih segar karena sosok di foto itu juga masih muda, tidak sekusut kerut-marut yang habis termakan zaman. Apalagi, foto ini juga tidak didapatnya dengan mudah, melainkan melalui perjuangan nyali berbulan-bulan lamanya, baru foto itu bisa leluasa mampir menjadi lampiran dompetnya. Ya, masih sebatas lampiran dompet, karena untuk resmi menjadi lampiran hidupnya, masih butuh persetujuan dari ibu Kevin yang fotonya sekarang, ah… masih tetap di posisi semula kok, hanya saja sudah ditimpa dengan foto cewek pancangannya sekarang, yaitu Cellyne.

Sampai saat ini, belum ada yang tahu perihal kedekatannya dengan Cellyne. Kevin memang sengaja merahasiakan hal ini, agar tidak memancing kritik-polemik dari Yan. Begitu juga dengan ibunya sendiri, Kevin tidak mau buka-bukaan kartu. Dia ingin setelah semuanya matang, barulah Cellyne diperkenalkan kepada ibunya.

Kevin paham, sebagai satu-satunya anak, ibunya pasti mematok syarat yang ketat untuk pasangannya. Salah satunya terbaca dari pesan ibunya, “Siapa pun pasanganmu kelak, tidak kalah penting juga, perhatikanlah siapa orang tuanya.”

Kevin tidak tahu pasti apa alasan ibunya berpesan begitu, tapi demi jaga-jaga, sedari awal dia sudah menelisik latar belakang keluarga Cellyne dengan hati-hati. Malam ini adalah buktinya, dengan modal nyali dadakan, Kevin pun melapangkan kaki berkunjung ke rumah Cellyne yang luasnya hampir menyekap sekujur tangkup matanya. Kalau bukan demi Cellyne, mungkin lututnya sudah lumer duluan sebelum nangkring di depan orang tuanya.

Pertemuan itu sendiri berlangsung akrab, meski terkadang Kevin sempat terlihat gagap, sam-
pai-sampai Cellyne yang harus membantunya menjawab. Hampir semua interaksi berasal dari ibu Cellyne, sementara ayahnya hanya sesekali menimpali, sambil sibuk menyimak kontur wajah Kevin yang dirasanya amat familiar. Hasilnya, rata-rata interogasi malam itu berhasil diatasi Kevin, kecuali satu pertanyaan utama yang sengaja disimpan ayah Cellyne sampai Kevin resmi lesap dari ambang gerbang rumah mereka.

“Cellyne, ada yang ingin kutanyakan padamu,” seulas suara tampak tegas, “bersediakah kau jadi lampiranku?” Kevin terkekeh heboh sendiri, sambil sebelah tangannya membungkam rongga suara di BlackBerry-nya. Hatinya kegirangan, karena melihat dari reaksi orang tua Cellyne, pastilah dia bakal lolos audisi. Namun dia tidak sadar, di wilayah rumah yang lain, air mata sudah meranggas dari pelupuk mata Cellyne yang kuyu.

“Ah, Kevin! Ini bukan lagi waktunya main-main. Kau tidak tahu…,” Cellyne melenguh, berusaha menetralisir candaan Kevin karena ada sesuatu yang ingin disampaikannya, sesuatu yang cukup serius, “baru saja terjadi keributan besar di rumahku!”

Air muka Kevin seketika berombak. Matanya lancip, bibirnya bercerai meninggalkan corong lebar di tengahnya.

“Haaahh? Apa yang terjadi, Cel? Bukankah tadi kulihat orang tuamu baik-baik saja?”

“Awalnya begitu Kev, tapi ayahku sudah mulai curiga sejak pertama kali melihatmu, karena dia bilang wajahmu mirip sekali dengan seseorang yang pernah sangat dia kenal.”

“Mirip seseorang? Memangnya siapa orang itu? Dan apa hubungannya denganku?”

“Kata ayahku orang itu sudah meninggal, tapi… tidak dengan istrinya. Dan terakhir…”

“Terakhir apa?”

“Semuanya berubah ketika kujawab pertanyaan terakhir dari ayahku.”

“Apa itu?”

“Nama ibumu!”

Tanpa mengulur jeda waktu lagi, Kevin langsung menghambur mencari ibunya yang sedang sibuk menggosok kerak-lemak piring di dapur. Status rahasia hubungannya dengan Cellyne pun tidak lagi dijunjungnya. Isi hatinya berlumut, karena sama sekali tidak mengerti ada riwayat pedas apa yang menyangkut ibunya, sampai-sampai membuat emosi ayah Cellyne mendadak masak dan terbakar.

“Jadi kamu sudah punya dambaan hati, Nak? Kenapa tidak kamu ceritakan dari awal? Siapa namanya?”

“Nama ayahnya Sukardi, dan nama ibunya Minah!” Kevin sengaja langsung menyebut nama orang tua Cellyne untuk melihat reaksi ibunya, dan ternyata benar saja…

“Su… Sukardi? Minah…? Min…” ibunya menggelengkan kepala, garis dahinya bertumpuk tidak beraturan, seperti ada sesuatu yang mencongkel kenangan lamanya.

“Ya, Sukardi Tanoto dan Minah Amalia.“

“Tinggal di Jalan Asoka, yang rumahnya tak jauh beda dengan lapangan bola?” Melihat Kevin menganggukkan dagunya, gelengan ibunya melebar, seakan tak percaya dengan kenyataan di depannya, kenyataan yang tidak disadari Kevin telah menyebabkan dia harus menanggung label triple-single-nya selama hidupnya ini.

“Siapa mereka, Bu? Kenapa ibu bisa kenal dengan orang tua Cellyne? Ada apa sebenarnya?”

“Tinggalkanlah dia, Nak. Demi kebahagiaanmu, dan juga kebahagiaan kita.” Mata ibunya mulai berangsur-angsur basah kebocoran air mata.

“Tapi kenapa, Bu? Cellyne adalah wanita pertama yang pernah dan baru saja aku dekati. Kenapa aku harus meninggalkannya hanya karena perkara orang tua, yang sama sekali aku tidak tahu-menahu sedikit pun?”

“Kalau kau tahu bahwa orang tuanya adalah penyebab kematian ayahmu, masihkah kau tega mencintai anaknya?” napas ibunya mulai terisak, didesak tangis yang mengacak-acak batinnya. Kevin sendiri tersentak mundur, tatapannya ikut gugur dari pangkalan matanya, bersamaan dengan cerita yang mengucur deras dari bibir getir ibunya.

Ternyata, Sukardi adalah teman terbaik yang pernah dimiliki ayah Kevin, juga rekan bisnis yang paling berbakat. Ayah Kevinlah yang memberinya kesempatan untuk bergabung dengan bisnisnya, tapi tidak disangka, hanya demi ambisi, Sukardi tega mengkhianati ayah Kevin dan merebut bisnisnya, sampai-sampai ayahnya terbelit utang besar dan akhirnya diseruduk stroke! Sukardi malah tidak merasa bersalah, bahkan tidak membantu sedikit pun biaya pengobatan ayah Kevin yang telah berjasa padanya. Tepat sebulan sebelum Kevin lahir, ayahnya pun meninggal.

“Jadi, atas dasar nurani apa ibu dapat merestui hubunganmu dengan anak dari orang yang sudah mencelakakan ayahmu dan juga membuat ibumu menjanda?”

“Tapi, Bu, kenapa harus kami yang menjadi korban? Kenapa?”

“Lantas ayahmu bukan korban? Atau kau juga ingin ibumu mati sekalian jadi korban baru kau puas?” hardik ibunya, sembari mencampakkan piring yang tercebur ke bak penampungan, lalu melesat pergi dari hadapan Kevin.

Napas Kevin merapuh, hingga lututnya juga ikut lumpuh. Kevin sadar, tidak ada satu pun cara yang dapat ditempuh dalam kondisi begini. Ini adalah kali pertama dia begitu serius pada seorang wanita, tapi di sisi lain dia juga tidak ingin mengecewakan ibunya. Dua-duanya ingin dia pilih, sebagaimana dua lembar foto di dompetnya yang saat ini sedang dipandanginya bergantian. Dia tidak pernah menyangka bahwa takdirnya memang hanya untuk memiliki satu lembar foto, dan satunya lagi harus jadi korban, tapi siapa?

Samar-samar dalam galau yang sempoyongan, Kevin masih berusaha mencari jalan tengah untuk dilema ini, tapi akalnya tak lagi normal, sampai-sampai tebersit olehnya untuk kabur dengan Cellyne. Bahkan saking kecewanya, sempat juga ada kelebat bejat di benaknya untuk benar-benar membuat ibunya menjadi korban, ketika melihat kilatan pisau yang tertambat di rak dapur. Namun belum lagi benaknya berbenah, sebuah pesan singkat sudah masuk menyingkat lamunannya.

“Maafkan aku Kev. Aku mencintaimu, tapi aku juga tidak ingin jadi pacar durhaka!”

Kontan saja, setelah menghakimi isi pesan itu, lahar amarah Kevin tambah membuncah. Dicabutnya pisau tadi dari rak, lalu diacungkannya tepat di pucuk matanya.

“Daripada aku yang sengsara, lebih baik kuakhiri saja semuanya.”

Dalam sekejap, pisau itu pun lengkap tertancap. Dapur itu jadi hening, tidak ada lagi penampakan apa pun di situ, selain dua lembar foto yang tergeletak persis di puncak rak dapur. Keduanya kini sama-sama tampak berkerut. Yang satu kerutnya asli, karena termakan zaman, sedang yang satunya lagi berkerut, karena bekas amuk tusukan.

***
"PING!!!” Sebuah getaran singkat menyela Kevin yang sedang bersiap-siap akan keluar rumah. Tampak nama “Susi” berkacak di sudut layar BlackBerry-nya. Kali ini sendi-nadi Kevin tidak ikut bergetar, raut matanya datar dan hatinya juga hambar-hambar saja. Kevin memang sedang menunggu kabar dari Susi yang berjanji akan mengenalkan Kevin dengan seorang teman asramanya.

“Bu, Kevin permisi keluar rumah dulu ya, ada janji dengan teman,” pamit Kevin sambil mengecup penampang tangan ibunya.

“Janji kencan ya, Nak?” ibunya tersenyum, senang melihat Kevin yang sudah pulih dari cobaan cintanya yang pertama.

“Bukan kok, Bu. Kevin hanya akan diperkenalkan oleh teman Kevin dengan teman satu asramanya.”

“Oh. Temannya itu… laki-laki atau wanita?”

“Cewek, Bu. Kata Susi orangnya baik dan dewasa, terus pastinya mandiri banget soalnya kan cuma tinggal sendirian di asrama.”

“Baiklah, hati-hati di jalan, Nak. Jangan ngebut!” Kevin membalas dengan anggukan dagunya, sambil mengeluarkan dompetnya untuk memeriksa kelengkapan surat-surat kendaraannya. Sekilas terlihat oleh ibunya ada foto sepasang remaja yang terselip di sana. Yang satunya Kevin sendiri, dan yang satunya lagi adalah orang yang selama ini paling dekat dengannya.

“Ah, ternyata Yan!” batin ibunya.

“Eh, Nak! Tunggu sebentar!” dengan cepat ibunya menarik lengan Kevin yang sudah hampir cabut dari pijakan, sepertinya ada sesuatu yang sangat penting, dan serius, yang ingin disampaikannya.

“Ingat pesan ibu?”

“Maksud ibu… mengenai orang tuanya?”

Ibunya mengangguk dangkal.

“Tenanglah, Bu. Kali ini kita aman,” tukas Kevin menenangkan ibunya, lalu menyusur ke ambang telinganya sambil berbisik, “Cewek ini yatim piatu!”***

Medan, 24 Maret 2012

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com