"Ada jalan yang kusebut namanya kenangan, sebab muaranya buntu, di mana cinta dan luka kerap bertemu dalam keadaan rancu" — David Tandri

Monday, October 8, 2012

Melankolia Playboy



Malam sudah melorot, tapi belum ada tanda-tanda Keffhint akan mengayuh langkah pulang. Dia malah berharap, tingkah angin yang berkecamuk di pesisir balkon, dapat terus mengangsurkan hawanya sampai ke desis paling gigil, agar lengannya dapat semakin menjerumuskan tubuh wanita itu ke dalam dekapannya. Ya, ada sejumput hangat yang ingin disulut di situ: di tengah tangkup dadanya yang kesat dan bidang.

“Tenanglah, Maria, kau akan merasa nyaman bersamaku.” Keffhint mulai beraksi dengan petuah-petuah gombalnya, sementara pucuk jarinya yang ceking sedang keranjingan mengelus-elus pusat kepala Maria dengan lembut.

“Aku tahu, tapi ini sudah malam. Dan kau seharusnya…,” Maria mendongakkan kepalanya, hendak mencari-cari gerangan sorot mata Keffhint, tapi Keffhint tak membiarkannya berusaha lebih jauh, sebelum kembali mencelupkan kepala Maria di penampang dadanya.

“Kau tidak perlu mengingatkan aku untuk apa pun, karena satu-satunya yang perlu kuingat hanya kau!” Seulas senyum nakal bergeriak di wajah Keffhint, sementara di peraduan dadanya, kepala wanita yang sedang berlabuh itu mulai merasa terhibur. Tunggu! Lebih tepatnya kukatakan: tercebur! (Habis nancapnya dalam banget sih!)

Nah, risikonya jelas! Adegan tadi kontan membuat Maria tak kuasa mereguk kantuk. Dia terjangkit insomnia karena merasa ada yang janggal dengan bantalnya—tidak senyaman bantalan dada yang tadi disusupinya. Tuas lehernya kini kebas karena kelamaan bersandar. Kalau bukan karena sebelah tangannya hendak melangsir pijatan, takkan Maria sadar, di antara lipatan-lipatan ketus jemarinya sedang menggenggam batang ponsel. Mmh, teranglah apa maksudnya. Paham kalau suara Keffhint adalah penawar risau, Maria pun mengarahkan menu ponselnya ke data kontak Keffhint. Sejurus kemudian, panggilan pun terpintas ke tujuan.

Alangkah terkejutnya Maria, ketika mendapati orang yang menyahut telepon di seberang sinyal adalah wanita. Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Ini sangat aneh, pikirnya. Jelas-jelas nomor itu baru diberikan Keffhint saat dikebut pamit sejam yang lalu. Bagaimana mungkin secepat itu sudah putus koneksi? Ah, jangan-jangan sesuatu telah terjadi pada Keffhint? Maria mulai dilibas cemas, seolah-olah takut kehilangan nakhoda jiwa yang segera saja sudah menghuni rongga sunyi di hatinya.

Syahdan, di alam ruang yang lain, Keffhint malah sedang asyik bergolak bahagia. Dia terus terkekeh, kemudian jeda sejenak, sambil mulutnya membuka dan matanya menerawang ke atas, lalu terkekeh lagi. Begitulah tawa dan khayal terus berjabatan, sampai akhirnya dia mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya. Oh! Sebuah SIM card ponsel! Belum lagi sedetik dipandanginya, tawanya sudah kembali meledak seperti makhluk salah urat.

“Hahahahaha…. Kasihan sekali kau, Maria! Semoga Tuhan memberkati kegalauanmu. Hahahahaha….”

Dalam sekali tekuk, krak, plat mini itu pun terkuak menjadi dua, lalu dilarungnya ke tong sampah. Selanjutnya, dari belahan sakunya yang lain, dia mengeluarkan lagi sekepalan kartu perdana yang masih tersegel. Nomornya garing, oi! Sarat angka delapan! Dan yang lebih mencengangkan lagi, masing-masing kemasannya bahkan sudah bertera nama-nama calon wanita yang akan “ditenungnya”. Ada Lyla, Paula, Ambrella, Stella, Ketela dan bla-bla-bla….

“Bersiaplah dengan giliran kalian!” Dengan sigap Keffhint memetik salah satu kartu dari bundel kemasan itu, lalu disematkannya ke dalam ponsel. Mantaplah sekarang! Kelar sudah racikan siasatnya! Maka tibalah pula waktu bagi Keffhint untuk mengisi pembaringan malam, merebahkan gontai kantuk, dan menyongsong ke cakrawala mimpi. Disekapnya guling ke dalam pelukannya, tapi eh, entah kenapa, rasanya aneh belaka! Batangan kapas itu tak senikmat ganjalan batang tubuh wanita yang tadi baru dipincuknya. Entah kenapa. Ada yang tahu?

***
“Keffhinnttt…!!!” seraung gertak menghunjam dari hulu pintu kamar Keffhint. Keffhint pun tersengat jengking karena kaget. Diucek-uceknya matanya sambil mengerjap. Maklum, baru saja dia habis mengigau, dan lupa siapa nama wanita terakhir yang gagal dirapalkannya karena ilernya telanjur meleleh.

“Ah, Ibu! Ada apa sih pagi-pagi buta begini? Pakai jerit-jerit segala lagi.”

“Pagi buta?? Kau yang buta! Ini sudah siang dan sudah waktunya kau untuk bangun!” sergah ibunya. Keffhint terperanjat. Untuk sesaat pandangannya berkeliling mencari kesadaran, dan jatuhlah lirikannya pada beker yang mata loncengnya sudah disimpul mati pakai karet. Tubuh Keffhint pun tersentak keras, seperti popcorn yang baru matang dari penjerangan. Bagaimana mungkin dia tidak menyadari, kalau ini sudah jam 11? Masak gara-gara keasyikan kencan malam, Keffhint jadi jetlag?

“Sarapanmu sudah disiapkan di bawah. Ah, tidak! Bukan sarapan, anggap saja sebagai makan siang,” tandas ibunya. Keffhint hanya manggut-manggut dangkal.

Baru saja ibunya hendak berpaling dari ambang kamar, langkahnya segera menguncir dan berbalik 180 derajat.

”Dan satu lagi,” telunjuk ibunya mulai mendakwa tepat di pusar jidat Keffhint, lalu mematuk-matukkannya hingga kepala Keffhint terdesak ke belakang, ”belajarlah membedakan pagi dengan siang, baik saat kau bangun maupun ketika kau pulang! Atau kau akan menyesal!”

Alamak!! Lagi-lagi Keffhint disergap perangah, bertanya-tanya bagaimana ayahnya bisa jatuh cinta pada wanita pongah dan menggerahkan seperti itu. Lihat saja tadi, betapa gesitnya wanita itu melakukan manuver saat merepet! Sangat berbeda dengan kelembutan wanita yang selama ini bersilihan dikencaninya. Anggun, syahdu dan menghanyutkan. Ouch…!! Auwh…!!

“Stella!” sebersit nama langsung terpacak di benaknya. Kali ini Keffhint sebenar sadar. Sadar semelek-meleknya. Ada kencan yang harus dituntaskannya malam ini juga di balik balkon. Ah… tidak! Keffhint merasa harus mencari tema baru. Dia ingin sesekali mencoba suasana indoor. Pasti lebih hangat, pikirnya. Outdoor melulu tidaklah seru. Ya, memang lelaki sih lelaki, tapi bisa masuk angin juga, toh?

Nah, asal kau tahu saja, Keffhint juga tidak semudah itu mau bersanding kencan dengan sembarang wanita. Dia bukan tipe lelaki yang suka dengan sistem random. Setiap wanita yang dia pilih sudah dipindai timbang-karat wajahnya dengan saksama. Kalau yang kualitasnya “KW” sih jangan ngarep deh! Bayangkan apa kata para boyband nanti, kalau seorang Keffhint Leonheart Tandri, Sang Lelaki Mahakunang—begitulah dia mendapatkan julukan dinasnya—sampai mengencani seorang wanita setengah matang, yang alur mukanya timpang dan rintik alisnya gersang! O-o-o… pokoknya jangan sampai deh! Amis!

Baiklah! Kukira tos-tosan saja kubocorkan padamu, seperti apa baku-rancang wanita yang lulus kaji di mata Keffhint. Pokoknya wanita itu mesti punya gugus tampang yang apik. Semakin boros emisi auranya semakin baik. Semakin menggelitik.

Intinya, bagi dia, wanita yang cantik adalah wanita yang relief tubuhnya sintal dan aerodinamis. Tingkap matanya teduh dan lentik ibarat bujur kuaci. Palang hidungnya mancung bagaikan dasun tunggal, serta ambang dagunya belah tengah, pun pipinya legit laksana pauh dilayang. Dan aihhh…! Bibirnya, ketika diseruput, kenyal dan licin seperti cenil. Bagaimana? Ngisap banget, bukan?

Tak ubahnya seperti Stella, wanita yang sebentar lagi akan digelutinya. Keffhint sudah tidak sabar ingin menyemai kepala Stella di pematang dadanya. Ops, jangan salah! Jangan pikir dada Keffhint juga seperti cenil adanya, lembek dan meleleh. Justru dadanya gempal dan berpancang gurat otot. Haaa!!! Kau pasti penasaran kenapa aku bisa tahu sedetail itu. Hei, jangan salah sangka dulu! Aku bukan gay. Aku ini kan penulisnya! Hehehe….

Oke, kembali ke TRP, eh TKP!

Nah, saking tak sabarnya ingin berjumpa dengan Stella, Keffhint sampai panik dan lupa menghubungi Stella untuk berembuk janji kencan. Maklum, secerdik-cerdiknya kaum lelaki kadang bisa silap-basah juga. Untunglah, rumah Stella tak jauh-jauh amat. Hanya beberapa erangan gas motor sudah cukup membuat Keffhint tiba sedentangan waktu.

“Bersiaplah, Stella! Semoga Tuhan memberimu ketabahan untuk menemaniku berkutat dalam pelukan. Hahahaha…!!” Dikecup-kecupnya foto Stella sampai bersimbah ludah. Mungkin bawaan terlalu girang karena mendapati umpan kencan yang cocok dengan ikatan syarat. Yah, mudah-mudahan saja, hasil yang terhidang nanti pun sewujud-sepenampakan dengan potret yang tersurat.


Di tengah perjalanan, saat senja mulai hangus dan bias bulan tercetak di bencahan awan, Keffhint mulai tenggelam dalam liur fantasinya sendiri. Dibayangkannya wajah kemayu Stella yang memintal senyum, lalu sesisip demi sesisip, kepala Stella pun terbenam dan berlinang di pelukannya. Aih, mengingat kemesraan seperti itu, sudah pasti—untuk kesekian kalinya—Keffhint tak bakal pulang cepat malam ini.

Seperti biasa, Keffhint selalu bersiul-siul untuk bersemarak dengan kebahagiaannya. Meski siulannya terdengar soak, tapi hal itu tak menyurutkan bakat dirinya dalam memikat hati wanita. Bahkan tak jarang, Keffhint-lah yang lebih dulu tergiur oleh terik-pesona wanita pingitannya. Maria sudah. Johanna lewat. Ellisa apalagi! Stella? Nah…!!

Lihat, barisan para wanita bergaun canggung yang berjejer di sebingkai foto keluarga. Walau wajah para wanita itu sarat dengan kilasan bedak dan arsiran celak, Keffhint masih dapat menduga-duga kecantikan alami yang tersirat di balik solekan usang itu. Pasalnya tadi, waktu disambut di depan rumah, Keffhint sudah membuktikan sendiri seraut indah wajah ibu Stella. Pun gerai tubuhnya montok dan elok!

“Mmh, sampel bagus ini,” cengir Keffhint. Mendapat kemujuran seperti itu, Keffhint kian bergelimang hasrat menunggu Stella dipanggilkan ibunya. Bukankah palet wajah seorang anak sedikit-banyak juga mengidap bibit turunan dari orang tuanya? Nah, kalau begitu, pastilah Stella juga sangat…

“Alah-makjang…!!!” Keffhint terbelalak tegang, ketika menyadari sesosok wanita telah bertengger di hadapannya, sambil melirik Keffhint dengan sinar tatapan yang kesengsem-mangu.

“Jadi, kau yang namanya Keppin? Si Lelaki Mahakunang itu?” Wanita itu meniupkan seberkas kecupan ke arah Keffhint. Sedap!

“K-kau… siapa…??” Oalah! Tubuh Keffhint mulai dicecar gemetar. Akal-pikirannya lantak berkeriap nanar!

“Lho, kok jadi tidak kenal denganku? Aku kan Stella.”

“Apaaa??” Keffhint melolong kesetanan, sebelah tangannya spontan membekap corong mulutnya yang menganga lebar.

“Kau… Stella?” Keffhint masih tidak percaya, betapa harapnya semua ini hanyalah drama mimpi yang disabotase jin atau dedemit binal. Sebagaimana wanita itu, pasti hanya jelmaan fana semata, batinnya. Syukur-syukur fatamorgana! Tapi, adakah yang lebih merana dibanding sejamah colekan telak di ulu dada? O, kualatlah bagi Keffhint yang bergelicak tak karuan menahan remang geli.

“Benar, aku memang Stella. Dan margaku Lollipop,” wanita itu terbahak centil, sembari melanjutkan, ”seperti penulis, aku juga punya banyak nama samaran. Kalau sedang musim hujan, namaku Ambrella. Kalau lagi musim panen, namaku Ketela. Ohya, masih ada lagi. Seperti kamu, aku juga punya julukan. Julukanku yaitu… Cinderella Olala.”

“Aarrrggghh…!!! Tidak, tidak. Kau pasti bukan Stella. Soalnya fo-foto itu…”

“Oh, jadi maksudmu foto keluarga itu? Hmm… itu aku waktu masih langsing. Tapi sejak aku sakit dan berobat ke klinik Fangfang, pencernaanku jadi ringsek! Entah kenapa, semua yang kumakan tercecer saja di dalam usus, dan yah… satu bulan kemudian aku mulai kehilangan pinggang.”

Ampun…! Benar saja itu! Lihat, mulai dari teras pipinya, kendur dan bercucuran. Pucuk hidungnya kempis dan karam. Umbai kupingnya lusuh dan kusut ibarat kerupuk jangek! Gurat alisnya ringkas, juga katup matanya sipit dan sempit kayak celah putaran baut. Bibirnya? Aduh mak oi! Gersang, retak dan berkerak! Bonggol pahanya pun bengkak seperti habis terjangkit radiasi bom atom. Tak jelas lagi di mana siku dan lututnya bersimpang. Kalau saja kau jeli, kau akan melihat tubuhnya persis seperti angka nol. Nol kritis! Diameternya bikin aib!

Sungguh, Keffhint bergidik mampus dibuatnya. Alih-alih disangkanya Stella itu perempuan, lebih mirip kilang lemak malah! Jangan-jangan, dia itu adalah makhluk kibasan dari tungku neraka tingkat tujuh, yang tak habis terpanggang karena cadasnya ketebalan. Siapa yang sudi berkongsi dada dengan “kontainer bongsor” seperti itu?

“Maaf, aku harus pulang sekarang,” Keffhint akhirnya mengusung pamit.

“Tenanglah, untuk apa buru-buru? Kau pasti akan merasa nyaman bersamaku,” rayu Stella. Keffhint tercenung. Rasanya dia tidak asing dengan kalimat itu.

”Tidak, tidak! Aku baru ingat aku ada urusan penting.”

“Ah, lupakan saja yang lain. Bukankah satu-satunya yang perlu kau ingat hanya aku?”

Itu dia! Kalimat itu persis yang diucapkan Keffhint ketika menggoda Maria di pinggir balkon. Kenapa bisa sama? Maksudnya, kenapa bisa terulang?

“Kau… kenapa bisa tahu kalimat itu?” Ubun-ubun Keffhint terasa panas. Firasatnya berkelebat.

“Puji Tuhan! Pagi ini saat aku ke klinik Fangfang, aku bertemu dengan seorang gadis cantik, sedang duduk mematung sendiri. Kusapalah dia, tapi kepalanya tetap bergeming. Oh ternyata, lehernya sedang kram. Habis dikerjain playboy katanya. Maria, Maria! Aku jadi simpati, karena selama ini justru akulah yang kerjain playboy. Lihat, aku juga punya banyak kartu perdana. Ini untuk Upin, ini untuk Ipin, dan ini untuk Keppin. Kamu deh. Hahahaha!”

Keffhint tercekat. Napasnya sengok dan ngadat. Ingin rasanya dia mencongkel dadanya dan mati saja. Tapi apa daya? Segandeng dada di hadapan sudah siap merenggut kepalanya. Keffhint coba beringsut mundur, namun sial, langkahnya mentok terganjal tembok. Kini dia tak punya jalan kabur lagi.

“Ayolah Keppin. Tunggu apa lagi? Hinggaplah di dadaku. Rasakan pegasnya. Nikmati pantulannya. Kujamin kau pasti pulas. Hahahaha….”

Tanpa tedeng aling-aling lagi, sepasang tangan Stella segera merentang, lalu menciduk kepala Keffhint ke dalam pelukannya. Segeliat mungkin Keffhint merintih dan meronta, namun tubuh Stella terlalu besar untuk dilanggar.

Samar-samar terciumlah oleh Keffhint aroma yang mengiang dari sela-sela dada Stella. Gila! Kau pasti tak percaya. Bisa-bisanya wanita ini memakai parfum oplosan. Rasa mint pula!

Bagai refleks Keffhint pun merintis sendawa. Bekas makan siangnya bahkan sudah meluap hingga ke puncak tenggorokannya, hampir-hampir muncrat! Sungguh, semalas-malasnya Keffhint makan, masih lebih berselera dia dengan rasa nasi putih ketimbang rasa dada menthol. Ih! Dada yang sarat dengan otot-otot getol—tangkas lagi beringas! Dada yang telah berhasil membongkar benteng kejantanan Keffhint hingga titik desah penghabisan!

“Ibuuu!! Aku janjiii…!! Mulai besok aku pasti rajin sarappaann…!!” pekik Keffhint.

Sayang, telat sudah!

Kepala Keffhint telanjur dikobok-kobok dalam gilingan dada Stella. Berpentalan. Berlesatan.

“Ibu!! Toloonngg!! Aku bahkan rela jadi vegetariaannn…!!”

Tamatlah! Kali ini tamat!

Kepala Stella mulai berpindah haluan, hendak mencari-cari gerangan kuncup bibir Keffhint. Sadar dirinya sedang dalam impitan nafsu, Keffhint pun kembali meronta barang sekelit-dua kelit. Namun, maksud hati hendak menampik sodoran bibir Stella, cih, sepancaran uap ganjil yang meliuk-liuk ke hidungnya malah sudah membikin tubuh Keffhint meranggas lemas. Coba, apa lagi yang terbayangkan, jika akhirnya sepasang bibir resmi bersedot-sedotan di tengah semilir dengus aroma kemenyan?

“Ibu!! Aku insaf!! Sumpah matiii…!!”***

Medan, 08 Oktober 2012


* David Tandri, penulis dan blogger aktif kelahiran Medan. Pastinya bukan playboy. Twitter: @davidtandri. Website: www.davidtandri.com.

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com