"Ada jalan yang kusebut namanya kenangan, sebab muaranya buntu, di mana cinta dan luka kerap bertemu dalam keadaan rancu" — David Tandri

Monday, February 11, 2013

Tiga Postulat Cinta


“Kesetiaan adalah jalan terpanjang menuju tabir kemustahilan cinta."


Mungkin ada benarnya ucapan temanku, bahwa cinta umpama jerat yang nikmat. Ragam warna dan rasanya dapat bersepadu menjadi satu, mencipta letup asmara, lantas memercikkan kembang cita bahagia. Paling tidak, itulah bunga kenikmatan yang terwujud pada tiap titik permulaan cinta, meski tak terpungkiri—saat jerat cinta mengarah sesat—kerap pula ia merontakan liuk luka. Ah cinta, memang sebenar rumus yang membingungkan.

Baiklah! Katakanlah saat di mana cinta mulai menyusup ke katup hatimu dan melabuhkan sececah arti, berharap dapat lekat mengabadi. Namun, ada pula kalanya ia hanya berupa sesiut angin yang lembut—mungkin sekadar bergetar lalu pudar. Apalagi saat kutub cinta bertolak badan, namun ubun waktu nekat membirukan rindu! Oh, maka cinta laksana pusar beliung yang mampu menumpah-hamburkan perasaan. Membiarkanmu hidup meraut derit, sedang hati berkaca-kaca sendiri dikulai sunyi.

Begitupun menyeramkan, temanku masih berkeras mencari jalan terbaik menuju perantauan cintanya. Tak putus ia melesatkan galah semangat, walau menurutnya, lebih sering ia terhempas ke cadas kegagalan. Lantas, apakah puing cinta yang retak musti lagi dirangkai ulang sebagai perca harapan? Ah, tak jelas!

“Sungguh, aku tak jelas harus bagaimana, Ellisa. Please, bantulah aku!”

Hmm, aku bergeming saja, mengunci kata. Bukannya apa-apa, tapi temanku ini terus ngotot percaya, bahwa hanya wanitalah yang bisa memahami wanita. Sebab sebadan-sepengertian, katanya. Oalah! Kujewer daun kupingnya hingga kepalanya layu dan oleng. Memang, belakangan wadah pikirannya sudah terlalu keruh hanya karena terjebak sengketa batin tentang persoalan wanita. Ya! Wanita!

“Kau tahu, Ellisa, aku tak bisa lagi berlama-lama menunggu. Please! Aku tak punya banyak waktu lagi!”

Aduh, Dave....

***
14 Februari tinggal seunduran hari. Hari di mana para lelaki sibuk menyulam akal dan merajut gaya demi menjala hati seorang wanita. Aku adalah salah satunya! Sudah lama aku mengasuh debur kekagumanku pada sosok wanita itu, meski sadar, kekaguman tanpa aksi tak ubahnya buih repih yang mudah dikandaskan tempias ombak. Imbasnya, kadang hatiku letih ditekuk gelisah, seakan mengayak-ayak serpih pertanyaan yang berjawab entah.

“Masalahnya, aku bukan satu-satunya lelaki yang mengejarnya!” begitu aku menerangkannya pada Ellisa. Ah, Ellisa, wanita yang sudah kukenal sejak kanak, tapi kadang sukar juga meluluhkan kerak hatinya yang bengal. Tak terhitung berapa kali sudah kami bersilat pandang soal wanita. Menurutnya, setiap wanita punya cagak minat yang berbeda. Oleh karena itu tak bisa disepadankan. Padahal aku tahu, Ellisa pun berteman dekatnya dengan wanita itu. Tapi selalu...

“Dekat bukan berarti sependapat,” kilahnya.

Aduh, Ellisa....

***
“Apa kau bilang?” pekik lelaki itu setengah terperangah.

“Apa kupingmu sudah bocor? Biar kutegaskan sekali lagi! Jika kau ingin aku mempertimbangkanmu sebagai kekasihku, kau harus memberiku sebuah kejutan yang memenuhi tiga syarat khusus di hari Valentine nanti.” Wanita itu menggeser dudukan tubuhnya, berupaya merentang jarak dengan lelaki semeter-tujuh-puluhan itu.

“Tiga...?” Lelaki itu termangu sejenak, “saja...? Bereslah! Apa itu?”

“Paling mahal, paling unik dan paling tak terlupakan!” tukas wanita itu sambil memuntir-muntir suwir rambutnya, tanpa sekalipun berjabat pandang dengan lelaki itu.

“Ah, kalau itu gampanglah urusannya!” Cuma tiga...! Berlipat-luap pun kujadikan, batinnya. Soal mahal? Ah, kalau cuma berbilang juta tak ke manalah. Kaji-kaji dulu dong siapa orangnya: Dios Tandri! Setali marga dengan konglomerat tersohor di seantero kota, Demerick Tandri! Paling hanya sesisip-dua sisip dari perut tabungannya. Tinggal sebut, mau zamrud, jadeite, ruby atau sapphire? Bebas pilihlah! Terus apa, kepingin unik? Oke-oke, mungkin sepahatan patung granit berukirkan dirinya akan sanggup membuatnya berdegap batin?



Lagi apa? Paling tak terlupakan? Oh,
gee! Bagaimana mungkin wanita itu dapat melupakanku jika saban hari-bulan kulampiaskan burai hartaku ke tengadah tangannya?

“Gampang? Jangan petentengan! Tanpa aku terkesan, jangan harap kau dapat berlama-lama nyemak di ruangan tamuku! Titik!”

Alamak...!

***
“Heran, dari sekian banyak lelaki yang coba merayuku, kenapa hanya lelaki itu yang terdiam waktu kugertak?”

“Siapa? Dios maksudmu?”

“Bukan, bukan Dios. Tapi Dave...,” ujarku sembari melipat kerutan di dahi, “ia sama sekali tak berdebat denganku. Ia... terlihat pasrah.”

“Mungkin kau membuatnya terkejut.”

“Terkejut? Please deh, Ellisa! Aku baru—”

Please deh, Cellyne! Mengapa harus tiga?” sergah wanita itu.

“Hei, hei, kau tahu aku bukan jenis wanita kemaruk seperti itu. Aku hanya menguji mereka.”

“Menguji? Walau kau tahu tak satu pun yang akan kau luluskan?”

“Sebab mereka juga hanya bermain-main denganku. Kau tahu itu bukan? Semua lelaki di dunia ini adalah komodo!” dengusku ketus.

Aku mulai dijerang kesal. Sia-sia saja aku bersaring kisah dengannya. Sungguh, berteman berlarut tahun dengan Ellisa, tak membuat wanita itu senalar-senubuat denganku. Buktinya, selain gagasan tak ingin menikah cepat, tak satu pun arus nalar kami yang pernah berujung semuara. Konon lagi hendak bernubuat soal cinta? Jeez!

“Tidak! Ia bukan tipe pria melata seperti yang kau bayangkan! Tidak dengan Dave!”

“Kau tak bisa menebak apa pun, Ellisa!”

“Paling tidak bisa kau rasakan!”

Tidak...! Bisa...! Tidak...! Bisa...!

“Dasar otak cekak!”

“Dasar mulut perot!”

***
Tiga! Tiga kali sudah Ellisa berusaha menggedor terali hati Cellyne. Namun ampun, bukannya pulang meraup secercah kabar, keduanya malah terlibat baku tengkar. Aku maklum saja, sebab ini tergolong masih ringan. Teringat dulu, saat keduanya kecantol hati pada satu sosok yang sama, maka sengitnya pergesekan batin tak bisa dihindarkan. Untunglah, demi menyelamatkan simpul-kait pertemanan mereka, keduanya akhirnya bersepakat menebas benih kasih masing-masing. Walau diam-diam, pada suatu pejam malam, Ellisa menyungkurkan juga derik isaknya ke pelataran rumahku. Aih, wanita memanglah sejatinya wanita. Hati dan mata kerap bersilang rasa.

Kondisiku kini bahkan jauh lebih rumit. Bertarung melawan Dios yang merupakan pucuk mahkota dari gugus kerajaan “Tandri” adalah bagai pertaruhan pungguk dengan bulan. Belum lagi kandidat-kandidat teras asal keluarga bonafide lainnya. Alih-alih bertanding gaya dan kemewahan, merebut serongga bilik hati Cellyne bahkan lebih-lebih menyerupa sebentang harapan yang terjal.

“Sudahlah, Dave, lupakan saja,” nasihat Ellisa padaku.

Aku mengerti niat baik Ellisa. Ia hanya takut aku karam di kubang luka. Namun, bukankah cinta adalah jerat yang nikmat? Semakin kau terjerat, semakin kau giat hendak menggeliat. Maka memang, jika rahim takdir enggan kikir dan jabang nasib belum raib, biar sajalah kelana cintaku pergi ke mana ia dikayuh angin, atau disesap ombak, atau diayun-endapkan lautan; atau barangkali habis sekalian—gugur digarami kepedihan!

***
14 Februari 2013. Setahun pun berselang….

“Bagus! Bagus! Kau enak-enak liburan ke Maldives dan meninggalkanku berkarat sendiri di sini.” Suara wanita itu terdengar renyah dan bingar di telepon, walau koneksi yang tersambung adalah bertaraf roaming.

“Makanya, cepat-cepat kau gandeng pacar, Sa! Kalau tiga syarat terlalu banyak, cukup satu saja kau buat.”

“Lalu? Melarikan diri tepat di hari Valentine, seperti yang kau lakukan tahun lalu?”

Ops! Aku terpekur sejenak, lalu ikut memburaikan ledak tawa. Nian tak terasa, sudah genap setahun waktu menolehkan kenangan, meski terkadang, masih ada saja lelehan lamun yang gemar mencucuri cawan ingatan. Ya, tahun lalu, persis di Hari Valentine, aku memang sengaja mengungsi diri dari riuh-pikuk pernyataan gombal yang menurutku, hanya menghambur-hamburkan kalimat berpenghangat sesaat. Seperti halnya Dios-Dios berperangai boros yang hanya mampu memperlakukan cinta layaknya sebuah ajang timbang-tawar dagang. Oi, bukan tanggung pula gelimang kembang dan ruah hadiah yang bersimpuh di halaman rumahku. Mulai dari sejuntai kalung “Heart of The Kingdom Ruby” berlabel Garrard, sepasang buah anting Harry Winston, selingkar cincin bertoreh berlian dari Bvlgari, serta segerai gaun malam berhias korsase mawar biru besutan Vera Wang, hingga boneka Teddy berukuran jangkung! Dan yang paling menyesakkan mata adalah sejulang besar patung berkikirkan emas yang terpacak timpang di pojokan rumahku.

Tak seketip pun dari hadiah itu kusisihkan di “meja penghakiman”, melainkan kusodorkan seluruhnya kepada Ellisa. Maklum, waktu itu belum ada seulas kado pun dari lawan jenis yang memintas ke berandanya. Jadi kupikir, selain untuk mengipas-ngipas lengang hatinya, akan lebih menarik jika ia yang mengenakan jurai perhiasan itu. Eh, siapa tahu, terik pesonanya malah dapat mendulang jentik-siut dari lelaki.

Namun, kenyataan dan harapan malah bertolak jalan, ketika Ellisa dengan raut wajah mendung dan buram memaksaku menghabiskan sekerat surat yang ditinggalkan padanya. Surat itu tak bersampul, pun tak bertera nama, selain hanya menguraikan tiga bait miris yang menohok ulu batinku…

1. Paling mahal? Mungkin aku tak dapat menghadiahkanmu rantai-batu berkilau maupun logam cinta yang mewah, namun adakah yang lebih mahal dari waktu? Sebab hanya waktulah yang dapat mendasari sebuah cinta untuk setia dan dianggunkan sampai selama-lamanya masa.

2. Paling unik? Mungkin aku tak dapat memberimu kejutan yang hebat di Hari Valentine ini, namun adakah yang lebih mengesankan selain dari tabir-tabir batin yang terbuka dan mengangakan kejujuran jiwa? Saat kau mulai menyikapi cinta dengan cara mempelajarinya, maka cinta akan menunjukkan kepadamu rahasia-rahasia unik yang paling tak terduga.

3. Paling tak terlupakan? Mungkin aku tak dapat memaksamu untuk terus mengingatku, namun jika kau memberikan kesempatan kepada cinta untuk mewujudkan hal-hal yang mustahil, adakah yang lebih tak terlupakan selain sepilihan kenangan yang tercipta di hilir jejak kehidupan?


Aku berlinang keharuan. Hatiku pecah karang, melantakkan riak-riak kesedihan. Jujur, bertahun aku menuai umpan-rayu dari lelaki, belum ada sepijar pun upaya yang sanggup mengurai sekat rabun di hatiku. Tapi, surat ini pengecualian! Meski tanpa polesan materi, kilau guratnya mampu menyorot hingga hulu hati. Sejak itu barulah aku sebenarnya sadar, ternyata ujian terberat bagi cinta bukanlah luap uang, melainkan bibit waktu. Ya, sumpah, aku mulai paham akan segalanya, seperti halnya aku juga paham, dari mana gerangan muasal surat ini berpangkal. Pasalnya, menyimak latar pergaulan Ellisa yang jarang terusik hilir-mudik lelaki, siapa lagi sosok yang sanggup menyarangkan pinta pertolongan ke kepal hati Ellisa selain Dave?

“Apa juga kubilang! Ia tidak main-main, bukan?” goda Ellisa lagi di telepon.

“Ya. Kali ini aku mesti mengaku kalah darimu.”

“Makanya, kau juga jangan main-main dengannya. Barang mahal itu,” sindir Ellisa, disusul ringkik tawa khasnya. Aku sendiri juga tak kuasa mengeram pendar tawa. Apalagi nun jauh dari seberang pantai, kusaksikan sesosok menggemaskan tengah berjalan menyongsongku. Oih, pada seiris tipis bibirnya bahkan menggayut sekuntum senyum yang ranum. Senyum yang kemudian mampu membuat hatiku tegak untuk berseru pada Ellisa:

“Ya! Mahal, sekaligus langka!”

***
Tahukah kau, pertanyaan apa yang pertama sekali dilontarkan Cellyne kepadaku di telepon, sepulang dari rumah Ellisa, setahun silam?

Mengapa tidak kau sendiri saja yang mengantarkan surat itu kepadaku?”

Yap, pertanyaan yang jeli! Tapi sabar, jangan terburu menuduhku pecundang atau bernyali kerdil. Hanya, demi semata-mata menimbang kecepatan penyampaian pesan, aku musti memilih Ellisa, sebab hanya ia yang mampu memastikan Cellyne membaca surat itu. Lagi di luar sana, bukankah fakta sudah cukup mengajarkan, bahwa cinta kerap menjelma hampa hanya karena tak terbaca? Nah, aku tak ingin meniru kelalaian yang serupa. Itu sebabnya, aku ingin ia dapat membaca, mencerna, membedah sebanyak mungkin keterangan cintaku, agar kelak perjalanan hati ke hati tak lagi berjembatankan keraguan.

Nyatanya, kini kami telah saling yakin, saling pilin. Saling bersulang kasih di hadapan simpuh laut. Barangkali, inilah buah keberuntungan kami, bisa mendapatkan liburan gratis ke Maldives, hasil memenangkan perlombaan foto couple yang digelar sebuah majalah lokal. Tanda serasikah? Ah, betapa kau tak berdaya membantah!

Dengan tubuh kuyup sehabis digerayang buluh-buluh ombak, aku pun segera mendetapkan langkah ke arah Cellyne. “Mari, ikut aku.”

“Ikut? Boleh saja, tapi tiga syarat!” ujarnya sembari mengacungkan tiga jari saktinya.

Aku tersentak. “Apa itu?”

“Cium, peluk dan gendong,” pungkasnya, lantas melingkarkan kedua tangannya di gelang leherku. Aku tergelak.

Matahari hampir luruh dari penjerangan senja, pertanda langit mulai peram, menyahut titah malam. Semburat bara keemasan yang mencapai titik masak bagai mencipta tumpahan terik ke tungku laut. Samudera berkelambu cahaya! Sesekali kilaunya meluntur diayun denyut ombak. Nun mengawang di keremangan angkasa, mulai tersembul bercak putih pudar yang merona bak puting kejora. Udara berdengkur, berkesiur, meriapkan pinak-pinak rambut Cellyne yang bergerai ditiris angin. Di balik lindungan pundakku, ia masih memelukku, erat. Oh, adakah cinta kami sedang saling jerat?

“Kita mau ke mana?” bisiknya padaku.

“Lihat karang.”

Karang? Ya, karang! Tapi bukan sembarang karang, melainkan karang yang telah berguritkan sebait karangan manis. Bukan lagi berupa surat, tapi senyata wasiat. Wasiat hati yang bakal kekal bersemayam di kukuh karang...

Aku hanya ingin mencintaimu dengan rumus kekekalan yang paling sederhana,

di mana kau dan aku tidak terbagi dan tidak terpecahkan.

(Dave & Cellyne, 14-02-2013)

***
Eh, tunggu! Ini belum selesai. Sebagai teman restu Dave dan Cellyne, aku memang tak ingin banyak berulur kata. Pun tak bermaksud menyela potongan cerita. Tapi, sering mereka beranggapan akulah yang berwatak bongak, gerah hati dan gemar bersabung tekak dengan Cellyne. Kalau aku bilang ya, ia bilang tidak. Nah sekarang, mari kita buktikan, siapa coba yang akhirnya jadian dengan salah satu komodo paling langka di dunia? Hayo…?***

Medan, 11 Februari 2013


(Kisah ini kupersembahkan khusus sebagai kado kecup buat kekasih putihku yang menggemaskan. Selamat Hari Valentine, dan jujur, aku mencintaimu dengan segenap bulatan hatiku.)

* David Tandri, seorang romance-teller dan blogger aktif kelahiran Medan. Twitter: @davidtandri. Website: www.davidtandri.com.

TENTANG PENULIS >>>

DAVID TANDRI

Penulis muda dan blogger aktif kelahiran Medan, 01 Maret 1988. Menulis puisi dan prosa di berbagai media massa cetak dan online. Pernah memenangkan beberapa penghargaan menulis, baik di tingkat lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi "Menguak Tabir" (2012). Membaca dan fotografi adalah dua kegiatan yang dinikmatinya di sela-sela kesibukannya dalam berkarier. Kini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Facebook: David Tandri

Twitter: @davidtandri

Website: www.davidtandri.com